
Dira mengintip dari balik gorden kala mendengar suara mobil yang berhenti di depan pagar rumahnya.
"Dih Zara sama siapa tuh?" Dira bertanya pada dirinya sendiri.
"Emang benar-benar cewek murahan nih anak, tadi perginya sama Saipul sekarang pulang malah di antar Om-Om." gerutu Dira ketika matanya melihat seorang pria berumur yang keluar untuk mengantar Zara sampai masuk pagar.
Lalu begitu Zara masuk ke dalam rumah Dira pun langsung menyerangnya dengan kata-kata yang sangat pedas.
"Makin nggak bener aja kelakuan lu Zar!" sentak Dira ketika Zara baru selangkah masuk, membuat Zara menautkan alisnya.
"Kemarin berantem sama Dinda, dan sekarang pulang sama Om-Om, liatin aja bakal gue aduin ke Mamah." ancam Dira yang tentunya bukan sekedar ancaman karena ia akan dengan cepat melakukan hal itu.
"Apaan sih lu? nggak jelas." sungut Zara yang memilih untuk pergi dan tidak meladeni saudara tirinya itu.
"Liatian aja, Mamah pasti bakal usir elu dari sini! malu-maluin aja." teriak Dira ketika Zara sudah berada di lantai atas dan masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar Zara mengabaikan teriakan-teriakan dari saudara tirinya itu, ia tidak perduli dengan segala ancaman yang dilontarkan oleh Dira karena ia sudah sangat terbiasa dengan hal itu.
Zara menghembuskan napasnya berulang kali dengan tangan kanannya memegang HP.
__ADS_1
Ya malam ini ia akan langsung mencoba untuk berbicara dengan Davi.
Sebenarnya ini bukan cuma karena ingin membantu orang tua Davi semata tapi juga karena tadi Mamah Andini bilang bahwa Davi baru saja pergi padahal berada di rumah satu jam lamanya, tentu mendengar hal itu membuat Zara jadi penasaran pergi kemana Davi?.
Davi keluar rumah tanpa mengatakan apapun padanya padahal tadi sore lelaki itu menjemput dirinya, tapi kenapa tidak bilang juga? bukankah saat orang berpacaran salah satu dari mereka akan meminta ijin lebih dulu jika akan pergi atau ada urusan bukan? itulah yang ada dipikiran Zara saat ini, kenapa Davi tidak memberitahu dirinya jika akan keluar rumah.
Akhirnya Zara menekan nomor HP Davi dan menempelkan HP di telinganya menunggu Davi menjawab telepon darinya.
Sekian lama menunggu namun Davi tak juga kunjung menjawab panggilan telepon darinya.
"Lagi ngapain siih?" gumam Zara dengan wajah yang mulai kalut bercampur gemas.
"Jangan-jangan dia lagi balapan?" tebak Zara dengan wajah yang berubah menegang memikirkan Davi yang membawa motor dengan kecepatan sangat tinggi di tengah sorakan pemuda-pemudi teman nongkrongnya yang menjadi penonton sekaligus saksi seorang Davi yang menjadi joki handal yang selalu memenangkan balapan liar itu.
Sungguh hal itu makin membuat Zara khawatir, khawatir karena ia takut akan hal buruk yang tidak bisa diduga kapan datangnya.
Zara melihat jam lebih dulu, dan ketika merasa belum terlalu malam akhirnya ia putuskan untuk mendatangi danau yang kemarin.
"Mau kemana lagi Lo?" suara Dira langsung mengisi ruangan yang sedang di lewati oleh Zara.
__ADS_1
"Ada urusan sebentar." sahut Zara dengan tenang.
"Wah gila nih cewek, baru pulang udah mau pergi lagi, ck ck ck." Dira berkata sinis.
Zara yang tidak mau berdebat karena hal itu hanya membuang waktunya saja dan malah akan semakin malam nantinya.
Ia pun keluar dan menaiki ojek online yang sudah menunggunya di luar.
"Cepat ya Pak." pinta Zara pada pengendara ojek.
"Baik Neng." sahut si Bapak.
Tak lama motor itupun berhenti di tempat yang di tuju oleh Zara.
Setelah membayar ia pun langsung mencari keberadaan Davi diantara banyaknya pemuda yang sedang berkumpul.
Matanya mencari-cari dalam keremangan tempat itu yang entah kenapa sangat di gemari oleh para pasangan Anak muda untuk berkencan.
**************
__ADS_1