Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 37


__ADS_3

"Loh Davi mana Zar?" tanya Andini yang baru saja masuk ke ruang tamu seraya membawa nampan berisi minuman dan dua toples berisi cemilan.


"Nggak tahu Tante." sahut Zara dengan gelengan kepala karena sejak tadi memang Davi belum menemui dirinya.


"Gimana sih ini anak." keluh Andini sambil memindahkan minuman serta toples ke atas meja di bantu oleh Zara yang merasa sudah membuat repot dengan kedatangannya itu.


"Tante lihat dulu deh ke kamarnya, tadi sih dia lagi belajar." ucap Andini lalu melenggang menaiki tangga di dekat ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu.


Saat Andini menghilang muncullah dua gadis yang wajahnya mirip menghampiri Zara.


"Kakak temannya Abang ya?" Anaya yang memang bawel tanpa basa-basi mengajukan pertanyaan pada Zara yang tersenyum memandangi dua gadis cantik yang wajahnya hampir mirip dengan Davi.


"Iya." sahut Zara ramah.


"Kakak namanya siapa?" kali ini Inaya gantian melontarkan pertanyaan seraya menaiki sofa dan mendudukinya diikuti oleh Anaya.


"Zara." Zara dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis kembar di depannya itu.


"Nama kakak bagus." seru Anaya dan Inaya berbarengan.


"Kalau nama kalian siapa?" tanya Zara yang memang belum mengenal nama kedua Adik dari Davi itu.


"Aku Anaya." sahut Anaya dengan cengirannya yang sangat sumringah.


"Aku Inaya." Inaya tak mau kalah menyebutkan namanya.


"Nama kalian juga bagus, cocok sama kalian yang cantik-cantik." puji Zara yang membuat kedua gadis kembar itu tersipu malu mendapatkan pujian dari seorang wanita yang baru mereka kenal.


"Kalian sudah sekolah?" tanya Zara melihat Inaya dan Anaya bergantian.


"Sudah Kak." mereka kompak menjawab.


"Sudah kelas 3." sambung mereka lagi.


"Wah hebat." puji Zara, sungguh Zara merasa senang bisa mengenal kedua gadis kembar ini apalagi gadis-gadis kecil ini langsung bisa akrab dengannya seperti sekarang mereka tengah bercanda dan tertawa entah mentertawakan apa bahkan sampai tidak sadar bahwa Davi sudah berdiri di tangga yang dan memperhatikan apa yang mereka lakukan di ruang tamu itu.

__ADS_1


Davi sebenarnya enggan untuk menemui Zara makanya sejak tadi dia tidak turun, tapi sang Mamah malah kembali mendatangi dirinya dan memaksanya untuk menemui gadis yang beberapa hari ini dia gantung tanpa kejelasan bahkan dia dengan teganya memblok nomor gadis itu agar tidak bisa menghubunginya lagi, namun tanpa di sangka gadis itu justru datang ke rumahnya dan sekarang malah sedang bercanda dengan Adik kembarnya di ruang tamu.


"Temuin sebentar Nak, kasihan Zara dari tadi nungguin kamu." Andini berbicara lembut pada Davi yang masih berdiri di tangga memperhatikan Zara dan kedua Adiknya.


Davi menarik napas panjang dan mengeluarkannya sebelum menuruti perkataan Mamahnya itu untuk menemui Zara.


"Ana Ina, makannya sudah selesai belum?" seru Andini memanggil kedua anaknya yang memang tadi sedang makan namun ketika baru saja di tinggal sebentar sudah menghilang dan ketika dicari rupanya ada bersama Zara dan malah asik bercanda.


"Hehe, belum Mah." sahut mereka serentak menoleh ke arah sang Mamah begitu juga dengan Zara yang melihat ke tempat dimana Andini muncul dan jantung Zara langsung berdebar kencang kala di belakang tubuh Andini matanya melihat lelaki yang ia cari beberapa hari ini.


"Ayo lanjutkan makannya dulu." kata Andini mengajak kedua anak kembar itu untuk pergi meninggalkan Zara.


"Kak Zara nanti kita lanjut lagi yah." celoteh Anaya dari ambang pintu yang lantas disenyumi oleh Zara.


Setelah Mamahnya membawa si kembar masuk Davi pun menuruni tangga yang tinggal satu untuk menuju ke tempat seorang gadis yang sejak tadi menunggunya.


Davi duduk di sofa seberang Zara dengan mulut yang diam saja, bahkan seolah tidak mau menanyakan bagaimana kabar gadis di depannya itu selama beberapa hari ini.


"Dav." Zara memberanikan diri untuk mulai berbicara lebih dulu namun pemuda di depannya itu tidak menjawab.


"Kemana saja beberapa hari ini?" Zara mulai bertanya.


Davi mengedikkan bahunya saja untuk menjawab pertanyaan dari Zara.


"Kenapa kamu blokir nomor aku?" kali ini mengajukan pertanyaan selanjutnya meski Zara yakin tidak akan mendapatkan jawaban sama seperti yang pertama.


"Kamu marah sama aku?" untuk ketiga kalinya Zara bertanya namun yang ketiga kalinya ini Davi memberikan jawaban.


"Tidak." jawab Davi singkat.


"Lalu kenapa kamu seperti menghindari aku?"


"Karena memang seharusnya seperti itu." ucap Davi.


"Maksud kamu?" Zara mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Davi.

__ADS_1


Davi membuang napas kasar.


"Kita tidak perlu berhubungan lagi." pernyataan Davi seketika saja membuat jantung Zara bergemuruh dengan aliran dan yang mengalir sangat cepat, Zara terkejut mendengarnya.


Zara menggeleng tak mau mengerti meski ia sebenarnya cukup paham dengan maksud pernyataan Davi barusan.


"Tidak berhubungan a apa?" Zara tergagap dengan bibir yang bergetar.


"Kita putus, kamu tidak usah cari aku lagi." Davi semakin menegaskan apa yang dia katakan tadi.


Kepala Zara menggeleng lambat tidak mau terima dengan ucapan Davi.


"Kenapa tiba-tiba kamu kayak gini? kamu marah sama aku karena rekaman itu? kalau iya karena itu, aku minta maaf sama kamu Dav, tapi please jangan kayak gini." lirih Zara dengan raut wajah yang begitu sendu.


"Bukan karena itu." sahut Davi.


"Aku tidak peduli kamu mau berciuman dengan siapapun." kata Davi dingin tanpa melihat wajah Zara yang layak untuk dikasihani.


Sungguh sebenarnya hati Davi pun merasa tidak tega melihat Zara seperti itu, tapi dia merasa tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Zara terlebih lagi hubungan yang awalnya hanya karena dia ingin membuat seseorang patah hati.


Dan sekarang setelah kejadian di lapangan basket beberapa hari yang lalu hati Davi merasa tidak tega apalagi melihat Zara menangis dengan perbuatannya, dan semenjak hari itu Davi ingin melupakan segala kesal dan marahnya terhadap Ipul.


Dia memilih untuk membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa dia juga bisa dibanggakan seperti layaknya Ipul.


Hati Zara makin teriris mendengar betapa Davi tidak peduli apapun tentangnya.


"Aku sayang kamu Dav." Zara berkata pelan.


"Tapi aku tidak." tiga kata dari Davi sukses membuat air mata Zara berjatuhan memenuhi wajahnya.


Zara menangis mengetahui Davi dengan entengnya menjawab tidak memiliki rasa sayang seperti yang Zara rasakan.


"Mulai hari ini jangan pernah cari aku lagi." pungkas Davi seraya beranjak bangun dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Zara yang beruraian air mata.


***************

__ADS_1


__ADS_2