Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 175


__ADS_3

"Kenapa mereka meninggalkan ku bersama makhluk buas seperti ini!" seru Zara kala mendapati rumah sudah tidak ada siapapun.


Tadi saat Davi akhirnya membiarkan ia keluar kamar pada pukul 13:23 ia terlihat bingung karena seolah rumah itu tidak ada kehidupan, benar-benar sepi! bahkan setelah ia memanggil semua anggota keluarga tak ada satupun yang menjawab lalu Davi dengan santainya menunjukkan pesan dari sang Ibu mertua dari Handphonenya membuat kepala Zara mendadak berputar pening.


Ya! Hanya tinggal ia dan suami tak berperikemanusiaan yang kini malah terkekeh senang tahu orang tua serta Adiknya tak ada di rumah.


"Sepertinya mereka membiarkan kita untuk bersenang-senang," tutur Davi dengan tingkah agresifnya, memeluk pinggang sang istri lalu menghirup wangi sabun dari tubuh wanita itu yang memang baru selesai mandi sebelum keluar dari kamar.


"Bukan kita, hanya kamu! hanya kamu yang bersenang-senang Daviandra Arrayan!"


Seruan Zara malah membuat Davi makin membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri tercinta.


"Aku lapar Davi aku lapar, anakmu juga sudah sangat lapar," rengek Zara ketika Davi sudah mulai tak bisa diam.


Davi mengangkat wajahnya lalu berucap, "baiklah kita akan makan dulu."


"Haaah, makan dulu? jangan katakan setelah makan.." Zara tampak tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.


Dan Davi yang memainkan kedua alisnya naik turun membuat Zara mendadak sangat lemas.


"Kasihanilah aku wahai suamiku, lihat jalanku sudah seperti ini," lirih Zara sambil menunjukkan jalannya yang agaknya.. sedikit berbeda dari kemarin datang.


"Ah istriku sangat menggemaskan," Davi malah senang hati melihat tingkah Zara yang sekarang tengah cemberut, memajukan bibirnya yang sejak semalam bahkan satu jam yang lalu tak luput menjadi salah satu sasarannya.


"Dasar tidak punya hati!" seru Zara ketika usahanya untuk membuat Davi iba dan membatalkan semua pikiran tentang bercinta terlihat tidak akan berhasil.


"Hatiku sudah aku berikan semuanya padamu, jadi mana mungkin aku punya hati lagi," sahut Davi seenaknya mengabaikan lirikan mata Zara yang teramat tajam.


Pria itu tidak peduli karena baginya sekarang adalah istri dan anaknya sudah kembali dia tidak akan membiarkan mereka jauh dari jangkauan matanya untuk yang kedua kalinya, akan repot jika istrinya itu kembali berulah menghebohkan seperti dua Minggu lalu.


****


"Aku sangat bahagia mengetahui bahwa Zara tidak naik dalam pesawat itu," Riska tengah mengobrol dengan Andini yang datang ke rumahnya.


Semalam dia sangat terkejut ketika ada yang mengetuk pintu rumahnya dan ternyata sang anak yang datang tanpa memberitahu dirinya, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah tentang alasan kenapa anaknya itu pulang tanpa mengatakan apapun padanya, Zara! iya Ipul sudah bercerita semuanya dari awal Zara datang ke negara tempat anaknya berada.


"Aku tidak pernah tahu sekacau apa dan sehancur apa dia saat itu setelah mengetahui apa yang suaminya lakukan, beruntung dia menghubungi Ipul jika tidak aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan menantuku lakukan," ujar Andini membayangkan apa yang menantunya rasakan.


Dia yang Ibu dari Davi saja merasakan sakit serta kecewa saat mengetahui anaknya tidur dengan wanita lain, marah dan kecewa bercampur jadi satu membuat Andini bahkan tak sanggup berkata apa-apa lagi pada anaknya sendiri, hanya bisa menangis kecewa.


"Beruntung Zara wanita yang sangat kuat, dia tidak berpikiran pendek," sambung Riska yang diangguki oleh Andini.


Benar! menantunya itu wanita yang kuat bahkan sangat kuat hingga mampu meladeni keberingasan anaknya sepanjang malam bahkan sampai siang ini, mungkin?


Karena tadi saat ia dan suaminya membawa si kembar sempat terdengar suara dari dalam kamar yang membuat ia bergidik merinding kala tak sengaja melewati kamar putranya, dalam sekejap ia menyesal karena harus memanggil kedua gadis kembarnya yang sedang berdandan, dua ABG itu sedang dalam masa puber tentunya tidak akan mau keluar dari rumah sebelum mengulaskan make up di wajah mereka meski hanya sekedar bedak bayi dan juga pelembab bibir yang mereka gunakan.


"Kak, kapan-kapan Anaya ajak ke Inggris dong."


Sepertinya si kembar sedang mengganggu Ipul di kamarnya, mengganggu pria yang masih bergelung dengan selimut karena tubuhnya yang lelah serta tangannya yang jadi kram setelah menjadi petinju dadakan.


"Kalian nih bawel banget ya?" omel Ipul memutar posisi miring lalu menutup telinganya dengan bantal, ini memang sudah sangat siang tapi tolonglah biarkan dia tidur lagi, tapi keinginannya itu tidak bisa terpenuhi karena sekarang dua ABG kembar malah terus mengoceh sambil bercanda.


"Eh An, kamu kenal nggak sama si Fera?" sepertinya Inaya akan mengajak Anaya bergosip.


Dan itu menjadi sebuah kebenaran kala Anaya menjawab kenal, lalu gosip remaja itu mulai mengalir dengan sangat lancar membicarakan Fera yang mungkin teman satu sekolah mereka dan tentunya tidak Ipul kenal.


Bergosip sambil sesekali tertawa dan tawa keduanya membuat telinga Ipul menjadi sangat gatal dan tak tahan untuk mengomel.


"Bisa diam nggak sih? Kakak lagi tidur kalau mau ngegosip di luar aja sana kenapa meski pada ke kamar Kakak sih!" seru Ipul dengan ujung bibirnya yang berkedut tak tahan juga rupanya dia dengan suara cempreng Adik sepupunya.

__ADS_1


"Yeeeuh lagian Kakak udah siang bukannya bangun," Anaya malah balik mengomeli.


"Lah Kakak mau tidur mau jungkir balik mau apa kek suka-suka Kakak! lagian kalian ngapain kesini punya rumah sendiri juga!" ketus Ipul lebih nyolot.


"Kata Ayah di rumah lagi ada perang jadi kita di ajak ngungsi disini," sahut Inaya dengan bola mata melebar.


"Perang? siapa yang perang!?" tanya Ipul penasaran, pria itu berangsur duduk dengan cepat.


"Abang sama Kak Zara," Anaya mewakili Inaya menjawab.


"Perang? mereka berantem?" dalam sekejap Ipul menjadi khawatir serta bingung yang bersamaan kalau Davi dan Zara bertengkar lalu kenapa Om Tante serta kedua anaknya malah mengungsi ke rumahnya, bukankah seharusnya mereka melerai?


Ah kacau! "bicara dengan kalian malah membuat Kakak kesal!" dengus Ipul lalu meloncat dari ranjang saat kedua gadis itu malah saling melihat bukannya menjawab pertanyaan darinya.


Ipul berlari secepat kilat menuju lantai bawah derap kakinya yang berlari bahkan membuat keempat orang yang sedang berbicara melihat padanya.


Wajah panik Ipul membuat Riska bertanya, "kamu kenapa Pul?"


Ipul mengatur napasnya lebih dulu sebelum memberikan jawaban atau malah sebaliknya, bertanya?


"Abang sama Zara bertengkar?"


"Bertengkar? kapan? sekarang?" Arman kebingungan padahal setahunya saat mereka meninggalkan rumah tidak ada tanda-tanda seperti yang Ipul tanyakan.


"Kata Anaya dan Inaya, makanya Om dan Tante bawa mereka kesini, kalau mereka bertengkar kenapa malah Om tinggal, Zara lagi hamil Om Ipul takut Abang berbuat macam-macam!" Ipul terlihat marah serta kecewa pada Om serta Tantenya.


"Kenapa kalian malah tersenyum?!" makin kesal saat Om dan Tantenya itu saling melempar senyum, Ipul pun melihat pada orang tuanya yang juga tengah melakukan hal yang sama.


Daripada kesalahpahaman makin menjadi akhirnya Arman memilih menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.



"Dasar tukang gosip!" dengus Ipul ditujukan untuk si kembar seraya kembali masuk ke dalam kamarnya.




"Hihihi," sepertinya keduanya tidak mendengar apa yang Ipul katakan hingga masih saja tetap melanjutkan gosip mereka dan sekarang malah sambil terkikik mentertawakan sesuatu.



"Keluaaaaarrrrrr!" teriak Ipul membuat keduanya kaget dan duduk dengan wajah melongo.



"Kakak mau tidur lagi," kata Ipul mengibaskan selimut mengusir dua remaja itu.



"Kita keluar tapi Kakak janji dulu." sekarang Anaya malah melakukan tawar menawar.



"Bodo amat nggak peduli."



"Ya sudah kalau gitu kita nggak akan keluar ya Inaya," mengajak Inaya menyetujui omongannya dan Inaya pun mengangguk.

__ADS_1



"Bocah bawel! Ya udah apa?" Ipul semakin gemas dan tak sabar.



"Kapan-kapan ajak kita ke Inggris."



"Hah, mau ngapain kalian?" Ipul melongo tak di sangka dua remaja ini sangat ingin pergi ke Inggris.



"Mau cari cowok bule, bosen sama yang lokal," sahut Anaya genit.



"Dasar ganjen!" sentak Ipul, "kalau mau cari bule ikut saja sama Abang kalian sana di Australia juga banyak bule," sambung Ipul sinis.



"Abang udah nggak balik lagi ke Australia," sahut Anaya dengan bibirnya yang mengerucut.



"Lagian biarpun Abang balik lagi ke Australia juga nggak bakal mau ajak kita ke sana," cerocos Inaya menimpali omongan saudarinya.



Ipul menyeringai, "Abang kalian aja nggak mau ngajak kalian apalagi Kakak, oh tidak bisa," sahut Ipul dengan nada meledek, Ipul tahu benar seperti apa pergaulan di sana sangat tidak cocok untuk gadis remaja labil seperti sepupunya ini.



"Ish, Abang sama Kakak sama aja nyebelin nya!" kompak Anaya dan Inaya bersuara protes.



"Bodo amat, udah sana kalian keluar," usir Ipul yang mau tak mau di turuti oleh si kembar.



"Tutup pintunya!" teriak Ipul.



Bruk!



Pintu di tutup dengan sangat kencang hingga menimbulkan hingga pajangan di dinding pun bergetar.



"Dasar bocil," sungut Ipul lalu kembali menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut, tapi kemudia membuka lagi selimut itu dan meraih remote AC di meja mengatur suhu AC agar menjadi semakin dingin.



Sesaat kemudian sudah kembali terdengar dengkuran halus dari pria yang berada di dalam selimut dengan bibirnya yang melengkungkan senyum sepertinya pria ini sedang bermimpi indah.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2