Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 30


__ADS_3

Pagi hari..


"Davi bangun nak sudah siang." terdengar suara sang Mamah memanggil Davi yang bahkan menggerakkan tubuhnya saja pun tidak, apalagi membuka matanya rasanya tak mungkin pemuda itu akan cepat bangun terlebih semalam dia habis mabuk dan tak sadarkan diri sudah sangat tentu pagi inipun pemuda itu akan sulit untuk dibangunkan.


Andini pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar anaknya yang memang tidak di kunci.


Wanita itu menarik napas panjang saat mendapati sang anak masih bergelung di dalam selimut karena dingin akibat AC kamar yang masih menyala.


"Davi banguuun." akhirnya berteriak di depan telinga anaknya itu.


"5menit lagi Mah." malah minta waktu 5menit untuk bisa tidur lagi sebelum benar-benar bangun dari tidur.


"Sudah siang! cepat bangun Davi! kamu sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan lulus sekolah, belajarlah yang giat agar kamu bisa masuk ke universitas yang sudah Ayah dan Mamah pilihkan untuk kamu." pekik Andini.


"Tapi kepala Davi pusing Mah." keluhnya seraya memegang kepalanya yang terasa sangat berat.


"Bagaimana kamu tidak pusing kalau semalam kamu itu mabuk!!" suara sang Mamah mulai menggema di dalam kamar yang gordennya pun masih belum di buka agar sinar matahari bisa masuk.


"Beruntung ada Zara yang mengantarkan kamu pulang, bagaimana jika tidak ada Zara? apakah teman-teman kamu itu mau mengantarkan kamu? datang ke rumah ini saja mereka tidak berani" omel Andini yang membuat Davi tersentak kaget karena sang Mamah menyebut-nyebut Zara.


Ya terang saja teman-teman Davi tidak ada yang berani datang ke rumah temannya itu, apalagi masalahnya kalau bukan karena mereka takut kepada Ayahnya Davi yang baru mendengar suara motor mereka saja sudah langsung mencegat di depan pagar dan memarahi mereka satu persatu, hingga sampai sekarang tak ada satupun dari teman Davi yang berani menginjakkan kaki di rumah sang teman.


"Mamah kenal sama Zara?" tanya Davi dengan ekspresi yang begitu terkejut, dia tidak merasa pernah mengenalkan Zara kepada Mamahnya itu dan lagipula dia juga tidak ingat bahwa Zara lah yang semalam telah mengantarkan dirinya.


"Mamah kenal." sahut sang Mamah enteng.


"Kenal di mana?" usut Davi dengan mata yang memicing.


"Ipul, Saipul yang kasih tahu Mamah kalau kamu punya pacar." sahut Andini cepat seraya menarik selimut yang di pakai oleh anaknya lalu segera melipatnya.


"Cepat mandi sana, sudah kesiangan kamu." perintah sang Mamah dengan mata yang mendelik.


"Habis mandi langsung turun, karena ada yang mau Mamah bicarakan." titah Mamahnya itu sambil melenggang pergi meninggalkan sang anak yang masih mengurut keningnya karena pusing yang teramat sangat.


"Di antar Zara?" menggumam karena masih memikirkan perkataan Mamahnya barusan.

__ADS_1


Bukannya bergegas untuk mandi pemuda itu malah mencari-cari HPnya di saku jaket yang semalam dia pakai.


Setelah ketemu Davi pun lantas menghubungi Ari untuk bertanya tentang Zara.


"Halo Ri." seru Davi kala teleponnya terhubung.


"Woi Vi kok lu belum sampai? kena hajar lagi?" celoteh Ari yang mengira Davi di hajar oleh Ayahnya karena pulang dalam keadaan mabuk.


"Ck, nggak kesiangan gue." tukas Davi.


"Ada yang mau gue tanyain sama elu Ri." ujar Davi cepat.


"Apa?" tanya Ari yang menunggu pertanyaan apa yang ingin ditanyakan oleh temannya itu.


"Semalam yang nganter gue pulang siapa?"


"Cewek lu." Ari menjawab enteng karena memang itulah yang dia ketahui.


"Cewek gue? Zara?" Davi bertanya konyol dan malah membuat Ari kebingungan.


"Berarti semalam Zara ke tempat nongkrong?" wajah Davi masih saja tidak percaya padahal semalam bahkan dia terus saja memanggil Zara dengan sebutan sayang yang tidak pernah dia lakukan selama berpacaran dengan Zara beberapa hari ini.


"Iyaa, dan untungnya si Zara itu Dateng, kalau saja cewek lu itu nggak Dateng mungkin sekarang lu bakal di kejar-kejar sama mantan lu itu buat dimintain pertanggung jawaban." lapor Ari tentang kejadian semalam yang hampir saja menghancurkan masa depannya sendiri.


Mendengar itu Davi pun hanya diam saja sebab dia tahu siapa mantan yang di maksud oleh Ari saat ini, sudah pasti Dinda, siapa lagi mantannya yang masih sering mengikutinya hingga ke tempat nongkrongnya segala kalau bukan wanita itu.


"Udahlah cepat lu ke sini, udah mau masuk ini." seru Ari memberitahu Davi.


"Iya, iya gue mandi dulu." jawab Davi.


"Astagaaaa, belum mandi, ckckckck." Ari terpekik kaget mengetahui Davi bahkan belum mandi.


Telepon mereka pun berakhir karena Davi yang harus segera bersiap-siap.


Davi tengah menuruni anak tangga langsung menuju ke garasi untuk mengeluarkan motornya, tapi saat di garasi dia tidak mendapati benda roda dua yang biasa dia naiki itu.

__ADS_1


"Mamaah." langsung berteriak memanggil sang Mamah.


"Kenapa? loh kamu sudah rapi kok nggak ke meja makan? kan tadi Mamah bilang ada yang mau dibicarakan." kata Andini ketika melihat anaknya sudah memakai seragam sekolah.


"Nanti aja Mah, pulang sekolah ngomongnya, Davi udah terlambat soalnya."


"Terus ngapain manggil Mamah?!" kesal Mamahnya itu.


"Motor Davi mana?" tanya Davi pada sang Mamah yang tidak tahu apa-apa tentang motor anaknya itu.


"Mana Mamah tahu, kamu tanya Zara aja soalnya semalam dia antar kamu naik taksi." sahut sang Mamah seraya kembali pergi masuk ke dalam rumah karena di tengah mengurusi dua Adik kembar Davi yang juga akan pergi sekolah.


"Zara lagi, Zara lagi." gumam Davi seakan tidak suka nama Zara terus saja mengisi telinganya.


Wanita yang dia dekati hanya karena wanita itu dekat dengan Saipul perlahan sudah mulai memasuki lingkungan teman dan keluarganya juga.


Dia pun menghubungi Zara guna menanyakan motornya, namun ketika baru berbunyi sekali Davi malah mematikan teleponnya sebelum di jawab oleh Zara.


"Paling juga sama Rian." tebak Davi.


"Mah, Davi berangkat." teriak Davi dan langsung bergegas keluar rumah, dia tahu Ayahnya sudah berangkat ke kantor jadi dia bisa dengan bebas berteriakan menyebut sang Mamah.


Sangat berbeda jika ada sang Ayah, tentu dia tidak akan bisa melakukan hal itu, dia yang sebenarnya begitu manja pada sang Mamah di paksa keadaan untuk bersikap seperti berandalan dan pembuat masalah karena tidak suka di minta untuk selalu menjadi seperti Saipul, menjadi anak baik dan penurut yang sebenarnya dulu juga dia seperti itu.


Namun hanya karena saat ulangan nilainya lebih kecil dari Adik sepupunya itu yang akhirnya membuat dia menjadi seperti sekarang, padahal berulang kali dia sudah menjelaskan bahwa pelajarannya dan Ipul berbeda karena Davi yang saat itu kelas 2 dan Ipul baru kelas 1 SMP.


Tapi Ayahnya tidak mau mengerti dan malah semakin menjadi membanding-bandingkan dirinya dengan Saipul yang notabene satu tahun lebih muda darinya.


Kesal? tentu itulah yang dirasakan oleh Davi tentang betapa egoisnya seorang Ayah yang tidak mau mengerti keadaan anaknya sendiri.


Seraya kembali menghubungi temanya untuk menanyakan motor miliknya Davi berjalan keluar pagar rumahnya.


Terpaksa hari ini Davi memilih untuk menaiki ojek saja meskipun di rumahnya ada mobil beserta sopirnya namun dia tidak pernah sekalipun memanfaatkannya untuk pergi ke sekolah.


*******************

__ADS_1


__ADS_2