
"Jangan pernah melakukan ini lagi!" tegas Davi sambil mengobati telapak tangan Zara yang untuk sekian kalinya terluka karena karena Zara selalu mengepalkan kedua tangannya ketika semua ketakutan yang wanita itu rasakan ketika bertemu dengan pria lain selain suaminya.
Saat ini Davi tengah mengajak Zara keluar dari apartemen berniat sedikit membantunya agar bisa lebih tenang bila bertemu dengan orang lain sebelum istrinya itu melakukan konsultasi guna mengatasi semua bayangan kejadian belum lama ini agar sang istri bisa melupakan semua itu dan kembali menjadi Zara nya yang dahulu.
Tadinya Davi berpikir kalau rencananya ini berhasil sebab saat bertemu dengan pria ataupun berada di keramaian Zara tidak melakukan tindakan yang aneh seperti yang wanita itu lakukan saat mereka berada di area perbelanjaan tempo hari, tapi nyatanya diam-diam wanita itu menyembunyikan semua ketakutannya dan melampiaskan dengan meremas tangannya sendiri hingga terluka seperti ini.
"Jika kamu merasa takut lebih baik lampiaskan semuanya padaku," pinta Davi seraya terus meniup tangan Zara ketika selesai dia beri salep.
Zara tak menjawab sebab wanita itu hanya asik menikmati air mancur besar tak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
"Kenapa aku baru tahu ada tempat seindah ini? padahal sudah beberapa kali aku mendatangi negara ini," tutur Zara mengingat dulu ia selalu singgah beberapa hari di negara ini ketika ia masih menjadi seorang pramugari.
Pandangan wanita itu tak juga lepas dari air mancur yang terlihat begitu indah dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip semakin memperlihatkan bagaimana sempurnanya ciptaan tangan manusia di depan matanya itu.
"Aku rindu pekerjaanku," kata Zara akhirnya sambil memutar kepalanya melihat pada sang suami.
"Bagaimana jika aku kembali bekerja?"
Dan pertanyaan Zara kali ini membuat Davi bingung harus menjawab apa, sekarang istrinya itu malah membicarakan ingin kembali bekerja, tampak jelas pertanyaan yang sang istri ajukan bukan hanya sekedar pertanyaan namun meminta jawaban yang jelas Davi tidak akan mengijinkannya.
Tatapan Zara sudah sangat begitu menunggu jawaban dari sang suami, menunggu dengan tak sabar sampai wanita itupun kembali mengulangi pertanyaannya.
"Bagaimana? apa boleh aku kembali bekerja?" tanyanya kali ini dengan alis yang terangkat.
__ADS_1
"Ini sudah malam, ayo kita pulang," ajak Davi menghindar untuk memberikan jawaban yang tentunya tidak akan Zara terima, karena pria itu tahu wanitanya ini tidak akan mau mengerti dengan jawaban tidak yang akan dia berikan.
"Mas belum menjawab pertanyaan ku," desak Zara tak mengikuti Davi yang sudah beranjak dari duduknya.
"Kita bicarakan nanti setelah keadaanmu membaik, kamu sudah berjanji padaku, ayo!" ajak Davi seraya menarik lengan Zara.
"Bagaimana jika aku tidak pernah bisa membaik?" tanya Zara dengan tetap tidak bergeming dari tempatnya duduk.
"Apa kamu akan tetap bekerja dengan keadaanmu yang seperti itu? apa kamu tidak akan mengacaukan pekerjaan dan menyusahkan orang lain jika sewaktu-waktu trauma mu muncul ketika harus berhadapan dengan pria lain? apa kamu yakin tidak akan mencelakakan dirimu dan juga orang lain? kamu tidak bisa berbuat sesukamu tanpa memikirkan orang lain Za! jadi berhenti meminta hal yang tidak akan aku turuti!" tolak Davi dengan suara beratnya namun terdengar sangat tegas penuh penekanan di setiap perkataannya.
"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Zara dengan suara yang menggumam, akan tetapi Davi yang berdiri di dekatnya bisa mendengar dengan jelas.
"Aku percaya padamu, tapi aku tidak bisa percaya dengan kegilaan yang bisa saja muncul tiba-tiba dari dirimu!" bentak Davi yang sepertinya sudah tidak bisa mengontrol perkataannya.
"Sekarang pun kamu mulai menganggap aku gila," tutur Zara menahan sakit di dalam hatinya.
Davi yang baru menyadari apa yang tadi tak sengaja dia ucapkan pun menjadi sangat panik.
"Bukan itu maksudku Za, bukan!" pria itu pun kembali duduk di samping Zara lalu memegang pundak Zara yang mulai bergetar.
"Aku gila?"
__ADS_1
Davi menggeleng, "tidak!" jawabnya tegas, "aku hanya salah bicara karena aku tidak mau kamu kembali bekerja, kita masih harus fokus dengan kesehatanmu dan juga rumah tangga kita, bukankah kamu sendiri yang mengatakan ingin menjalani rumah tangga seperti yang orang lain jalankan? kamu ingin mengantar aku sampai ke pintu saat aku pergi bekerja, itu kan yang kamu mau? lalu kenapa sekarang kamu malah mengatakan ingin kembali bekerja, aku tidak mau Za, tidak akan memberikanmu ijin!" ultimatum Davi pada sang istri.
"Lebih baik kita pulang sekarang, kamu harus istirahat," ajak Davi sambil menuntun Zara yang tidak mengatakan apapun lagi.
Di dalam mobil Zara menatap kendaraan yang berada di depan mereka, menatap dengan tatapan yang kosong.
"Aku akan segera membuat janji dengan psikolog," kata Davi mengelus rambut Zara.
Sungguh pria itu merasa benar-benar tidak mengerti, Zara sering kali berubah-ubah, kemarin wanita itu sudah sangat menurut dengan permintaannya untuk segera menangani trauma yang wanita itu alami, tapi barusan wanita itu malah mengajaknya berdebat dengan permintaan yang terang-terangan tidak akan dia wujudkan hingga akhirnya Davi malah jadi kelepasan bicara.
Davi memejamkan matanya seraya menghembuskan napas sebelum akhirnya kembali fokus pada kemudi mobil yang tengah melaju di jalanan kota yang langitnya menjadi sangat gelap sebab tak ada bintang maupun bulan dengan angin yang berhembus sangat kencang menandakan akan segera turun hujan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*