
Davi yang baru keluar dari kamar mandi gegas mengambil HPnya yang bergetar di atas meja.
Dia langsung membuka pesan yang di kirimkan oleh Arda teman nongkrongnya.
"Ini cewek lu kan?" tanya Arda dengan sebuah foto yang dia kirimkan.
Foto Zara dan Ipul dengan Zara yang tengah mencubit pipi Ipul terpampang jelas di mata Davi.
"Yang cewek baru aja bilang kalau nggak mau putus, dan yang cowok baru aja mukulin gue karena sok jadi pahlawan yang membela temannya." Davi menggumam mengingat apa yang terjadi padanya hari ini.
Davi mengacuhkan pertanyaan Arda karena dia sibuk memperhatikan raut wajah Zara yang terlihat bahagia, ekspresi gadis itu bahkan sangat berbeda jauh ketika berhadapan dengannya tadi sore membuat Davi kesal.
"Tadi bilang A sekarang bilang B, cocok emang kalian berdua." ucap Davi seraya mencampakkan HPnya ke atas ranjang.
"Davi makan malam dulu." seru Andini dari lantai bawah.
"Iya Mah sebentar." sahut Davi yang tengah memakai kaosnya lalu beranjak turun.
"Itu muka kamu kenapa?" Andini kaget ketika melihat wajah anaknya yang membiru, tentunya bekas tinjuan dari Ipul tadi.
Arman yang baru akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya jadi terhenti dan melihat wajah sang anak.
"Berantem sama siapa sekarang?" usut Arman yang langsung menuduh Davi berbuat ulah seperti yang sudah sering anaknya itu lakukan.
"Jatuh di kamar mandi." bohong Davi.
"Ayah selalu saja main tuduh." protes Andini kepada sang suami.
"Biasanya kan kayak gitu, tiap wajahnya bonyok pasti ada orang yang habis dia pukulin." tutur Arman yang kerap kali mendapat laporan bahwa anaknya itu sering bertindak brutal jika ada orang yang memancingnya.
"Sudah, sudah kok malah jadi ngomongin berantem-berantem segala." lerai Andini sambil menyendokan nasi ke piring anak lelakinya itu.
__ADS_1
"Ayah, tadi kan Kak Ipul ke sini?" lapor Anaya dengan mulutnya yang penuh berisi makanan.
Arman mengerutkan dahinya merasa terkejut mendengar keponakannya datang berkunjung setelah sekian lama tidak mendatangi rumahnya.
"Ngapain? Mamah kok nggak bilang sama Ayah." tanya Arman pada sang istri yang duduk di samping Inaya.
"Cari Davi, itu udah di wakilin sama Anaya." tutur Andini tenang.
Mengingat Ipul kedua mata Andini langsung berputar-putar lalu melirik anak lelakinya yang sekarang sibuk mengunyah.
Andini mulai curiga dengan apa yang terjadi antara anaknya dan Ipul, rasanya sangat tidak masuk akal jika Davi jatuh di kamar mandi tapi yang membiru hanya pipinya saja, Andini makin curiga kala Davi diam-diam meliriknya lalu menunduk saat matanya melihat tajam kearahnya.
Selesai makan Davi langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sang Mamah merapikan bekas makan dan meminta pembantu di rumahnya itu untuk mencuci piring kotor sedangkan ia menyusul anak pertamanya untuk menanyakan hal yang sebenarnya terjadi.
Andini masuk kamar lalu menutup pintu dan menguncinya agar tidak ada yang masuk dan mengganggu dirinya saat berbicara dengan Davi.
"Mamah." seru Davi melihat sang Mamah sudah berdiri di sampingnya yang duduk di kursi belajar.
"Bohong apa Mah?" tanya Davi yang berpura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan dari Mamahnya itu.
"Ini, kamu bohong soal memar, ini bukan jatuh di kamar mandi." tegas Andini.
"Jangan bohong sama Mamah Nak." pinta Andini dengan suara lembut.
"Kenapa?" sambung Andini meminta anaknya untuk jujur.
Davi menarik napasnya lalu melepaskannya perlahan.
"Ipul yang pukul kamu?"
__ADS_1
"Masalah kecil Mah." kata Davi akhirnya.
"Bukan masalah kecil namanya kalau Ipul sudah memukul." sahut Andini yang tahu betul bahwa keponakannya itu tidak pernah memukul orang lain apalagi memukul Kakak sepupunya sendiri selama ini.
"Davi putusin Zara tapi Ipul nggak terima." ungkap Davi akhirnya yang membuat Andini malah menjewer telinga anaknya.
"Aduh aduh. Mamah kenapa jewer Davi." ringis Davi merasakan telinganya panas dan mencoba melepaskan tangan sang Mamah dari telinganya namun ternyata tangan Mamahnya itu seolah menempel di telinganya dan tak mau lepas.
"Kamu tuh kebangetan Davi pantas Ipul marah, Zara tuh anak yang baik tega banget kamu putusin dia!" omel Andini yang malah berbalik menjadi kesal pada anaknya itu.
"Davi nggak suka Zara mah, dia tuh bawel gangguin Davi terus, lagian Ipul suka sama Zara." ujar Davi seraya menahan tangan Mamahnya agar tidak semakin kencang menjewer telinganya itu.
"Ipul suka Zara?" Andini bertanya tak percaya namun tetap saja tidak mau melepaskan telinga sang anak.
Davi mengangguk.
"Tapi si Ipul tuh aneh Davi udah putusin Zara dia malah marah sama Davi, si Zara nya juga diputusin nggak mau malah ngancem-ngancem Davi, tuh anak dua emang nggak jelas." sungut Davi.
"Zara bilang apa waktu kamu putusin?" usut Andini.
"Lepasin tangan Mamah dulu, ini telinga Davi panas." pinta Davi, dan Andini pun menjauhkan tangannya dari telinga sang anak yang sekarang tengah memegangi telinganya yang memerah.
"Cepat bilang, Zara ngancam apa?" Andini terlihat tidak sabar.
"Kata Zara Davi akan menyesal." adu Davi kepada Mamahnya.
"Nah bagus biarin aja Mamah doain ucapan Zara jadi kenyataan." Andini malah membela Zara dan menyerang anaknya sendiri, anak yang ia lahirkan susah payah malah sekarang mengecewakan seorang gadis yang sudah sangat ia sukai bahkan saat pertama bertemu.
"Nanti kalau Zara sudah nggak peduli lagi sama kamu baru tahu rasa!"
"Mamah kok malah dukung Zara." Davi tampak tidak terima.
__ADS_1
"Bodo amat, Mamah sebel sama kamu." Andini berkata ketus lalu berjalan keluar dari kamar sang anak, meninggalkan anaknya yang terbengong melihat sikapnya yang malah memberikan dukungan kepada Zara.
**********