Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 110


__ADS_3

"Ikutlah denganku Za, Aku akan membahagiakanmu lebih dari siapapun," suara sang pria yang akhirnya Zara ketahui siapa membuat hati Zara makin teriris, dengan tubuh yang terbungkus dengan selimut Zara duduk meringkuk di tempat tidur serta iringan suara tangis yang begitu memilukan.


Zara mendongak dengan sorotan mata yang meskipun berlinangan air mata namun kemarahan serta kebencian tersirat jelas, membenci pria di hadapannya yang beberapa menit lalu melakukan perbuatan keji pada seorang wanita yang berstatus istri orang, selama hidupnya Zara tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengalami hal buruk ini, hal buruk yang sangat ia harap hanyalah sebuah mimpi dan mimpi buruk itu akan pergi ketika ia bangun besok pagi.



Itu yang Zara harap meskipun pada kenyatannya harapannya tidak pernah terwujud, semua yang ia alami saat ini adalah kenyataan, kenyataan yang sangat ingin Zara sangkal.



"KENAPA KAMU LAKUKAN INI PADAKU RANGGA!?" pekik Zara ditengah kepiluan yang mendera, ia merasa tak sanggup menghadapi suaminya nanti, ia merasa sangat kotor karena tidak bisa menjaga dirinya.


"Karena kita saling mencintai," sahut Rangga tenang dengan tangan yang mengelus kepala Zara, tak tinggal diam Zara langsung menepis tangan pria yang selama ini adalah pengintai dirinya, nyatanya pria gila yang terobsesi dan selalu mengintip dirinya adalah Rangga.


Iya, Rangga Dewantara teman sekolahnya dulu, pria yang memang sempat Zara sukai saat masih berseragam putih abu-abu, pria yang dulu sangat pendiam dan akan selalu ketus jika sekalinya membuka mulut, gila! kenapa Zara tidak menyadarinya sejak awal padahal Rangga jugalah yang membantu meninggikan tembok di samping rumah dan mengganti pagar.


Zara meradang mendengar pernyataan dari Rangga, saling mencinta? pria itu mengatakan kalau mereka saling mencinta? pernyataan tak tahu malu apa yang telah dengan lancarnya keluar dari mulut pria bajingan di depannya itu.



"Berhenti mengatakan bahwa kita saling mencintai! aku tidak pernah mencintai pria bajingan sepertimu! aku sudah menikah dan hanya suamiku yang aku cintai!" kata Zara dan..


Plak..

__ADS_1


Tangannya dengan sangat kencang menampar pipi kiri Rangga hingga pria itu berpaling lalu memegangi pipinya yang terasa panas, menatap tak terbaca pada wanita yang juga memberikan tatapan murka sekaligus jijik padanya.


Rangga yang tidak terima lalu dengan kasarnya menarik pergelangan tangan Zara, memelintirnya kebelakang menimbulkan kesakitan yang Zara rasakan, namun wanita itu berusaha untuk tidak menunjukkannya malah dengan sadisnya meludah ke arah wajah Rangga membuat sang pria meradang dan mengangkat tangannya siap untuk menampar Zara.


Zara memejamkan mata menanti tangan yang sudah sangat dekat di wajahnya itu mendarat di pipi namun sekian detik menunggu tak ada apapun yang menyentuh wajahnya hanya terdengar umpatan dari pria gila di depannya.


"Sialan!" maki Rangga ketika lampu menyala dengan sangat terang.


Listrik yang tadi sengaja dia matikan menyala menyilaukan mata yang sejak tadi terbiasa dengan kegelapan.


Jantung Zara bergemuruh dengan sangat kencang kala membuka matanya dan kedua matanya mengunci pergerakan Rangga yang terlihat panik, hendak bangun dari duduknya namun mendadak kaku kala pintu kamar yang memang tidak dikunci terbuka.


"Za!" Davi masuk dengan kedua mata yang langsung menatap pria di dalam kamarnya dadanya bergemuruh mendapati pria yang tidak dia kenal berada di dalam kamar bertelanjang dada dengan ikat pinggang yang tidak terpasang.


Tanpa ampun Davi langsung menyerang Rangga dengan segala kekuatannya, "Bajingaaaann!!!" teriakan Davi begitu menyakiti telinga serta menambah kepedihan di dalam hati Zara.


Wanita itu tidak berani melihat apa yang sedang terjadi, ia hanya fokus pada tangisan memilukan pada takdir yang harus ia terima.


Bugh.. Bugh.. Bugh.. benar-benar tanpa ampun Davi menghajar Rangga hingga wajah pria itu berlumuran darah.



Ipul yang baru saja masuk setelah menyalakan listrik melihat apa yang terjadi di dalam kamar dan pandangannya terhenti pada sosok terbungkus selimut, langkahnya yang tadi tegap menjadi limbung saat menuju Zara, kejadian ini seharusnya tidak akan terjadi jika saja Davi tidak meninggalkan Zara sendiri, dan penyebab Davi pergi adalah dirinya.

__ADS_1


Seandainya saja dia tidak nekat mencium Zara, seandainya saja dia tidak sebodoh itu, mungkin ini tidak perlu Zara alami.


Ya Tuhan, Ipul yang sudah berdiri di dekat Zara menatapnya dengan rasa bersalah yang teramat sangat, "Maafin gue Za," seru Ipul bergetar.


"Pul, Rangga," lirih Zara tak sanggup mengatakan apa yang baru saja terjadi, suaranya tercekat di tenggorokan hingga hanya menyisakan tangis yang menyedihkan.


Ipul yang tak sanggup melihat Zara seperti itu beralih menatap Rangga yang sudah tak berdaya di tangan Davi, menatapnya dengan sorot mata marah lalu beranjak mendekat pada dua pria itu.


"Zara butuh elu Bang," katanya pada Davi yang merasa kurang puas terbukti sebelum menyerahkan Rangga pada Ipul dia kembali melayangkan tinjunya pada wajah pria itu.


Davi menuju sang istri lalu memeluknya dengan sangat erat. "Maafin aku," tuturnya merasa sangat bersalah.


Zara semakin terisak menyedihkan, wajahnya sudah begitu tak karuan, "Kenapa kamu tinggalin aku?" lirihnya di tengah suara tangisan yang membuat perkataannya terdengar samar.


Davi sudah tak bisa lagi berkata apapun, dia tidak sanggup menatap kedua mata istrinya yang menyiratkan luka terdalam, penyesalan kini menumpuk di dalam hati dan pikirannya, dia lah yang bersalah atas apa yang sudah terjadi hari ini, seandainya saja dia tidak pergi, seandainya saja dia tidak mengabaikan panggilan sang istri.


Ya Tuhan, sungguh Davi menyesal dia pun tak kuasa menahan sesak di dalam dadanya mendengar lagi dan lagi istrinya berkata pertanyaan yang sama, "Kenapa kamu tinggalin aku?" Ya Tuhan tolong ampuni dirinya sebagai seorang suami yang sudah gagal dalam menjaga dan melindungi istrinya sendiri.


Yang jelas setelah hari ini dia tahu bahkan sangat tahu bahwa semua tidak akan lagi sama, dia tahu istrinya akan mengalami trauma berkepanjangan yang harus dia sembuhkan, harus dia kembalikan semuanya menjadi seperti semula.


Davi terus memeluk tubuh sang istri ketika berada di dalam mobil, mereka menuju rumah sakit di temani oleh pengacara, Rangga harus membayar semua yang sudah pria itu lakukan pada istrinya, pada wanita yang dia cintai.


****

__ADS_1


__ADS_2