Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 29


__ADS_3

Susah payah Zara membantu Davi untuk turun ketika taksi yang ia tumpangi berhenti di sebuah rumah yang dari depannya saja sudah terlihat sangat besar dan juga kokoh dengan pagar tinggi yang melintang.


"Kamu kenapa kayak gini sih Nak." keluh Andini melihat kondisi anaknya yang tubuhnya tidak stabil dengan ocehan yang keluar dari mulutnya itu.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini Zara?!" tanya Davi karena dia sadar sudah berada di rumahnya.


Zara diam seraya terus membantu Mamahnya Davi untuk membawa Davi masuk ke dalam.


"Benar-benar anak tidak tahu diri!!" suara Arman menggema menyambut ketiga orang yang baru masuk itu.


"Sudah Ayah tidak usah mengomel sekarang, percuma karena tidak akan di dengar oleh anaknya." ucap Andini kepada suaminya.


perkataan istrinya itu sontak hanya membuat Arman menyisakan dengusan kesal yang keluar dari hidungnya.


"Ayah bantuin, Davi berat loh ini." meminta pertolongan dari sang suami karena ia merasa dirinya dan Zara tak cukup kuat untuk menopang Davi apalagi harus membawanya melewati tangga agar bisa mencapai kamar anaknya itu.


Arman pun membantu membopong tubuh anaknya meski mulutnya terus saja berkomat-kamit mengomel yang tentu sangat percuma karena benar apa yang dikatakan oleh istrinya tadi, sekeras apapun kita berkata pada orang yang sedang dipengaruhi oleh alkohol hanya akan membuat mulut kita kecapean sendiri.


"Kalau gitu Zara pulang ya Tante." imbuh Zara seraya menjauh dari tubuh Davi.


"Kamu di sini saja sayang." terdengar suara Davi yang melarang Zara untuk pergi.

__ADS_1


"Diam kamu." bentak Arman kepada sang anak.


"Kamu nggak mau minum dulu?" tawar Andini dengan suara yang terdengar sangat ramah.


"Tidak usah Tante, terimakasih." sahut Zara mengulas senyum.


"Ya sudah kamu hati-hati ya, terimakasih sudah mengantar Davi pulang."


"Biar di antar sama Dadang saja." sambung Arman yang langsung memanggil supir keluarganya itu untuk mengantar kekasih dari anaknya itu.


"Iya Tante sama-sama." tukas Zara lalu berpamitan kepada dua orang tua itu.


"Diam, nggak tahu malu!" bentak Arman keras seraya berusaha untuk membawa anaknya itu masuk ke kamarnya di lantai atas.


"Mamah, tolongin Davi." pekik Davi meminta pertolongan pada sang Mamah yang malah cekikikan mendengar gerutuan dari mulut suaminya.


"Udah kayak di gebukin aja nih anak, lagi mabok bisa-bisanya banyak drama." oceh Arman kesal.


Dia pun membawa anaknya masuk kamar dan menjatuhkannya dengan kasar ke atas kasur berukuran cukup besar dengan seprai yang tertata rapi tapi berantakan di atas meja belajar karena dipenuhi dengan setumpuk buku-buku bacaan Davi yang tak jelas.


Davi langsung melingkar di atas kasur dan sang Mamah pun memakaikan selimut ke tubuh sang anak.

__ADS_1


Arman terus saja menggelengkan kepala merasa tak percaya dia memiliki seorang anak seperti Davi yang perbuatannya sungguh tak masuk di akal.


Sepasang suami istri itupun mulai membicarakan hal yang dulu sudah pernah mereka pikirkan sebelumnya.


Tentang rencana mereka yang dulu akan menguliahkan Davi ke luar negeri setelah lulus sekolah ini.


"Sebaiknya itu memang jalan satu-satunya agar anak ini tidak semakin terjerumus dalam pergaulan yang sudah sangat tidak baik itu." kata Arman seraya menyilangkan tangan ke dadanya.


"Tapi Aku nggak tega biarin Davi seorang diri di negara orang Yah." sahut Andini dengan wajahnya yang begitu cemas memikirkan bagaimana anaknya nanti jika ia tidak ada.


"Davi anak lelaki dan dia sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri, asalkan kita terus memantaunya aku rasa Davi akan baik-baik saja meski tanpa kita." jawab Arman sambil melangkah keluar dari kamar sang anak tertuanya yang sepertinya sudah tertidur.


"Besok aku akan mulai mencari universitas yang bagus untuk Davi." sambung Arman ketika berada di depan pintu kamar.


Andini pun menyusul suaminya keluar setelah sebelumnya menghembuskan napas yang sangat dalam, napas yang begitu berat saat mendengar perkataan suaminya yang akan mencari universitas di luar negeri.


Sebagai seorang Ibu tentunya Andini akan sangat merasa kehilangan sekalipun Davi keluar negeri hanya untuk kuliah dan suatu saat pun akan kembali, namun rasanya ia masih belum siap untuk membiarkan anaknya itu hidup sendirian menuntut ilmu.


Tapi sepertinya ia harus mengalah dan menuruti setiap perkataan suaminya itu karena ia tidak bisa menentang hal yang dimaksudkan untuk kebaikan anak lelakinya itu sendiri.


**********

__ADS_1


__ADS_2