
Selepas makan tadi kini sepasang suami istri itu sudah dalam perjalanan pulang setelah sebelumnya Zara minta di antar oleh suaminya mengambil pakaian serta barang-barang miliknya di rumah yang ia sewa tak jauh dari bandara tempat ia harus bekerja, dan untungnya rumahnya pun juga hanya sedikit lebih jauh namun tidak terlalu jauh dari bandara dan ia tidak perlu pusing jika sewaktu-waktu ada penerbangan sangat pagi atau tengah malam.
Lagipula ia juga hanya tinggal 3 bulan lagi bekerja di tempat itu, dan setelahnya ia akan berhenti dan mengikuti kemanapun sang suami membawanya.
"Kenapa sih dari tadi kamu diam aja? kamu marah sama aku?" Zara mulai bersuara di tengah hening nya mobil yang tengah berjalan itu.
"Kan yang seharusnya marah itu aku." lanjut Zara membuat Davi mengernyit bingung dengan kalimat yang tiba-tiba keluar dari bibir menggoda istrinya itu, padahal dia yang sedari tadi diam bukan karena marah pada sang istri melainkan memikirkan sesuatu yang terasa sangat janggal yang tidak bisa dia beritahu pada istrinya itu karena dia tidak mau wanita yang dia cintai itu menjadi cemas dan ketakutan nantinya.
"Kan lagi tanggung, malah berhenti gitu aja." Zara meneruskan ucapannya yang tadi dan sontak membuat Davi tertawa kencang.
"Hahaha. jadi kamu marah karena nggak jadi aku ituin?" tanya Davi merasa lucu dan wajah istrinya pun malah makin menggemaskan mendengar pertanyaannya.
Zara membuang wajahnya ke luar jendela tak mau menatap sang suami yang tengah mentertawainya.
Tangan Davi pun terulur guna mengelus rambut hitam sang istri. "Nanti malam sayang." bujuk Davi pelan dengan sebelah tangan yang tetap pada kemudi mobil, mengendalikannya agar tetap berada di jalur yang semestinya.
Zara menggerakkan kepalanya mencoba menghindari tangan sang suami, yang entah kenapa malah semakin tertawa dengan sikapnya saat ini.
Keduanya langsung turun begitu sampai Zara berlari masuk ke dalam rumah milik sang mertua karena mereka memang ingin mengambil pakaian Davi juga barang keperluannya ke rumah yang akan mereka tempati.
"Kenapa sih kalian mesti pindah? baru juga menikah." seru sang Mamah yang sudah ada di rumah sore itu.
"Mau mandiri Mah." sahut Davi yang sibuk dengan pakaian di dalam lemarinya sedangkan sang istri bertugas memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam koper.
"Tapi nanti kan kamu mesti balik lagi ke Australia, terus Zara gimana? dia bakal sendiri di rumah." terlihat betapa sang mertua itu begitu menyayangi menantunya dan mengkhawatirkan sang menantu karena tau anaknya masih harus bertanggung jawab dengan pekerjaan yang ada di negara orang sana.
Davi diam sejenak seraya melihat ke arah Zara yang tersenyum seakan berkata bahwa ia tidak apa-apa sebab selama inipun dia selalu tinggal sendiri dan tidak terjadi apapun, jadi sekarang pun tidak masalah hanya saja mungkin dia akan merindukan suaminya itu nantinya.
Pikiran Davi pun kembali terganggu dengan kejadian yang tadi sangat mencurigakan dirinya.
__ADS_1
"Mah, Davi bicara sama Zara dulu sebentar." kata Davi meminta sang Mamah untuk meninggalkan mereka, wanita yang masih terlihat muda itupun mengerti lalu meninggalkan sepasang suami istri itu.
"Za." panggil Davi seraya duduk di sebelah sang istri.
"Aku nggak apa-apa, aku sudah sangat terbiasa sendiri." ucap Zara bahkan ketika Davi belum menyelesaikan kalimatnya.
"Tapi aku khawatir." jawab Davi tanpa memberitahu apa yang dia khawatirkan sekarang ini.
"Nggak usah khawatir kayak gitu, aku beneran bisa jaga diri kok." ujar Zara dengan mimik serius mencoba meyakinkan sang suami bahwa tidak akan terjadi apapun saat nanti suaminya itu harus kembali ke Australia.
"Iya aku ngerti, tapi kan.."
Zara belum selesai meneruskan perkataannya namun suaminya itu sudah lebih dulu memotong. "Pokoknya kalau aku pergi kamu tinggal di sini, titik nggak ada yang harus di bantah!" Davi mengambil keputusan yang membuat Zara mengernyit mendengarnya.
"Sayang." Zara mencoba membujuk namun Davi menggeleng dengan cepat pertanda keputusannya tidak akan berubah lagi.
Zara menarik napas panjang dan pasrah dengan titah sang suami yang tidak akan mungkin dia bantah apa yang sudah menjadi keputusan lelaki itu.
__ADS_1
"Tapi nanti kalau aku rindu aku boleh susul kamu?" tanya Zara yang membuat Davi mengacak rambutnya.
"Kenapa masih bertanya hal yang bodoh, kamu istri aku kamu mau menyusul aku atau mengunci aku di kamar seharian juga aku tidak akan melarang apalagi marah sayaaang." seloroh Davi dengan senyum yang selalu saja menggetarkan hati istrinya itu, sejak pertama pertemuan mereka memang senyum itulah yang sukses membuat Zara tergila-gila, mampu menjadikannya seorang wanita yang kala itu masih berseragam putih abu-abu sangat agresif terus saja mengejar meski berulang kali lelaki itu menolaknya bahkan mengeluarkan perkataan yang amat mengecewakan, tapi sekarang lelaki itulah yang kemarin duduk di sampingnya berjabat tangan dengan sang Paman yang menjadi walinya dan mengucapkan ijab dengan sangat lantang dan lancar tanpa pengulangan sekalipun.
Zara mengulas senyum lalu memeluk sang suami penuh penghayatan, mengelus punggungnya dengan lembut lalu menjalar ke tengkuk suaminya membuat lelaki itu bergidik merasakan geli.
"Jangan mulai sayang, aku bisa menyerang kamu sekarang juga." suara Davi begitu menusuk pendengaran istrinya yang malah tersenyum menggoda.
"Itu yang aku mau, tadi kamu menghentikan ketika aku sudah sangat siap." bisik Zara seraya memberikan tiupan menggoda.
Tangan Davi pun sudah meremas pangkal paha sang istri dengan gemas membuat sensasi tersendiri bagi wanita yang tengah melakukan godaan demi godaan untuk suaminya.
"Kak Zaraa." terdengar suara gadis kembar yang membuat Zara mendorong suaminya hingga terjungkal ke atas ranjang, sangat untung bukan ke lantai, jika tidak tubuh Davi akan sangat sakit setelahnya karena Zara mendorong dengan sangat kencang.
"Kalian ngapain sih?!" sentak Davi melihat dua Adiknya muncul dari depan pintu yang tadi di tutup.
Keduanya tak menjawab hanya menatap heran saja pada sang Abang yang terlihat sangat jengkel kepada mereka padahal mereka tidak tau kesalahan apa yang mereka buat.
Zara menahan tawanya lalu menghampiri kedua gadis yang dulu selalu menemaninya kala Davi tak sekalipun mau menemuinya.
__ADS_1
Mereka bertiga langsung sibuk mengobrol tanpa memperdulikan ada satu orang lelaki yang kini tengah bersungut marah tak senang dengan kehadiran dua ABG yang mengusik keromantisan dengan istrinya.
****