
Sebelum berangkat menuju bandara Ipul pulang lebih dulu untuk berpamitan pada Mama dan Papanya tentunya meminta sopir sang Papa untuk mengantarnya.
"Sebenarnya Mama mau kamu disini saja Pul sama Mama dan Papa, rumah ini sangat sepi," Riska berkata risau dan tak rela putra semata wayangnya itu lagi-lagi harus meninggalkannya membiarkan ia hanya berdua saja dengan sang suami.
Ini bukan yang pertama kali, ini sudah kesekian kalinya ia bahkan merengek layaknya anak kecil pada putranya agar tidak pergi, tapi nyatanya rengekannya dengan wajah sedih tetap tidak bisa mengalahkan keras kepala sang putra yang dengan kengototannya.
"Mama kan sudah janji sama Ipul membiarkan Ipul dengan apapun yang Ipul pilih, dan sekarang yang Ipul pilih adalah kembali ke Inggris dan bekerja seperti yang beberapa bulan ini Ipul lakukan di sana," sahut Ipul memberikan pengertian.
"Mama dan Papa sudah mulai menua apa kamu tidak kasihan melihat kami tua dalam kesepian punya anak kandung tapi seolah tidak peduli," rajuk Riska membuat Irman mendesah.
Yah, seperti itulah istrinya jika sedang berbicara pada satu-satunya keturunan mereka, anak yang akan mewarisi semua yang mereka miliki, tentu Irman mengerti bagaimana perasaan seorang ibu ketika harus merelakan anaknya yang hanya satu saja tinggal jauh bahkan berbeda benua dengan mereka.
Sedih? jelas karena setiap malam Riska masih terus menangis meskipun harus menyembunyikan tangisannya itu darinya tapi sebagai seorang suami tentu dia sangat peka dengan keadaan istrinya meski dia tidak mengatakan apapun tapi dia berusaha memberikan ketenangan dengan memeluk tubuh wanita yang sering diam-diam menangis saat dia tertidur.
"Maa, Ipul tidak selamanya di sana suatu saat Ipul akan kembali Ipul akan tinggal disini lagi sama Mama dan Papa tapi tidak sekarang, sekarang Ipul ingin mencari pengalaman belajar mandiri sebelum Ipul membaktikan diri pada perusahaan Papa nantinya, Ipul tidak akan kemana-mana kok, Mama dan Papa juga tahu tempat tinggal Ipul di sana dan kalian bisa datang kapanpun kalian mau," ucap Ipul memberi pengertian pada wanita yang dia sayangi satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya saat ini.
Sedang Hanna, apa Ipul sudah melupakannya? jawabnya adalah iya, Ipul melupakan Hanna dan kisah yang pernah mereka jalani memilih menjadi teman dan tak jarang sering memberikan tanda suka pada postingan Hanna dia akun sosial media, bahkan Ipul ikut bahagia ketika melihat Hanna tengah berfoto dengan seorang pria yang Ipul ketahui adalah calon suami wanita itu, keduanya tersenyum dengan binar kebahagiaan yang tidak dapat di sembunyikan dari pancaran wajah keduanya.
Ah syukurlah! itu yang Ipul rapalkan ketika melihat foto Hanna, setidaknya rasa bersalah karena sudah menyakiti wanita itu sedikit terobati.
"Tapi sampai kapan Pul, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi hari ini esok ataupun nanti, bagaimana jika saat kamu pergi Mama sakit lalu meninggal."
"Astaghfirullah."
Ipul dan Irman istighfar bersamaan mendengar ucapan wanita yang sama-sama mereka sayangi.
"Mama kenapa ngomongnya kayak gitu sih, Ipul nggak suka!" omel Ipul dengan raut kecewa tidak menyangka sang Mama malah dengan ringannya berkata seperti itu seolah berharap hal buruk terjadi.
"Riska kamu tidak boleh berkata seperti itu, tingkah mu ini sama saja menekan anakmu sendiri bagaimana jika setelah ini Ipul malah jadi tidak tenang dan keadaan yang tadi kamu bicarakan malah menimpa padanya, apa yang mau kamu lakukan? sebaiknya berkata yang baik agar apa yang di pilih anak kita menjadi mudah toh dia sudah mengatakan akan kembali," tutur Irman menasehati serta memberikan pengertian berharap apa yang dia katakan membuat wanita di sampingnya mau sedikit berbesar hati untuk merelakan anak mereka kembali ke Inggris.
"Astaghfirullah, maafkan Mama," ucap Riska menyentuh lengan Ipul dengan raut menyesal karena mulutnya tak bisa ia kontrol.
"Mama tidak perlu minta maaf, Ipul hanya minta Mama doakan Ipul agar setiap langkah yang Ipul ambil menjadi ringan," cetus Ipul memeluk sang Mama.
Ipul menarik napas seraya menenggelamkan wajahnya di bahu sang Mama sebelum dia benar-benar harus berangkat ke bandara.
Ipul sudah ada di dalam mobil yang membawanya ke bandara, jarak yang cukup lumayan membuat dia harus membutuhkan waktu banyak untuk bisa sampai, jangan berharap sampai cepat kalau sekarang saja mobil yang dia naiki malah terjebak macet.
"Ini bukan weekend kenapa bisa macet!" gerutu Ipul mengintip jalanan yang dipenuhi dengan bermacam merk kendaraan.
"Kayaknya macetnya lumayan parah Den," lapor sang sopir yang sudah cukup lama bekerja untuk keluarganya.
"Ck," Ipul berdecak tak suka dengan kemacetan yang harus mereka hadapi.
Haaahh! membuang napas berat seraya menjatuhkan punggung ke sandaran lalu mengurut pangkal hidungnya.
__ADS_1
Mobil yang bergerak sedikit demi sedikit tentu tidak akan membuatnya sampai tepat waktu di bandara penerbangannya tidak lama lagi membuat dia memutar otak untuk bisa sampai tepat waktu.
Matanya melihat motor-motor yang masih bisa berjalan menyalip diantara mobil-mobil hingga memunculkan sebuah gagasan.
"Ipul turun disini saja Pak, nggak bakal keburu soalnya kalau nunggu sampai jalanan lancar," ujar Ipul menyangkutkan tas ke punggungnya.
"Loh Aden mau naik apa?" bingung sang sopir.
"Naik ojek aja, tuh banyak," kata Ipul menunjuk motor yang berjejer di pinggir jalan.
"Ya sudah hati-hati Den," ucap sang sopir yang diiyakan oleh anak dari majikannya.
Ipul keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju salah satu motor yang ada pemiliknya.
"Hah, eh apa-apaan nih!?" seru si pemilik motor kala merasakan ada yang menduduki motornya.
"Antar gue ke bandara gue bayar berapapun yang Lo minta," pinta Ipul tidak melihat pada orang yang ada di depannya.
"Ck, cepetan gue udah terlambat!" ketus Ipul yang rupanya sudah tahu siapa pemilik motor yang dia naiki sekarang tadi dia sangat mengingat plat nomor yang motornya dia serempet hingga jatuh di pinggir jalan.
Wanita yang mengajaknya ribut dengan suara cempreng bahkan wajah judesnya pun masih Ipul ingat dengan jelas, jadi jangan salahkan jika dia yang sudah sangat terjepit ini memanfaatkan tumpangan dari si pemilik motor.
"Ogah! turun nggak Lo!" Ralen menolak marah dan memaksa Ipul untuk turun.
"Mau antar gue atau gue teriakin maling?!"
Luar biasa! Ipul sudah berani mengancam orang lain yang tidak dia kenal bahkan yang lebih parahnya itu adalah seorang wanita, astaga teganya.
"Lo tuh.."
__ADS_1
"Dengan penampilan Lo dan gue yang berbeda jauh menurut Lo siapa yang akan di percaya kali ini?" kata Ipul dengan senyum sinis nya.
Ralen meniti penampilannya yang hanya memakai celana jeans robek serta kaos dan jaket masih dengan pakaian yang tadi saat bertemu dengan Ipul, sedangkan Ipul memakai pakaian sangat rapi dan wangi parfumnya pun sudah mencirikan bahwa pria itu bukan orang biasa, jangan di bandingkan! jelas orang-orang akan lebih percaya pada orang kaya dibelakangnya ini.
Ipul menyingkirkan jari Ralen yang tadi menunjuk tepat di depan wajahnya.
"Pakai helm!" kata Ralen yang akhirnya memilih untuk selamat ketimbang harus masuk kantor polisi dengan tuduhan palsu.
"Hari sial!" sungutnya.
"Gue aja yang bawa," kata Ipul lalu turun dari motor.
"Cepat pindah, gue udah telat," celetuk Ipul meminta Ralen menggeser ke belakang.
Dengan terpaksa Ralen menurut membiarkan Ipul mengambil alih motor maticnya.
Ipul pun menyalakan mesin motor dan melajukan nya.
"Woi Raleeen." suara teriakan dari teman Ralen yang tadi minta di jemput olehnya, wanita itu bersungut-sungut saat motor Ralen malah semakin menjauh dan tak terlihat.
"Sialan Ralen, malah kabur sama Om-om," gerutunya karena sekilas tadi dia melihat bahwa yang membawa motor temannya seorang pria.
Kemacetan masih terus menjalar sepanjang jalan seakan tidak ingin memberi kesempatan orang-orang untuk bisa segera sampai di rumah dan beristirahat setelah seharian lelah bergulat dengan kesibukan mereka masing-masing.
Sedangkan dua orang yang tidak saling mengenal namun sudah dua kali dalam sehari ini dipertemukan masih berada di atas kendaraan yang membawa mereka ketujuan sang pengendara, tidak ada pembicaraan hanya tangan sang penumpang yang tampak berpegangan pada baju sang pengendara yang tidak dia kenal.
Laju motor yang kencang membuat takut akan terjatuh, meskipun dia sudah sering membawa motor tapi tidak dipungkiri nyalinya akan diuji ketika duduk di boncengan.
Sang pengendara merasakan tangan yang memegang bajunya hanya melirik laku kembali fokus pada jalanan yang perlahan semakin lengang, harapannya untuk sampai tepat waktu pun akan segera terlaksana sebentar lagi.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*