
"Davi!!" Zara berseru kencang manakala lelaki bermata tajam itu menarik dirinya dan membawanya meniti tangga menuju lantai atas.
"Lepas Davi, kamu mau apa?! jangan buat aku semakin membenci kamu!" Zara terus memperingatkan Davi namun lelaki itu tidak mau mendengar perkataannya, hingga akhirnya sekarang mereka berada di dalam satu kamar yang lumayan besar dengan lampu yang sengaja tidak dinyalakan.
Keduanya berdiri berhadapan dengan suara napas Davi yang terdengar jelas.
"Aku mau pulang." seru Zara seraya melangkah, beruntung cahaya dari lampu yang berada di balkon sedikit membantunya untuk tidak salah melangkah.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pulang." tutur Davi seraya merangkul pinggang Zara yang berjalan melewatinya hingga wanita itu membeku di dalam pelukannya.
"Kamu mau apa?" tanya Zara takut, sungguh tindakan Davi sangat menyeramkan baginya.
"Kamar ini sangat jarang di huni oleh manusia." ucap Davi yang membuat Zara memberikan tatapan bingung.
"Artinya kamar ini sudah di ambil alih oleh makhluk lain selain manusia tentunya." lanjut Davi yang tentu saja menyadari perubahan dari raut wajah wanita yang tengah diam membeku di dalam dekapannya itu.
"Maksud kamu?" kebingungan kali ini semakin melanda hati Zara. tidak mengerti dengan maksud lelaki di depannya saat ini mengatakan hal sepertinya itu barusan.
"Aku akan mengunci kamu di kamar ini selama aku pergi." ucap Davi lalu melepaskan rangkulannya dari pinggang Zara dan berjalan cepat menuju pintu.
Zara dengan polosnya hanya diam saja memperhatikan tingkah Davi yang sekarang sudah menutup pintu dan menguncinya dari luar.
5 detik sudah terlewati dengan Zara yang berdiri mematung sampai akhirnya telinga wanita itu menangkap suara dari dalam kamar mandi yang tertutup, suara yang membuatnya takut dan berlari menuju pintu mencoba membuka benda yang terbuat dari kayu itu namun nihil, Davi benar-benar menguncinya di dalam kamar setelah sebelumnya menakuti dirinya terlebih dulu.
"Davi buka Davi." seru Zara seraya menggedor pintu.
"Aku tidak akan membukanya Zara, aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan pria bule apalagi sampai jatuh cinta padanya selama aku tidak ada." sahut Davi yang rupanya berdiri di depan pintu kamar.
"Aku takut Davi." ujar Zara dengan suaranya yang memang benar menyiratkan ketakutan.
__ADS_1
"Aku lebih takut melihat kamu dengan lelaki lain Za." dengan tenangnya menjawab.
"Daviiii." teriak Zara semakin kencang.
"Berjanji dulu padaku Za." pinta Davi.
"Janji apa?" tanya Zara seraya menaik turunkan handel pintu.
"Berjanjilah untuk menunggu aku menyelesaikan hubungan ku dengan Lisa." ujar Davi yang membuat Zara terdiam.
Jujur Zara sudah sangat ketakutan berada di dalam kamar yang kata Davi sudah di huni oleh makhluk lain yang tak kasat mata.
Mata Zara makin membuka lebar saat mendengar suara ketukan dari arah jendela yang gordennya bergerak terkena hembusan angin yang di Sertai dengan hujan yang masih belum juga mau berhenti.
Mata Zara membulat sempurna saat melihat bayangan yang padahal hanya sebuah ranting pohon yang mengenai jendela hingga menghasilkan suara seperti ketukan.
"Davi bukaa." pekik Zara histeris.
"Janji dulu Za." Davi Jadi ikutan berteriak.
"Iya iya aku janji, aku janji akan tunggu kamu." kata Zara akhirnya menyerah dengan ketakutan yang ia rasakan.
"Maaf." kata Davi yang menyesal karena terpaksa membuat Zara ketakutan seperti ini.
"Kamu jahat." seru Zara dengan tangis yang mendadak keluar.
"Aku mau pulang." tukas Zara.
"Masih hujan." tutur Davi memberitahu.
__ADS_1
Zara yang diam saja membuat Davi pun mengalah.
"Ya udah kita pulang." ucap Davi kemudian menuntun Zara menuruni tangga, akan tetapi Baru saja mereka melangkah sekitar tiga anak tangga entah kenapa lampu tiba-tiba padam membuat Zara kembali memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"Kenapa malah mati lampu." keluh Davi seraya mengambil HP dari dalam kantong celananya dan menyalakan senter agar bisa membantu mereka berjalan di tengah gelapnya ruangan besar itu.
"Pelan-pelan." katanya kemudian saat mereka sudah berada di tangga paling bawah kepada wanita yang terus mendekapnya itu.
Namun tanpa di sangka kaki Zara malah tersandung tiang pegangan tangga hingga membuat tubuhnya oleng lalu jatuh menimpa Davi.
Posisi mereka kini saling berhadapan dengan tubuh Zara berada di atas tubuh Davi, saling memandang di tengah cahaya senter dari HP yang kini tergeletak di samping mereka.
Tangan Davi melingkar di pinggang Zara dengan sangat erat seolah sangat menikmati momen saling menindih itu.
"Aku cinta kamu." bisik Davi pada sang wanita yang lalu memejamkan matanya saat wajah Davi semakin mendekat.
Davi menyalurkan semua kerinduan yang selama ini dia pendam sangat menikmati bibir Zara di tengah hujan yang makin turun dengan sangat deras.
Keduanya seakan semakin larut dalam suasana yang semakin menggoda mereka untuk melakukan tindakan lebih jauh lagi, terbukti dengan Davi yang membawa tubuh Zara menuju sofa tanpa melepaskan ciumannya pada wanita itu.
Davi semakin tak terkendali terlebih saat Zara yang hanya bisa pasrah dengan perlakuannya.
Mereka sudah semakin memanas dan akan bertindak lebih jauh jika saja lampu tidak dengan cepat menyala.
"Maafkan aku Za." lirih Davi seraya membetulkan pakaian Zara yang sudah sangat berantakan karena perbuatannya.
Napas keduanya masih sangat tidak normal setelah akhirnya bisa mengendalikan diri mereka masing-masing.
"Setelah aku kembali, aku ingin kita langsung menikah." ucap Davi kemudian seraya memakaikan jaket pada Zara.
"Maaf karena aku hampir saja menodai kamu." kata Davi dengan sangat penyesalan yang tampak jelas di wajahnya.
"Berjanjilah untuk segera kembali." kata Zara kemudian sambil menatap ke manik mata lelaki tercintanya yang juga pernah menorehkan luka di dalam hati nya.
Davi mengangguk dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Aku akan kembali Za, Aku akan kembali." ujar Davi dengan penuh keyakinan.
****