
Davi dan Zara baru saja selesai sarapan pagi ketika kini mereka tengah membicarakan hal serius yang sejak kemarin seharusnya sudah mereka bicarakan namun karena sebuah foto membuat Davi malah marah.
"Aku ingin menagih janjimu." sepertinya saat ini lelaki itu tengah meminta Zara untuk menepati janji padanya.
"Janji apa?" tapi kini malah lontaran pertanyaan yang diajukan oleh Zara yang membuat kening Davi mengernyit.
"Janji apa?" Davi mengulangi pertanyaan Zara seraya memajukan tubuhnya.
"I iya janji apa?" Zara berkata gugup, sungguh melihat tatapan Davi dengan jarak yang sangat dekat seperti ini membuat jantungnya tidak bisa di ajak untuk kompromi, lihatlah sekarang sepertinya Davi mendengar suara jantungnya sangat kencang itu.
"Aku tidak akan memakan mu Za, aku hanya bertanya dan menagih janji darimu yang akan menikah denganku saat aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Lisa." kata Davi dengan tangannya yang kini sudah berada di atas dada Zara menyentuhnya dan mengelusnya, seperti tengah berusaha menenangkan jantung yang malah semakin berdebar kencang itu.
"Me menikah?" suara Zara nyaris tercekat di tenggorokannya apalagi kini Davi malah menyunggingkan senyum yang sangat menawan baginya dengan gigi gingsul nya yang memang sangat Zara sukai sejak dulu.
"Ingat kan?" Davi sepertinya masih sangat betah menempelkan telapak tangannya di tubuh wanita yang membuat napasnya tak beraturan setiap saat.
Zara mengangguk. "Tapi.." Zara menggantung perkataannya untuk sesaat menunggu ekspresi dari lelaki tampan di depannya saat ini.
Davi menaikkan salah satu alisnya tanda dia tengah menanti Zara melanjutkan apa yang ingin wanita itu katakan.
"Hanya menikah saja kan?" tanya Zara sebelum mengatakan apa yang ingin ia katakan sebelumnya.
Kening Davi mengernyit tak mengerti dengan pertanyaan yang di ajukan oleh wanita yang malah semakin terlihat cantik setelah bangun tidur, karena wajahnya masih sangat alami belum tersentuh apapun.
"Menikah, kita tinggal di apartemen ini karena aku tidak bisa meninggalkan perusahaan yang sudah menjadi tanggung jawab ku." sahut Davi menerangkan rencana hidupnya dengan Zara setelah menikah nanti.
"Itu tandanya aku harus berhenti jadi Pramugari?" Zara bertanya dengan wajah cemas, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat tidak rela jika harus berhenti dari pekerjaan yang sudah sangat ia impikan sejak kecil dulu, apalagi janjinya untuk mengambil kembali rumah mendiang Mamahnya belumlah terwujud, karena nyatanya uang yang ia kumpulkan selama ini masih kurang banyak untuk memenuhi kesepakatan dengan Dewi sang Ibu tirinya.
Davi mengangguk menjawab pertanyaan Zara.
"Tapi aku masih ingin bekerja Vi." tutur Zara lemah dengan wajah yang sangat sendu.
__ADS_1
Davi menarik napas panjang untuk sesaat memperhatikan wanita yang sekarang tengah meremas kedua tangannya menampilkan kecemasan yang memang ada.
"Tapi aku ingin kamu tinggal di sini Za, Jika kamu masih tetap bekerja itu artinya kita akan tinggal terpisah." tutur Davi dengan intonasi rendah namun terdengar sangat dalam bagi Zara.
"Vi, aku mohon." pinta Zara, ia tidak mau mengatakan masalah apa yang sebenarnya terjadi, tentang bagaimana selama ini ia berusaha untuk mengambil kembali rumah peninggalan sang Mamah, ia tidak ingin memanfaatkan lelaki yang ia cintai untuk membantunya.
"Baiklah, kalau itu mau mu." Davi akhirnya menyerah, dia tidak bisa memaksa apalagi selama ini dia sudah sangat menyakiti Zara dengan perbuatannya.
Mata Zara berbinar senang mendengar Davi mengijinkannya tetap bekerja, sungguh ia berterimakasih untuk itu, tapi kemudian wajah Zara kembali tertunduk saat teringat ada satu hal lagi yang harus ia katakan.
"Apa lagi?" sepertinya Davi sudah bisa membaca masih ada yang ingin dikatakan oleh Zara kepadanya.
"Setelah menikah kita harus menunda untuk memiliki seorang anak." pernyataan Zara kali ini membuat rahang Davi mengeras, guratan tidak suka terpancar jelas di wajah lelaki itu.
Davi menggeleng seraya memicingkan kedua matanya tidak terima dengan perkataan Zara yang barusan.
"Untuk yang satu itu aku tidak akan terima." katanya tegas yang membuat tubuh Zara lemas.
Memang perusahaannya tidak melarang untuk menikah dan juga hamil hanya saja ada peraturan yang mengharuskan menunda kehamilan, tapi tetap saja itu sebuah larangan bukan? larangan yang harus di patuhi oleh setiap yang bekerja pada perusahaan itu.
"Za, kamu ini sebenarnya masih mencintai aku atau tidak? atau kamu hanya ingin membalas dendam atas apa yang sudah aku lakukan padamu dulu!?" Davi bertanya tajam dengan tuduhan yang tidak mungkin di lakukan oleh Zara, sungguh rasa cinta dan sayangnya dulu dan sekarang terhadap Davi sangatlah tulus, bahkan ia tidak pernah sekalipun punya pikiran untuk membalas rasa kecewa yang ia rasakan dulu pada Davi.
Tubuh Zara tersentak mendengar tuduhan Davi yang tidaklah benar, mau seperti apa kecewanya ia pada orang lain ia tidak pernah berpikiran untuk membalas orang itu.
Zara tampak terdiam karena Davi yang kini malah terbawa emosi karenanya meskipun dulu saat usia mereka masih belasan tahun Davi memang mudah meledak namun nyatanya tetap saja Zara merasa terkejut melihatnya.
"Kamu diam, itu artinya memang kamu hanya ingin membalasku saja." tutur Davi dan beranjak bangun namun kemudian Zara menahan tangannya.
"Tidak seperti itu Vi, aku sayang juga cinta sama kamu hanya saja tolong mengerti aku." tukas Zara seraya berdiri di samping Davi dengan tangannya yang menggenggam tangan lelaki yang tengah marah itu.
Davi membuang pandangannya seperti tidak mau memandang wanita yang selama ini menghuni hatinya, marah? tentu saja dia marah dengan permintaan wanita itu barusan, padahal dia ingin menikah dan segera memiliki anak dari wanita yang dia cintai, tapi kenyataan berkata lain seakan tuhan tidak mendukungnya untuk hidup tenang dan bahagia bersama Zara.
__ADS_1
"Kalau kamu tetap menginginkan anak, maafkan aku Vi, untuk saat ini aku tidak bisa memenuhinya dan jika itu menjadi masalahmu aku juga bersedia pergi dari hidupmu, kamu bisa menikah dengan wanita lain." ujar Zara dengan bodohnya malah mengatakan hal itu, sudah jelas Davi hanya ingin menikah dengannya dan memiliki anak darinya tapi malah meminta lelaki itu menikah dengan wanita lain, seakan menuduh bahwa Davi menikah hanya untuk memiliki keturunan.
Mata Davi terbuka lebar mendengar penuturan naif dari Zara, sebuah tuduhan yang tidak dia sangka akan keluar dengan lancarnya dari mulut wanita yang dia cintai selama ini.
"Jadi kamu menuduh aku menikah karena ingin memiliki anak begitu?" tanya Davi dengan kepala yang menggeleng tidak percaya.
"Bukan itu maksudku Vi." membela diri.
"Lalu apa? sudah jelas perkataan mu seperti itu Zara!" sentak Davi menepis tangan Zara.
"Maaf." permintaan maaf lah yang akhirnya keluar dari mulut sang wanita atas kebodohannya saat berucap.
Davi sudah melangkah dengan derap yang terdengar jelas menuju pintu apartemen, sudah pasti lelaki itu akan keluar jika saja Zara tidak keburu menarik tangannya dan memeluk tubuh lelaki itu.
Zara menangis di punggung Davi menyesali perkataannya dengan mulut yang berulang kali menuturkan kata maaf.
"Lepas Za, aku ingin menenangkan diri." Davi mencoba melepaskan pelukan erat Zara di pinggangnya namun tangan Zara malah semakin kuat memeluknya.
"Sudah, berhenti menangis." kata Davi akhirnya setelah sekian lama mereka berada di posisi itu dengan suara tangisan wanita di balik tubuhnya.
Perlahan Davi melepaskan kedua tangan Zara dan memutar tubuhnya hingga sekarang mereka berhadapan.
"Aku akan menuruti permintaan mu, kita menikah tapi tinggal terpisah dan menunda untuk memiliki anak. itu yang kamu mau bukan?" kata Davi seraya mengangkat dagu Zara yang menunduk dan masih mengeluarkan tangisnya.
"Jangan menangis lagi, perasaan bersalahku akan semakin banyak nantinya." ucap Davi menghapus air mata yang sudah bersiap untuk kembali mengalir dari kedua mata wanita tercintanya itu.
Untuk sekian kalinya mata mereka saling bertemu dengan binar yang selalu sama seperti dulu membuat akhirnya mereka mulai terhanyut dalam sebuah perasaan yang mendadak muncul dan membumbung tinggi meminta untuk menuntaskan apa yang sekarang tengah memaksa untuk dilakukan.
Tanpa bisa di tahan lagi Davi pun mulai mengecup seluruh wajah wanitanya dengan lembut sampai berhenti di satu titik yang akhirnya membuatnya begitu fokus memusatkan perhatiannya pada titik itu.
__ADS_1
Keduanya malah semakin terhanyut hingga sekarang Davi menuntun Zara untuk masuk ke dalam kamarnya dengan tak henti memberikan sentuhan-sentuhan yang sungguh tidak bisa di tolak oleh sang wanita.
****