
Dan sekarang mereka hanya berdua di dalam kamar, Davi sudah mengunci pintu lalu menyimpan kuncinya apalagi jika bukan untuk mengantisipasi agar istrinya itu tidak lari lagi, sesungguhnya dia sangat capek dengan wajah yang tak karuan malah di ajak kucing-kucingan oleh sang istri.
Sejak tadi dia sangat ingin memeluk wanita yang dua Minggu itu dia ratapi memeluk erat menyalurkan kerinduan yang mendalam, tapi yang dia dapatkan malah hal konyol yang Zara lakukan.
"Za," suara Davi malah membuat Zara menundukkan wajahnya tak berani menatap pria yang berdiri di depannya.
"Kenapa diam saja? ini Zara kan? Zara istriku," kata Davi lagi ketika Zara tak menjawab panggilannya.
"Bicara Za, apa kamu tidak kasihan sama aku? dua Minggu ini aku layaknya orang gila yang terus menerus mengingat kamu mengingat semua kenangan kita, bahkan aku berpikir kamu sangat marah padaku hingga memberikan hukuman yang tidak pernah bisa aku tanggung, aku mengira kamu dan anak kita benar-benar meninggalkan aku sendiri," tutur Davi menyentuh perut Zara yang menonjol.
Pria itu tahu anaknya dalam keadaan sangat sehat meski tidak ada dirinya, Zara merawatnya dengan sangat baik.
"Zaaaa," suara Davi mulai frustasi mendapati Zara masih belum mau membuka mulutnya.
"Aku takut."
Sayup-sayup Davi mendengar suara dari Zara membuat dia menundukkan sedikit tubuhnya dan memajukan telinganya agar bisa mendengar apa yang Zara katakan.
"Aku takut!" kata Zara sedikit kencang karena kesal telinga Davi malah sangat dekat dengan bibirnya, kalau saja tidak sedang ketakutan mungkin ia sudah menggigit telinga suaminya itu.
"Takut? takut aku marah seperti yang dikatakan oleh Ipul?" ujar Davi mengingat apa yang sempat Ipul katakan padanya dan anggukan Zara pun sontak membuat dia tersenyum seraya menarik tubuh Zara masuk ke dalam dekapannya.
Tidak ada yang lebih baik selain mendekap tubuh wanita yang dicintai setelah kesalahpahaman yang terjadi.
"Apa aku terlihat akan marah?" tanya Davi memejamkan matanya merasakan aroma tubuh dari istrinya yang sudah sangat familiar di indera penciumannya.
"Iya!"
Davi mengernyit mendengar jawaban dari Zara.
"Dari caramu menatapku, dari caramu memanggil ZARA!" Zara mengulang lagi saat Davi memanggilnya dengan suara yang menggelegar.
"Lalu?" tanya Davi menahan senyum.
"Saat kamu mengancam akan menghancurkan taksi, apa kamu pikir semua itu bukan kemarahan?!" celoteh Zara dengan wajah cemberut.
"Bukankah kamu yang marah denganku hingga kabur menyusul Ipul, hhmm?" ledek Davi pada wanita yang sekarang mencoba berontak dari dekapannya.
"Jangan ngomongin kabur-kabur terus!" kesal Zara mendadak menjadi tak suka dengan kata kabur terkesan sangat menyindir.
"Iya iya oke, nggak ngomongin kabur lagi, tapi aku mohon kamu diam saat aku sedang melepaskan rinduku pada kamu," bisik Davi yang dituruti oleh Zara.
Wanita itu kini tak bergerak membiarkan suaminya melakukan apa yang tadi dia katakan.
"Aku juga ingin kamu peluk," pinta Davi saat Zara tidak membalas dekapannya, bukankah seharusnya tangan Zara melingkar di pinggangnya? dan Zara pun membalas pelukannya.
Hening.
__ADS_1
Kamar itu menjadi sangat hening ketika dua orang yang berdiri membelakangi pintu masih saling memeluk, menyalurkan semua perasaan senang yang tak terhingga terutama untuk Davi, pria itu bahkan melupakan rasa sakit di wajah serta perutnya akibat pukulan yang Ipul berikan.
"Za."
"Hm," menjawab singkat.
"Aku minta maaf.."
"Jangan mengatakan apapun! jangan pernah minta maaf lagi, aku benci karena itu akan membuat aku kembali ingat apa yang sudah aku lupakan! aku sukses menghilangkan serta melupakan semua yang aku dan kamu alami ketika berada tempat Ipul, lalu sekarang kamu malah ingin mengingatkan aku kembali? lebih baik aku pergi saja lagi!" ketus Zara seraya mengurai pelukan mereka lalu membelakangi sang suami.
"Maaf."
"Aku bilang jangan minta maaf!" kata Zara
dengan kakinya yang menghentak ke lantai.
Kata-kata yang Davi ucapkan malah memancing kekesalannya, dia yang tadi takut malah ingin mengomel.
Davi tersenyum lalu kembali menarik Zara kedalam pelukannya, "aku benar-benar bahagia," tutur Davi.
"Kamu tidak marah lagi?" tanya Zara mengangkat wajahnya menatap wajah penuh memar di depan matanya.
"Tidak, sejak Ipul mengatakan kamu masih hidup dan pergi bersamanya aku sama sekali tidak marah," sahut Davi.
"Tapi tadi.."
"Tadi aku bilang aku takut."
"Karena kamu pergi ke tempat Ipul tanpa bilang apapun?"
Zara mengangguk seraya berucap lirih, "aku merasa bersalah, karena kebodohan ku yang membiarkan koperku berada di bagasi pesawat hingga kamu menyangka bahwa aku sudah meninggal."
"Sejujurnya aku merasa kebohongan mu itu adalah sebuah keberuntungan buat aku, aku tidak menyesal atau marah karena kamu berbohong karena pada akhirnya karena kebohongan mu itu sudah memberi aku kesempatan untuk bisa memelukmu lagi, bisa melihat wajah ini, bibir ini mata ini, aku bisa menggapai lagi kebahagiaanku bersama kalian, istri dan anakku tercinta," tutur Davi menciumi seluruh wajah sang istri lalu berjongkok guna mencium perut istrinya.
"Papa rindu kamu juga," mengulas senyum namun tak terasa air matanya malah merembes keluar dengan segera dia menyekanya dengan tangan dan kembali tersenyum.
"Jadi kamu tidak marah?" mata Zara berbinar antusias dan sangat bersemangat.
"Tadi tidak," tukas Davi tenang.
"Tadi tidak?" raut wajah Zara pun menjadi heran.
__ADS_1
"Iya, tadi tidak akan marah seandainya kamu tidak terus menghindar," sahut Davi seraya kembali berdiri di depan istrinya lalu tangannya mulai menyentuh wajah bingung Zara.
"Tadi tidak marah, lalu artinya sekarang marah?" dengan polosnya bertanya.
Davi mengangguk, "benar, dan aku berpikir untuk memberi kamu sedikit hukuman," dengan mata yang membuka lebar dan jari jemarinya semakin menjadi bergerak di seluruh wajah Zara lalu bermain di bibir milik sang istri.
"Aaaaahhhh," Zara yang mulai paham pun berteriak lalu mencoba menghindar.
Ia berlari ke sisi tempat tidur dan menaikinya melemparkan apa saja yang ada di dekatnya, bantal guling serta selimut sudah mengenai tubuh Davi, lemparannya tidak ada yang meleset satupun semuanya tepat sasaran mengenai orang yang ia tuju.
"Hanya sedikit saja, hukuman sepadan karena selama dua Minggu membuat aku kesepian, di tambah sebelumnya pun kamu tidak pernah mau tidur denganku bukan?" kata Davi mengungkit saat mereka masih berada di Australia, bagaimana Zara yang terus menghindar darinya saat dia mendekat.
"Tidak mau! aku baru sampai dan aku lelah!" tolak Zara.
"Aku tidak peduli!" Davi menjawab tak kalah ketus lalu menaiki tempat tidur.
Grep!
Menahan tubuh Zara yang akan menghindar darinya.
"Wajahmu terluka, obati dulu."
"Terlalu banyak alasan."
Davi tidak mengindahkan semua yang Zara katakan agar bisa selamat dari hukuman yang katanya hanya sedikit.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*