Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 123


__ADS_3

Zara tengah duduk di depan cermin meja rias, menatap wajahnya dan wanita itu merasa sedikit terlihat pucat. oh tidak! bahkan tampak sangat pucat dan seperti tidak ada darah yang mengalirinya.


Setelah beberapa jam lalu ia merasa kecewa dengan sikap suaminya yang berniat untuk mengajaknya menemui terapis kejiwaan, psikolog, psikiater, atau sejenisnya yang tidak mau ia tahu.


Sungguh wanita yang bola matanya sudah tidak lagi bersinar seperti dulu itu merasa teramat kecewa dan tersinggung dengan semua yang suaminya itu lontarkan beberapa jam yang lalu, tak percaya jika pria yang sejak lama ia puja itu mengatakan hal konyol yang menyinggung sisi hatinya, dengan alasan berkonsultasi? jelas saja Zara bukanlah wanita bodoh yang tentu tahu maksud pernyataan dari mulut Davi itu.


"Aku bukan orang gila kan?" ucap Zara pada pantulan wajahnya di cermin.


Terdiam sesaat lalu kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya berkata menjawab pertanyaannya sendiri "kamu memang tidak gila Za, tidak! kamu bukan orang gila!" tegas Zara dengan bola mata yang membesar seakan menegaskan dirinya seorang yang normal dan baik-baik saja.


"Lalu kenapa Davi ingin membawaku bertemu dengan orang yang tak jelas, bertemu dengan orang yang tentu saja sering menghadapi orang-orang dengan kejiwaan yang tidak stabil, orang-orang yang bisa di sebut gila? apa dia memang sudah bosan denganku? apa dia berniat untuk berpisah dengan ku?" tanya Zara lagi pada dirinya sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin tak karuan, pertanyaan yang malah mengundang kecurigaan dan membuatnya justru mendadak menahan napasnya yang jelas terlihat begitu sesak hingga dadanya naik turun dengan cepat.


"Za.."


Baru saja bibir Zara bergerak untuk menjawab perkataannya sendiri sudah dikejutkan dengan panggilan dari pria yang kini malah ia curigai akibat pemikirannya sendiri.


Wanita yang kini memakai baju terusan berwarna cokelat muda itupun tidak menolehkan wajahnya guna melihat sang suami hanya bibirnya saja yang naik sedikit seperti menahan sesuatu di dalam hatinya yang ia tahan untuk tidak ia keluarkan.


Tidak ada jawaban maupun gerakan dari tubuh Zara sampai ketika pria yang menjadi suaminya itu kini berdiri di belakangnya lalu mengusapkan telapak tangan di rambut hitam Zara seraya mengelusnya dan terlihat begitu menenangkan, namun yang dilakukan oleh Zara hanyalah menatap pantulan wajahnya dengan tatapan kosong.


Wanita itu seperti tidak bernyawa dengan warna kulit yang lebih pucat dari biasanya, sangat jauh berbeda dari Zara yang Davi kenal dulu.


"Memikirkan apa?" tanya Davi ketika tak juga ada jawaban ataupun gerakan dari sang istri.

__ADS_1


Sudah lewat beberapa menit dari pertanyaannya namun dia masih juga tidak mendengar jawaban dari istrinya itu, sehingga Davi pun membungkukkan sebagian tubuhnya lalu menempatkan kepalanya di bahu sang istri yang tetap tak bergeming.


"Za?" Dan lagi Davi memanggil nama istrinya dengan begitu lembut bahkan di samping telinga wanita itu hingga hembusan napasnya pun begitu terasa hingga membuat Zara memejamkan kedua matanya.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Davi kemudian karena dia pun sangat sadar apa yang sudah dia lakukan tadi pagi memang benar-benar salah, bukankah seharusnya dia berbicara pelan-pelan terlebih dulu sebelum mengatakan hal yang jelas dia paham benar bahwa Zara pasti akan kecewa bahkan marah padanya seperti sekarang ini?


Bagaimanapun Zara setuju dengan perkataannya sedangkan dia tahu bahwa istrinya itu merasa baik-baik saja dan tidak menyadari bahwa ada trauma besar yang tengah mengusik wanita itu hingga membuatnya terus bersikap aneh tanpa wanita itu sadari.


"Sayang?" panggil Davi seraya menatap pantulan wajah sang istri melalui cermin besar di depan mereka.



Kepala Zara bergerak sedikit untuk mencari kenyamanan akibat pipinya bergesekan dengan pipi sang suami.




"Lalu kenapa diam saja?" tanya Davi lagi sambil meneliti setiap kepucatan yang kini seakan menodai wajah bersinar istrinya, pria itu bahkan mengutuk di dalam hatinya, menyumpahi pria sialan yang sudah membuat wanita yang sangat dia cintai tak lagi seperti dulu.



Hanya gelengan kepala yang dijadikan Zara sebagai jawaban hingga membuat Davi menghembuskan napasnya dengan sangat panjang.

__ADS_1



"Ya sudah kalau tidak mau jawab," kata Davi kemudian lalu menjauhkan kepalanya dari bahu sang istri dan berdiri tegak di belakangnya.



"Kamu bersiaplah," pinta Davi yang langsung saja membuat kelopak mata Zara membesar dan Davi mengerti apa yang kini ada di dalam pikiran wanita di depannya itu.



"Aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor," kata Davi dengan cepat agar Zara tidak berpikir bahwa dia akan membawanya menemui psikiater.



Tentu pria itu akan tetap membawa Zara bertemu dengan psikiater tapi tidak sekarang, sebab dia harus memberikan pengertian terlebih dulu pada istrinya itu karena tidak mau kejadian tadi pagi kembali terulang, dia tidak mau membuat istrinya semakin tertekan karena dia memaksa sekalipun hal itu untuk kebaikan sang istri.



Tatapan Zara yang tadi terlihat sudah sangat siap untuk marah pun kembali meredup, lalu tanpa menunggu Davi berbicara lagi wanita itupun segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian yang pantas ia gunakan di luar rumah.


Sedangkan Davi hanya menatap punggung istrinya dengan tatapan yang begitu menyakitkan, tak pernah sekalipun ada di dalam pikirannya bahwa semua ini akan terjadi pada mereka, rumah tangga yang mereka bangun belum lama namun sebuah kejadian menyakitkan harus mereka hadapi.


Pria itu mungkin masih bisa menyembunyikan perasaan pedih di dalam hatinya, menyimpannya sendiri dan tidak menunjukkannya pada orang lain terutama wanita yang kini memunggunginya, namun melihat apa yang terjadi pada diri Zara setelah tragedi itu dia sangat yakin Zara bisa melakukan apapun jika dia meninggalkan Zara seorang diri tanpa pengawasan darinya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2