
Zara tak menyangka setelah malam pertama dengan suaminya ia merasa sangat kecanduan dengan segala sentuhan yang lelaki itu berikan, sungguh membuatnya tak terkendali membuat ia yang polos dan tak pernah di sentuh oleh lelaki manapun sejak dulu menjadi sangat terlena dengan setiap sentuhan yang suaminya berikan, sentuhan di tubuhnya yang hanya seorang Davi lah yang ia biarkan melihat setiap inci tubuhnya tanpa terkecuali, seperti malam ini begitu sampai di rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka dalam membina rumah tangga dengan genitnya Zara langsung menyenggol ringan lengan suaminya yang membuat tatapan lelaki itu langsung mengerti.
"Aku capek." ucap Davi yang hanya menggoda saja, dan dia menjadi gemas kala ekspresi wajah istrinya langsung berubah sangat lucu, menjadi marah namun tetap di tahan, lihatlah Davi semakin tak tahan saat wanita yang sudah sepenuhnya menjadi miliknya itu malah mengerucutkan bibirnya merajuk ketika dia malah mengatakan hal yang berbeda dari yang wanita itu inginkan.
Tanpa kata Zara langsung melenggang pergi seraya menghentak-hentakkan kakinya ke lantai menimbulkan suara yang malah membuat Davi tergelak melihatnya.
"Kamu tidur di bawah." seru Zara ketika sudah di tengah tangga seraya melihat dengan wajah yang sangat jutek pada sang suami.
Mata Davi terbelalak mendengar seruan istrinya, sangat tidak mungkin baginya yang terbilang masih pengantin baru harus tidur di lantai bawah rumah itu sedangkan istrinya tidur nyenyak di lantai atas dalam kamar yang harusnya mereka berbagi udara panas malam ini.
Tanpa pikir panjang secepat kilat Davi pun melesat mengejar Zara yang juga segera berlari begitu mendapati suaminya tengah menuju padanya.
Wanita yang dongkol dengan suaminya itu pun menuju kamar dan berniat untuk menutup pintu namun gerakannya kalah cepat dengan sang suami yang sudah menahan pintu dengan tangan dan kini memamerkan senyum nakalnya.
"Mau menguji adrenalin rupanya?" ucap Davi seraya menaik turunkan alisnya menggoda sang istri yang hanya menongolkan kepalanya saja.
"Kamu nyebelin." tuding Zara sengit dengan wajah masam.
"Buka sayang." pinta Davi ketika Zara masih berusaha menahan pintu.
Zara tak mau mendengar perkataan sang suami malah semakin menahan pintu dengan tubuhnya. "Katanya tadi capek, ya udah tidur aja sana." sengit Zara menyindir apa yang tadi di katakan oleh suaminya tak peduli meski itu hanya sekedar gurauan saja.
"Nggak mau merem melek bareng aku lagi kah?" tanya Davi yang sungguh membuat Zara mendelik apalagi senyuman mesum yang lelaki itu tunjukkan saat ini.
"Seminggu lagi aku harus balik Australia loh. masa nggak mau puas-puasin dulu." kata Davi lagi yang kali ini sukses membuat Zara perlahan menggeser tubuhnya agar pintu terbuka dan sang suami bisa masuk ke dalam.
Dengan segera Davi pun masuk ke dalam kamar langsung memeluk tubuh istrinya lalu menciumi serta mengendus rambut wanita bertubuh tanpa cela itu.
"Kenapa cepat banget baliknya?" kini Zara malah memikirkan suaminya yang akan meninggalkan dirinya. "Kita baru nikah, aku masih ingin tidur bareng kamu." Zara berkata sangat lirih.
"Maka dari itu berhenti bekerja lalu ikut denganku." Davi menggunakan kesempatan untuk membuat istrinya berhenti bekerja dan ikut bersamanya karena memang dia tidak akan bisa meninggalkan begitu saja tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin perusahaan, tidak mau mengecewakan orang tuanya yang sudah susah payah membangun perusahaan di sudut kota Australia untuk dirinya.
"Jangan memaksakan diri, jika kamu tidak bisa." ujar Davi kemudian ketika mendapati wanita dalam dekapannya malah jadi termenung karena ucapannya tadi.
Zara memutar tubuhnya agar bisa menatap wajah sang suami yang memang sudah selalu mengisi setiap mimpinya, mengulas senyum dengan tangan yang mengelus lembut rahang yang terlihat begitu tegas.
__ADS_1
"Sesuai yang sudah kita bicarakan, tiga bulan lagi aku baru akan resign." tutur Zara dengan suara yang terdengar begitu syahdu menggelitik indera pendengaran dari suaminya dengan sentuhan napas yang terasa panas menyentuh kulit leher yang sejak tadi senantiasa bergerak menelan saliva nya.
Davi mengangguk mengerti, dia tidak mungkin memaksa Zara karena lelaki itu tau seseorang yang di paksa akan semakin tertekan nantinya dan malah membuat rumah tangga yang baru di bangun dihiasi dengan keributan, dia tidak akan mau itu terjadi.
"Mau mandi atau langsung?" Davi memberi pilihan melupakan pembicaraan yang akan sangat sensitif bagi keduanya.
Zara tersenyum bahagia sebab Davi sudah sangat mengerti dirinya, jauh berbeda dengan Davi yang dulu ia kenal dengan segala sifat yang menyebalkan dari lelaki itu.
"Terserah suamiku saja." Zara sedikit mengangkat kepalanya untuk bisa berbisik di telinga suaminya, tentu saja sambil memberikan tiupan napas menggoda.
"Mandi bersama lalu setelah itu berlanjut ke yang lebih menakjubkan." menjawab cepat lalu tanpa aba-aba menggendong tubuh wanita yang sejak tadi terus menggodanya membuat sesuatu yang sensitif terbangun dari tidurnya.
Zara mengeluarkan tawa renyahnya menghadapi perlakuan lelaki yang bahkan tangannya tak bisa diam terus menepuk pangkal pahanya sepanjang menuju kamar mandi.
"Kita lakukan sepanjang malam." kata Davi yang langsung menyerang kulit leher istrinya yang terlihat basah.
Mulai terdengar suara-suara yang begitu menggoda di dalam kamar yang sedikit redup, suara yang mampu membangkitkan hasrat siapapun yang mendengarnya, termasuk seseorang yang kini tengah menyandar di balkon kamar dua orang yang tengah melakukan hubungan dengan pasangan sah mereka.
Lelaki yang mengenakan topi itu tampak ikut larut dengan permainan dari sepasang suami istri yang makin tak terkendali guna mencapai apa yang mereka kejar sejak tadi.
"Aaah." tanpa sengaja lelaki yang tak terlihat wajahnya itu mengeluarkan suara berbarengan dengan Davi ketika menuntaskan permainannya membuat Davi menatap ke arah jendela sedangkan Zara menatap wajah suaminya yang terdiam karena wanita itu tidak mendengar suara menjijikkan dari laki-laki lain selain suaminya.
Davi memakaikan selimut untuk menutupi tubuh sang istri lalu dia pun memakai celana yang sudah tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Zara namun suaminya itu malah tak menjawab memilih turun dari ranjang.
Davi berjalan cepat menuju jendela kamar lalu menyingkap gorden yang sudah tertutup dan dengan kasar membuka jendela menuju balkon, namun dia tidak mendapati siapapun di sana.
Mata Davi menatap ke setiap arah mencari sesuatu yang mencurigakan, namun nihil dia tak mendapati apapun melainkan hanya angin yang bertiup sangat kencang.
Davi langsung berlari keluar rumah ketika mendengar suara motor dari samping rumahnya.
"Ada apa Mas?" tanya Pak Rahmat ketika melihat sang pemilik rumah berlari cepat menuju pagar.
Rahang Davi mengeras saat hanya melihat lampu motor yang sudah pergi menjauh.
"Bapak lihat orang mencurigakan nggak?" tanya Davi dengan mata yang terlihat awas.
"Nggak Mas." jawaban Pak Rahmat membuat Davi makin kesal.
"Argh." Davi menggeram marah lalu tanpa bicara gegas berlalu.
"Sayang." Zara yang sudah berdiri di tangga melihat wajah cemas dari suaminya.
"Nggak apa-apa." kata Davi menyembunyikan semua yang ada di dalam pikirannya agar tidak membuat istrinya itu ketakutan dan cemas.
__ADS_1
Davi memilih untuk mengajak Zara masuk ke dalam kamar dan tidur, meskipun Davi tetap saja tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, apalagi ketika tadi Zara yang terus bertanya apa yang terjadi membuat dia terpaksa berbohong, tidak mau mengatakan apa yang dia dengar.