Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 61


__ADS_3

Siang hari ketika suhu di Australia mulai semakin dingin dan semua yang berada di luar rumah pun tampak memakai mantel yang lumayan tebal untuk membantu mereka berlindung dari udara musim dingin yang semakin dekat.


Begitu juga dengan Zara dan teman-temannya yang sekarang ini sedang berada perbelanjaan untuk membeli buah tangan untuk mereka bawa pulang ke Indonesia besok.


"Kenapa pakai jaket tipis begini si Zara?" keluh Reni melihat hanya jaket berbahan tidak terlalu tebal yang digunakan oleh temannya itu.


"Aku suka dingin." seru Zara yang malah terlihat sangat senang.


"Nanti masuk angin." kata Abian cemas.


"Kulit aku cukup tebal kok." sahut Zara konyol.


"Kulitnya tebal tapi dagingnya sedikit ya sama aja toh Zara." timpal Titi meledek.


"Mbak maah." rajuk Zara mendengar ledekan wanita yang lebih senior darinya.


"Makanya makan yang banyak jangan malah teh diet terus tiap malam sama pagi yang di konsumsi." kali ini Sinta ikut bersuara karena juga ia tahu rutinitas apa yang di lakukan oleh Zara ketika malam dan pagi hari.


Tidak ada yang mengira bahwa sejak tadi obrolan mereka di dengarkan oleh seseorang yang bahkan sejak pagi buta sudah nongkrong di depan hotel tempat Zara menginap dan langsung mengikutinya ketika melihat wanita yang dia tunggu keluar bersama teman-temannya.


Semalaman Davi tidak bisa tidur memikirkan Zara yang kembali hadir dalam hidupnya, lelaki itu sangat gelisah bahkan memejamkan mata saja rasanya dia tak sanggup, hingga ketika hari menjelang pagi dia langsung bergegas mandi dan menuju hotel tempat Zara menginap, dia merasa beruntung karena semalam mengikuti taksi yang membawa Zara sehingga dia tahu, sekalipun saat berada di dalam mobilnya Zara tidak juga mengatakan dimana wanita itu menginap selama di Australia pada Davi padahal Davi sudah bertanya untuk bisa mengantarkan Zara.


"Kamu tidak perlu meminum teh diet itu Zara, seperti apapun kamu aku akan tetap menyukai." Abian sudah mulai melancarkan serangan cintanya untuk Zara berharap Zara mau berubah pikiran yang hanya menganggapnya sebagai teman saja.


Mata Davi membelalak melihat ada seorang lelaki yang mengatakan rayuan gombal pada Zara,hatinya berdenyut cepat merasakan kesal dengan tangan yang terkepal.


Entah kenapa dia tidak terima ada lelaki lain yang menyukai Zara dan berusaha untuk mendekatinya padahal dulu dia sendirilah yang telah mengabaikan Zara tanpa perasaan.


"Semalam kamu kemana Zara?" tanya Reni seraya mulai mengisi keranjang yang ia bawa dengan barang yang ingin ia beli, segala macam pernak-pernik Khas Australia tersedia di tempat itu, toko itu memang banyak di kunjungi para pendatang yang berasal dari negara manapun untuk sekedar membeli buah tangan yang akan di bawa pulang nantinya.



"Terkunci di kamar mandi." sahut Zara dengan juga ikut sibuk memilih apa yang mau dia beli.

__ADS_1


"Hah, kamu nggak apa-apa tapinya kan?" kembali Abian menghampiri Zara dan memastikan wanita yang dia sukai tidak mengalami hal aneh apapun.


Zara menggeleng dengan senyum.


"Lalu kalian sendiri kemana? aku keluar kalian sudah tidak ada?" tanya Zara.


"Kami di suruh pergi oleh pelayan di cafe itu, yah bukan hanya kami saja tapi pengunjung yang lain juga sama, mereka semua di minta untuk pergi dari cafe karena cafe mau tutup, aneh padahal yang aku tahu cafe itu bukan sampai pagi." kali ini Sinta ikut nimbrung dengan pembicaraan teman-temannya.


Dalam hatinya Zara terus memaki karena ia tahu semua itu perbuatan siapa, ya siapa lagi kalau bukan Davi karena di depan memang di depan matanya lelaki itu menelepon orang untuk menutup cafe saat dirinya mengancam akan berteriak.


"Sudah-sudah, cepat selesaikan apa yang ingin kalian beli, setelah ini kita harus beristirahat untuk kembali ke Indonesia besok." ujar Titi mengingatkan.


Mata Davi berbinar mendengar besok Zara juga akan pulang ke Indonesia itu artinya dia bisa bertemu dengan Zara saat sudah di negara kelahirannya.


Zara dan yang lainnya berpencar karena masing-masing dari mereka ingin membeli barang yang mereka inginkan, sekaligus membelikan beberapa titipan dari orang terdekat mereka.


Zara tengah seorang diri menyusuri lorong yang dikelilingi oleh rak-rak tinggi dan besar dengan berbagai macam barang-barang.


Zara hampir saja berteriak ketika ada tangan yang menariknya ke sudut tempat yang lumayan sepi dari pengunjung dan temannya pun entah berada di mana semuanya.


"Kamu ikut aku sekarang." kata Davi yang terang saja membuat Zara mengernyit.


"Nggak, ngapain aku ikut kamu." tolak Zara menggeleng.


"Kamu akan pulang ke Indonesia bukan?"


"Lalu?"


"Pulang denganku besok, sekarang kamu tidur di apartemen ku." kata Davi tegas dan dengan paksaan.


"Apa-apaan sih kamu Davi, aku nggak mau pulang sama kamu, aku akan pulang dengan teman-temanku."


"Aku tidak mau kamu berdekatan dengan lelaki yang sejak tadi merayu kamu." sahut Davi konyol.

__ADS_1


Mata Zara membuka lebar mendengar pernyataan Davi.


"Kamu mengikuti aku?" tanya Zara tak percaya.



"Tidak, aku hanya kebetulan berada di tempat ini." bohong Davi tidak mengakui yang sebenarnya.



Zara memutar bola matanya jengkel, kenapa semua harus serba kebetulan, sudah kesal karena semalam bertemu tapi sekarang masih harus bertemu juga dengan mantan kekasihnya ini.


"Ikut aku Zara." kata Davi lagi.


"Tidak." geleng Zara.


"Aku tidak mau."


Davi menghembuskan napas kasarnya karena dia tahu tidak akan bisa memaksa Zara untuk ikut bersamanya.


"Oke, tapi saat di Indonesia tunggu aku di rumahmu karena aku akan datang menemui mu." ucap Davi lalu dengan cepat mencium kening Zara sebelum pergi.


Perbuatan Davi sungguh membuat Zara membelalak dan mematung dengan napas yang terhenti.


Lelaki itu bisa-bisanya mencium dirinya sedangkan ada wanita bernama Lisa yang menjadi kekasihnya saat ini.



Sungguh sikap Davi tidak bisa di mengerti oleh Zara, dulu lelaki itu yang memintanya untuk pergi tapi sekarang justru lelaki itu yang terus mendekat ke arahnya saat hatinya sudah mulai terbiasa sendiri.



Tangan Zara menyentuh kening dimana Davi sempat mendaratkan bibirnya di sana.

__ADS_1


Wanita itu memejamkan kedua matanya menahan sakit yang kembali muncul karena Davi seperti sedang mempermainkan dirinya.


****


__ADS_2