Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 83


__ADS_3

Mata Reino tampak membesar saat Davi menunjukkan foto-foto Lisa yang sedang berciuman dengan Robert di sebuah cafe.


"Selama ini Lisa dan Robert sudah berbuat sangat jauh." ucap Davi kemudian mengungkap fakta tentang bagaimana sesungguhnya seorang Lisa.


"Lalu kenapa kamu membiarkannya?" tanya Reino tak habis pikir bahwa Davi malah menutup mulutnya padahal saat itu Lisa adalah kekasihnya.


"Davi sudah selalu katakan pada Lisa Kak, bahwa Davi hanya memiliki perasaan sayang sebagai seorang teman saja terhadapnya. tidak lebih bahkan Davi sudah berulang kali mencoba untuk mengakhiri hubungan dengan Adik Kakak tapi tidak bisa." ucap Davi seraya terus menarik napas mengatur nada bicaranya agar tetap normal.


"Terakhir kali bahkan Lisa mencoba untuk bunuh diri, dan itu Kakak juga tau." Davi seperti mengingatkan kejadian yang sudah berbulan-bulan lamanya.


"Jika dari awal kamu memang tidak suka sama Lisa kenapa kamu menerimanya?"


Dan untuk sekian kalinya Davi menarik napas lalu menghembuskan nya sebelum memulai kembali pembicaraan.


"Davi hanya tidak mau mengecewakan Lisa Kak, Davi berusaha untuk mencoba membuka hati dan belajar untuk menyayangi dan mencintai Lisa sebagai kekasih, dan saat itu juga Lisa setuju dengan permintaan Davi untuk mengakhiri hubungan jika ternyata Davi benar-benar tidak bisa menerimanya sebagai kekasih." jawab Davi dengan raut wajah yang terlihat bersalah.


Sejujurnya dia sudah berusaha untuk bisa mencintai Lisa, tapi pada kenyataannya seiring berjalannya waktu dia tidak bisa menyediakan tempat di hatinya untuk wanita itu.


Sekian tahun berlalu hatinya tetap saja di huni sepenuhnya oleh Zarania. ya hanya Zarania seorang lah yang tetap kokoh di dalam hatinya sekalipun wanita itu sempat hilang selama beberapa tahun namun nyatanya itu tidak membuat Davi menggesernya dari dalam hati serta pikirannya.


Sungguh Davi sangat mencintai Zara dengan segenap hatinya, dan sekarang Davi tidak ingin lagi menyia-nyiakan wanita itu sedikit pun.


Reino menarik napas seraya menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan kisah cinta Adiknya yang dengan tega memaksa seorang lelaki untuk menjadi kekasihnya, sedangkan dia tahu bahwa lelaki itu tidak sedikitpun memiliki perasaan padanya.


"Lisa juga sempat menyebut nama Zara, apa wanita itu?" tanya Reino tanpa melanjutkan pertanyaannya sebab sudah pasti Davi akan mengerti dengan apa yang dia maksud.


Davi mengangguk.


"Zara lah yang selama ini ada di hati Davi Kak, Davi dan Zara juga sudah berencana untuk menikah." Davi berkata jujur pada Reino sebab dia tau sifat Reino sangat berbeda jauh dengan Adiknya, bahkan saat Lisa meminum racun serangga pun Reino tidak pernah menyalahkan Davi, mungkin jika yang menjadi Kakak dari Lisa memiliki sifat yang sama dengan Adiknya, bisa di pastikan Davi akan mendapat masalah serta caci maki.


Davi bisa bernapas lega kala Reino tidak menyalahkan dirinya tapi malah meminta maaf atas perbuatan sang Adik yang sangat keterlaluan saat itu.


Keduanya saling diam dengan Reino yang terus memandang foto Adiknya seraya menggeleng-gelengkan kepala, sangat tidak menyangka Lisa bisa pergaulan Lisa menjadi sangat liar.


Di dalam cafe saja yang pastinya banyak orang Lisa bisa dengan tenangnya berciuman dengan Robert yang juga Reino sangat kenal, apalagi jika mereka hanya berduaan saja.

__ADS_1


"Apa yang mereka sudah perbuat?" tanya Reino pada Davi yang mengernyit menatapnya.


"Kamu pasti tau apa yang sudah mereka lakukan, tidak mungkin hanya sekedar berciuman?" Reino memperjelas pertanyaan yang dia maksud.


"Kakak tanyakan sendiri saja sama mereka berdua, Davi tidak ingin berbicara apa yang bukan menjadi urusan Davi." sahut Davi yang memang sangat tidak mau mencampuri urusan orang lain yang hanya sekedar teman saja karena sekarang baginya urusan yang lebih penting adalah Zara, memikirkan bagaimana caranya agar dia dan Zara bisa segera menikah setelah sampai di Indonesia.


****


Puas berkeliling di tempat yang sangat indah, Zara dan teman-temannya memutuskan untuk berbelanja oleh-oleh, sepertinya mereka tidak akan Lisa jika tidak belanja lebih dulu sebelum kembali ke Negara mereka.


"Kamu di mana?" tanya Davi melalui telepon.


Setelah berbicara dengan Reino Davi langsung kembali ke kantornya untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang masih tersisa.


"Lagi belanja dulu." kata Zara mengatakan apa yang ia lakukan sekarang.


"Ini sudah sore Za." ucap Davi secara tidak langsung meminta Zara untuk segera pulang ke apartemen.


"Iya sebentar lagi. kamu lagi apa sekarang?" tanyanya sambil melihat-lihat barang yang di jual di toko itu.


"Oh ya udah." Zara cukup mengerti karena sebelumnya Davi memang sudah mengatakan untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu sebelum pulang.


"Ingat pesan aku ya, setelah pulang jangan pernah buka pintu dan mengijinkan siapapun untuk masuk, jangan bertemu dengan orang yang tidak kamu kenal." titah Davi tegas meminimalisir apa yang tidak dia inginkan.


"Iya." Zara menurut, wanita itu masih menempelkan HPnya di telinga sebab Davi masih terus berbicara padanya.


"Ya sudah aku selesaikan pekerjaan aku dulu, kamu hati-hati." tutur Davi lembut lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Zara tersenyum bahagian Karena ia bisa merasakan cinta Davi yang sangat dalam kepadanya, cinta yang sejak dulu sangat ia harapkan akhirnya pun menjadi kenyataan meski sebelumnya harus merasakan kecewa yang berulang kali karena lelaki itu terus saja mengucap kata putus.


"Kamu bahagia banget kayaknya." suara Abian membuat senyum Zara menghilang, bahkan Zara tidak tau sejak kapan lelaki itu ada di dekatnya.


"Padahal sejak dulu kamu tau kalau aku menyukai kamu." entah kenapa Abian mengungkit perasaannya yang tidak pernah sekalipun mendapatkan balasan dari Zara.


Abian membuang napas kasar lalu menatap Zara tepat di matanya sangat dalam seperti mencoba untuk masuk ke dalamnya.

__ADS_1


"Hati aku sakit Za, lihat kamu sama pria lain." ucap Abian dengan kekecewaan yang terlihat jelas.


Sungguh Zara tidak pernah ingin membuat sakit hati siapapun termasuk Abian yang sudah sangat ia kenal.


Zara tidak pernah bermaksud menyakitinya apalagi terluka sedemikian rupa karena dirinya, dari awal memang ia tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Abian, Abian hanyalah seorang teman bagi Zara, tidak lebih dari itu.


"Maaf Bi." ucap Zara dengan suara yang bergetar, ia melihat wajah Abian sangat terluka karenanya.


"Aku tidak mau kata maaf dari mulut mu Za, aku ingin kamu membalas perasaan yang aku punya untuk kamu." ungkap Abian terus terang dengan apa yang dia harapkan dari wanita di depannya saat ini.


Zara tersentak kaget dan tak mengerti dengan permintaan Abian, lelaki itu tau sampai sekarang Zara tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya tapi kenapa malah berkata hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Zara.


Zara menggelengkan kepalanya menolak permintaan memaksa dari Abian.


Abian mengangkat sudut bibirnya melihat gelengan kepala dari Zara.


wajah Abian sudah terlihat menakutkan di depan Zara namun seketika berubah saat mendengar suara Titi yang tengah mengarah pada keduanya.


"Kalian sudah selesai belum?" tanyanya tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi antara dua orang di dekatnya barusan.


"Sudah." Abian dengan tenangnya menyunggingkan senyum.


"Kamu sudah kan Za?" kali ini lelaki yang tadi membuat takut Zara malah dengan santainya bertanya bahkan raut wajahnya sudah terlihat sangat ramah.


Zara mengangguk cepat.


"Ya sudah ayo cepat kita harus segera kembali ke Hotel." Titi berjalan lebih dulu meninggalkan Zara di belakangnya yang terlihat sangat tak biasa.


"Santai saja Zara." ucap Abian pada Zara.


Sungguh Zara tidak mengerti ternyata Abian seorang yang sangat pandai bersandiwara, bahkan sepertinya lelaki itu layak menjadi seorang bintang film karena aktingnya yang sangat baik.


Sepanjang jalan Zara hanya diam saja tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya menunjukkan ekspresi tak percaya saat Abian tertawa bahagia pada teman-temannya yang lain, sangat berbeda jauh dengan yang tadi di tunjukkan lelaki itu pada Zara.


****

__ADS_1


__ADS_2