
"Anaya." Zara memanggil gadis kecil itu, ia semakin percaya bahwa Anaya sekarang tengah bersembunyi di dalam kamar yang terbuka itu karena setelah kakinya melangkah masuk terdengar suara tawa yang di tahan dari arah kolong ranjang di depannya.
Zara mengendap-endap mendekati ranjang itu dan dengan gerakan cepat ia pun berjongkok untuk mengintip kolong ranjang.
"Anaya." seru Zara mendapati Anaya yang tengah tengkurep di bawah kolong kasur.
"Hahahaha." Anaya malah tertawa kegirangan karena Zara berhasil menemukan dirinya.
Gadis kecil itu keluar lalu berlari cepat meninggalkan Zara yang kaget dengan kegesitan seorang gadis kecil berambut pendek dengan poni yang menutupi bagian keningnya.
Kepergian Anaya yang begitu cepat membuat Zara panik karena ia di tinggal sendiri di kamar yang tidak ia ketahui milik siapa.
Hal itu membuat Zara pun mengambil langkah cepat untuk keluar, ia berlari menuju pintu dengan wajah yang panik sampai akhirnya.
Bruk.
Tubuh Zara menubruk seseorang hingga membuatnya terjatuh, Zara mengangkat wajahnya guna melihat siapa yang dia tabrak kali ini.
"Davi." gumam Zara, sejenak ingatannya kembali pada pertemuan pertama mereka di dulu di toilet pom bensin, pertemuan pertama yang langsung membuat menjadi seperti wanita tak punya rasa malu karena terus mengejar Davi sekalipun pemuda itu sudah memutuskannya berulang kali.
Wajah Davi terlihat dingin, tidak seperti saat pertemuan pertama mereka dulu yang saat itu Davi tampak sangat ramah dengan senyum lebarnya yang mengembang bahkan karena itulah Zara langsung terhipnotis oleh senyum mempesona yang dimiliki oleh seorang Davi, senyum dengan gigi gingsul yang sangat terlihat manis.
Tapi hari ini senyum yang dulu tidak nampak sama sekali karena yang ada sekarang hanyalah wajah dingin dengan tatapan mata tak bersahabat.
"Ngapain di kamar gue!?" tanya Davi dengan nada yang terkesan galak.
"Aku tadi lagi main petak umpet sama si kembar terus Anaya ngumpet di sini, maaf aku nggak tahu kalau ini kamar kamu." ucap Zara dengan wajah menyesal seraya mencoba untuk bangun.
Lagi-lagi Zara harus teringat kembali dengan kejadian yang dulu mereka alami, pada saat Zara jatuh Davi mengulurkan tangannya untuk membantu ia berdiri, tapi sekarang tidak, pemuda itu malah melenggang santai melewati dirinya untuk masuk ke dalam kamar.
Apa yang dirasakan oleh Zara? tentu saja kecewa karena usahanya selama ini untuk membuat Davi berubah menjadi sayang padanya begitu sia-sia, dan hal itu hanya membuat ia seperti seorang gadis yang sangat keterlaluan karena terus memaksakan Davi untuk menyukai dirinya.
"Cepat keluar sana, gue mau mandi." usir Davi.
__ADS_1
"Iya." sahut Zara pelan, dan ketika Zara akan melangkah keluar suara Davi kembali terdengar.
"Sudah gue bilang berulang kali, jangan pernah temuin gue lagi. gue juga udah katakan bahwa kita putus tidak ada hubungan apa-apa lagi, tapi kenapa lu masih keras kepala buat ganggu kehidupan gue. gue nggak nyaman sama tingkah laku lu itu." ujar Davi tanpa memikirkan bagaimana sakitnya perasaan Zara saat ini lebih lagi ketika dia menggunakan panggilan elu dan gue.
Sakit dan kecewa melebur menjadi satu memenuhi setiap rongga hati gadis bernama Zarania Permata.
"Maaf." ucap Zara dengan suara yang dipenuhi penyesalan serta perasaan yang bercampur aduk antara sedih, kesal, kecewa dan marah, semua nya itu sekarang ia rasakan dan tentunya sangat mengiris hati dan pikirannya.
"Nggak usah minta maaf lah, buktiin aja kalau lu nggak bakal ngelakuin kayak gini lagi." bentak Davi dengan matanya yang terus menatap punggung Zara karena gadis itu membelakanginya.
Davi melihat ada getaran samar di punggung Zara, dia tidak tahu bahwa Zara tengah menahan tangisnya saat ini.
"Sekali lagi gue bilang kalau kita putus, tidak ada hubungan apa-apa lagi antara kita!" kata Davi dengan suara yang sangat tegas.
"Iya." sahut Zara pelan dan jawaban itu malah membuat Davi menautkan kedua alisnya mendengar jawaban yang berbeda dari yang pernah diberikan oleh Zara, dulu saat pertama kali dia berkata putus Gadis di depan pintu kamarnya itu hanya diam lalu berkata bahwa ia tidak ingin putus bahkan memberikan ancaman kepadanya.
Tapi hari ini jawaban IYA yang diberikan oleh Zara sungguh Davi tidak menyangka nya.
Zara menghembuskan napasnya yang terasa sangat sesak.
"Lu dengar nggak gue bilang apa!?" Davi kembali bertanya dengan suara yang tajam membuat Zara terpaksa harus membalik tubuhnya agar bisa menatap mata Davi dengan tatapan yang tajam.
"Iya gue dengar." sahut Zara dengan suara yang di buat tegas.
"Apa?"
"Kita putus, dan aku nggak akan menampakkan wajah aku lagi di hadapan kamu." tukas Zara dengan menatap Davi.
"Bagus, sebaiknya buktikan apa yang lu ucapkan barusan mulai dari sekarang." jawab Davi.
"Baik, aku permisi." ucap Zara mati-matian menjaga intonasi suaranya agar tidak terdengar gemetar karena ia yang memang tengah menahan jutaan kesedihan
Setelah mengucapkan kata itu Zara pun bergegas untuk pergi dari kamar Davi, wajah Davi terlihat menegang melihat kepergian Zara ada banyak pertanyaan yang menghinggapi dirinya saat ini, namun pemuda itu berusaha untuk mengabaikannya.
__ADS_1
Sebelum pergi Zara lebih dulu Zara pamit kepada Andini juga si kembar.
"Udah ketemu Davi Zar? tadi Tante dengar suara motornya." ucap Andini.
"Sudah Tante." Zara mengulas senyum.
"Kalian baik-baik aja kan?"
Zara memamerkan senyumnya tanpa menjawab pertanyaan dari Andini.
"Zara pamit ya Tante." kata Zara sopan.
"Iya, hati-hati di jalan." pinta wanita yang menjadi Ibu dari pemuda yang baru saja membuat hatinya begitu tersakiti.
"Besok Kak Zara main lagi ya sama kita." kata Anaya dengan suara yang menggemaskan.
Zara mengangguk lalu mengelus kepala dua gadis kembar yang sudah dekat dengannya itu.
Zara berjalan keluar dari rumah yang tidak akan pernah lagi ia datangi itu dengan gerakan cepat, tanpa menoleh kembali seperti yang ia lakukan dulu saat pertama kali Davi menyatakan putus.
Di atas balkon kamarnya Davi terus menatap Zara seperti mengharap gadis itu akan kembali menengok ke arahnya seperti yang pernah dilakukannya dulu.
Tapi sekarang dia tidak mendapatkan itu, Zara terus saja melangkah tanpa berniat sedikitpun untuk berhenti dan menengok kearah nya seperti yang dia harapkan.
Tangan Davi mengepal dengan rahangnya yang mengeras seperti tidak terima dengan yang dilakukan oleh Zara terhadapnya hari ini.
Sungguh seorang lelaki yang tidak bisa dimengerti apa yang sebenarnya dia inginkan, berulang kali dia mendorong Zara untuk menjauh darinya tapi ketika sekarang Zara mengikuti permintaannya itu entah kenapa sekarang dia merasa tidak terima dengan sikap gadis yang tubuhnya sudah menghilang di balik pagar.
Mata Davi menatap ke tempat dimana waktu itu Zara melemparkan ranting yang mengenai keningnya dan telinganya seolah kembali mendengar seruan Zara malam itu, seruan yang mengatakan kalau Zara tidak mau putus terngiang jelas di kedua telinganya.
Segelenyar perasaan aneh menyelubungi hati Davi saat ini seperginya Zara yang benar-benar akan membuktikan perkataannya tadi untuk tidak akan pernah lagi hadir di dalam hidupnya.
****************
__ADS_1