Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 142


__ADS_3

Dalam kegundahan yang tidak menentu Zara menempelkan telinganya mencoba untuk mendengar suara dari dalam sana, tapi percuma saja dia tidak bisa mendengar apapun dan sungguh itu membuat pikirannya semakin tidak karuan, ketakutan akan hamil buah dari pemerkosaan dan tingkah suaminya yang mencurigakan malah kembali membuat bayangan menyeramkan dulu yang perlahan menghilang malah dengan cepat kembali muncul.


Zara benar-benar merasa seperti orang gila, orang yang bahkan dia butuhkan sudah tak lagi mendekapnya saat dia tertidur, haruskah dia marah pada dunia yang sudah membuatnya menjadi seperti ini?


Dunianya sudah runtuh saat dia kehilangan wanita yang sudah melahirkannya, semakin runtuh lagi ketika Ayahnya malah menikah dengan wanita yang tidak pernah menyukainya bahkan hingga menyerahkan rumah mendiang Mamanya pada istri dan anak tirinya yang sejak awal bertemu dengannya selalu menampakkan permusuhan, menganggap dia adalah sebuah kotoran yang harus di singkirkan hingga selalu memperlakukannya layaknya seorang pembantu di rumahnya sendiri melayani dua orang jahat yang bermulut tajam hingga tak segan menyakitinya.


Sembuh dari trauma besar yang dia alami serasa hanya sebuah mimpi semata, hanya sebentar lalu sudah harus kembali ke dunia nyata kala dia menyadari kini tengah hamil dan dia sendiri tidak mengerti anak yang dia kandung saat ini anak siapa? apakah anak suaminya atau anak dari si bajingan Rangga!


Dia seolah di bawa terbang tinggi lalu dihempaskan begitu saja ke bumi hingga seluruh tubuhnya hancur berkeping.


"Jika tidak ada yang penting tidak perlu menghubungi," samar-samar Zara menangkap suara dari dekat pintu lalu handel pintu bergerak turun membuat Zara bergegas pergi agar Davi tidak melihatnya, namun sial kakinya malah tersandung kaki sofa membuat dia jatuh tertelungkup di lantai.


Baru saja Zara hendak bangun dan akan kembali ke kamar tapi terlambat sebab Davi sudah melihatnya dan berseru khawatir.


"Za," secepatnya membantu istrinya itu untuk berdiri.


Zara berdiri tanpa mengatakan apapun dia menyeret langkahnya masuk kembali ke dalam kamar menimbulkan kebingungan dari Davi yang sekarang menggenggam handphonenya dengan sangat erat hingga otot di tangannya terlihat sangat jelas.


Pagi hari Davi sudah tidak mendapati Zara di sebelahnya hingga dia pun langsung turun dari tempat tidur dan menuju dapur, sebab tempat itulah yang setiap hari menjadi tempat favorit Zara kala pagi menjelang.


Istrinya itu saat ini pasti sedang sibuk menyiapkan makanan untuk mereka, Davi sudah sangat yakin namun ketika sampai di pintu dapur dia malah tidak mendengar apalagi melihat kesibukan di sana, tubuh kurus istrinya pun tidak terlihat, terdiam sesaat baru kemudian Davi berlari cepat mencari istrinya di ruang lain yang menjadi tempat bagi Zara menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga.


Davi mencoba mencari berulang kali namun memang Zara tidak ada di apartemen, kini pria itupun mencoba menghubungi sang istri tersambung namun wanita itu seperti enggan untuk menjawabnya.


Di halaman rumah sakit Zara berdiri menatap gedung bertingkat di depannya yang memang menjadi tujuannya, wanita itu hanya melihat sekilas pada handphone di tangannya yang sejak tadi berbunyi tapi dia sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya malah kini jarinya menekan tombol off menonaktifkan selulernya. agar benda itu tidak lagi bersuara.


Kepanikan Davi makin menjadi kala nomor istrinya tidak lagi bisa dihubungi, tanpa mandi pria itu segera mengganti pakaiannya dan mencari sang istri.

__ADS_1


"Jangan melakukan hal gila Za, Aku mohon," tutur Davi getir membayangkan sesuatu yang menakutkan bisa saja nekat Zara lakukan , sungguh dia tidak akan pernah siap apabila kehilangan Zara.


Davi menyetir mobilnya perlahan melihat setiap sudut jalanan di sekitar apartemen berharap bisa menemukan Zara akan tetapi ketika dia sudah semakin jauh dari apartemen sosok istrinya itu tidak juga terlihat sampai fokusnya terganggu dengan suara dering handphonenya.


"Aku melihat Zara di rumah sakit tak jauh dari apartemen mu," kata Lugo yang tadi di minta oleh Davi untuk membantunya mencari Zara.


Astaga! pantas saja Davi tidak menemukan Zara sepanjang jalan yang dia lalui, tentu saja karena istrinya berada di rumah sakit.


Tapi tunggu! apa yang Zara lakukan di rumah sakit tanpa memberitahu dirinya? dalam sekejap debaran jantung Davi bekerja dengan amat cepat pikirannya menjadi campur aduk dan sangat buruk sehingga membuatnya melajukan mobil dengan cepat saat memutar arah kembali ke rumah sakit yang tak jauh dari apartemen seperti yang tadi Lugo katakan, pria itu bahkan mengabaikan cacian dari para pengendara lain yang hampir saja celaka karena ulahnya.


Dengan begitu tergesa Davi turun dari mobil berlari menuju resepsionis rumah sakit suaranya begitu panik saat menanyakan istrinya, belum sang resepsionis wanita menjawab kedua mata Davi sudah menangkap bayangan istrinya yang baru akan masuk ke sebuah ruangan bersama dengan seorang suster.


Dengan berlari Davi pun menuju Zara dan menarik tangannya hingga wanita itu hampir saja jatuh beruntung Davi bisa menahan tubuhnya.


Zara begitu terkejut begitu melihat suaminya lah yang menarik tangannya dengan sangat keras, "Mas kenapa ada di sini?" tanya Zara raut wajahnya menunjukkan kalau wanita itu seperti maling yang baru saja tertangkap basah, matanya tampak menyiratkan kepanikan.


"Kamu yang sedang apa di sini?!" suara Davi sudah terdengar marah memancing perhatian semua orang, saat ini dia bisa membaca apa yang ada di pikiran istrinya itu lalu beralih pada sang suster ketika Zara tak menjawab pertanyaannya.


Dengan kebingungan suster itu menjawab, "mendaftar prosedur aborsi," jawab sang suster melihat Davi dan Zara bergantian, sepatutnya ia merasa tak mengerti tadi wanita itu mengaku korban perkosaan sampai begitu sangat berniat untuk melakukan aborsi tapi malah ada seorang pria yang mengaku sebagai suaminya.


Kedua mata Davi membesar sedemikian sempurna tidak percaya apa yang suster itu katakan hingga dia berseru kencang, "tidak mungkin kalian melakukan aborsi pada istriku!"


"Nona ini mengatakan bahwa dia hamil karena pemerkosaan," sahut sang suster yang sekarang kulitnya berubah menjadi pucat.


"Bagaimana bisa kalian melakukan tindakan aborsi tanpa ada surat keterangan dari polisi!" bentak Davi memaki sang suster dan kini mereka semakin menjadi tontonan banyak orang.


Tentu semua orang pun tahu, jika ada seorang wanita korban pemerkosaan dan hamil lalu ingin menggugurkannya harus melampirkan surat keterangan dari polisi untuk melegalkan aborsi itu, namun pihak rumah sakit ini malah seenaknya menerima Zara untuk aborsi hanya dari mendengar apa yang Zara katakan.

__ADS_1


Kepala suster bahkan mencoba untuk mengajak Davi berbicara baik-baik namun Davi tidak menerimanya, "aku akan menuntut kalian!" kata Davi menunjuk sang suster dan atasannya lalu menarik paksa Zara keluar dari rumah sakit, tidak peduli ketika Zara terus meronta memohon padanya untuk di biarkan melakukan aborsi pada anak yang sebenarnya tidak bersalah.


"Aku hanya tidak ingin memiliki anak dari pria itu," lirih Zara ketika di dorong paksa oleh Davi masuk ke dalam mobil.


"Kamu gila! bagaimana jika itu anakku?!" kali ini sepertinya Davi kehilangan kesabaran menghadapi Zara, suaranya terus saja membesar memekakkan telinga, tindakan bodoh yang ingin Zara lakukan mungkin akan menjadi penyesalan mereka di suatu hari nanti dan Davi tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


"Tapi kita tidak pernah berhubungan setelah kita berada di sini," suara Zara bergetar, jelas karena dia menahan tangis yang lebih kencang karena sejak tadi buliran air mata sudah terus mengalir tanpa henti.


"Kita berhubungan saat kita di Indonesia! lihat perutmu perkirakan sendiri berapa usia kandungan mu sekarang dengan perut yang sudah terlihat besar itu!" Davi tak habis pikir bagaimana bisa Zara yang seorang wanita malah tidak peka dengan keadaannya sendiri, keadaan perutnya yang sudah tidak datar sama sekali, bukankah itu artinya kehamilannya mungkin lebih tua dari usia perkosaan yang terjadi.


"Arrhgg!!!" Davi menggeram seraya memukul kemudi mobil membuat Zara tersentak, sungguh Davi sangat frustasi menghadapi Zara.


Zara menangis malah kini memukuli perutnya sendiri, memukul dengan kedua tangannya.


Davi pun dengan sangat keras mencengkeram bahu Zara lalu mengguncangnya dengan kencang, "sadarkan dirimu!" tidak terima apa yang Zara lakukan.


"Ini tidak mungkin anak kita," masih dengan keras kepalanya menampik semua yang Davi katakan.


Davi menarik napas lalu dengan rahang yang mengeras pria itupun berucap,"turun sekarang!" tegas Davi turun dari mobil lalu membanting pintu untuk kemudian membuka pintu sebelahnya dan kembali menarik tangan Zara untuk turun dan ikut dengannya.


Zara merasakan sakit di pergelangan tangannya karena sejak tadi Davi seolah tidak sadar bahwa tindakannya itu sudah menyakiti sang istri, emosinya telah membuatnya mengabaikan wanita yang seperti sudah kehilangan akal itu.


Langkah Davi begitu cepat menyeret tubuh Zara masuk kembali ke dalam rumah sakit.


Begitu sampai Davi langsung menanyakan tentang prosedur tes DNA, ini harus dia lakukan untuk menghentikan istrinya berbuat gila dengan membunuh anak mereka, sungguh mengenai ini justru Davi yang lebih yakin jika anak yang ada di dalam perut Zara adalah anaknya, bukan anak dari bajingan yang telah memperkosa istrinya.


Namun untuk yang pertama harus mereka lakukan adalah memeriksakan dulu berapa usia kehamilan Zara sekarang.

__ADS_1


Zara hanya mengikuti setiap Davi melangkah, pria itu yang sibuk melakukan pendaftaran dan mengisi formulir rumah sakit, padahal beberapa menit yang lalu pria itu sudah mengancam akan menuntut rumah sakit karena akan melakukan tindakan aborsi terhadap istrinya.


*****


__ADS_2