Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 168


__ADS_3

"Ini? bagaimana bisa?" kepala Zara sudah sangat penuh pertanyaan tentang kenapa ada berita bahwa dia sudah meninggal, sungguh dia tidak pernah merencanakan hal yang seperti itu.


Wanita hamil itu hanya ingin menenangkan diri, menyembuhkan hatinya yang terluka walau ia akui ia salah karena tidak mengatakan apapun padanya, bukankah itu terjadi sangat cepat, saat ia ingin berangkat dan sudah bersiap untuk naik pesawat ia malah teringat dengan Ipul, entah ada apa padanya hingga akhirnya ia menghubungi Ipul dan akhirnya sudah dua Minggu ini ia berada di negara tempat temannya itu berada.


"Bagaimana bisa?" Ipul mengernyit ngilu mendengar pertanyaan Zara.


Wanita ini masih bertanya bagaimana bisa? seperti merasa aneh kalau suami serta keluarganya yang lain menganggap dia sudah meninggal turut serta dalam kecelakaan pesawat yang pada saat berangkat ternyata sudah dalam mengalami masalah namun entah kenapa snag pilot tidak sempat menyadarinya.


"Nama mu ada dalam daftar penumpang dan pakaianmu pun ada dalam pesawat di temukan mengambang di lokasi di temukan pesawat," sahut Ipul setidaknya itulah yang dia ketahui dari Ibunya saat menghubunginya kemarin malam.


"Pantas saja kamu tidak membawa pakaian saat itu padahal kamu mengatakan ingin berlibur, sangat tidak wajar dan bodohnya aku malah percaya saja dengan apa yang kamu katakan," sungut Ipul mengingat dia yang sangat percaya layaknya anak kecil sedang di bohongi, sungguh sangat polos!


Napas Zara tercekat di dalam tenggorokannya, mungkin jika ia tidak segera menetralkan perasaan cemasnya saat ini bisa saja ia pingsan karena kekurangan oksigen.


Bodoh! Zara merasa sangat bodoh karena ia memang sempat melakukan check in sebelum memutuskan untuk pergi ke tempat Ipul.


"Aku ingin pulang!" kata Zara akhirnya.


Bukankah ia sangat keterlaluan kali ini, memang ia ingin memberikan hukuman untuk Davi agar pria itu sadar bahwa dia sangat membutuhkan Zara supaya lain kali tidak pernah melakukan kesalahan yang sama, bukankah kata orang pria yang pernah berselingkuh kemungkinan akan melakukan hal yang sama? bagaimana caranya Zara bisa berpedoman pada teori itu yang jelas ia tidak pernah sekalipun berpikir akan dianggap sudah mati seperti sekarang ini.


Zara sudah berdiri namun pria di sampingnya hanya menatap wajahnya dengan santai membuat wanita yang perutnya besar itu memaksa sambil menarik tangannya.



"Ipuuul," suaranya terdengar sangat manja.



Ipul menggelengkan kepalanya tanda dia menolak untuk pergi dari tempat ini, "bukankah kamu ingin memberinya pelajaran karena sudah berselingkuh? jadi biarkan saja dia mengira kamu sudah mati setidaknya sampai satu bulan ke depan, aku rasa itu cukup untuk membuatnya jera, mungkin?"



Ipul berkata enteng dengan ekspresi wajah yang entahlah, Zara tidak mengerti apakah pria itu sedang berkata serius atau hanya sekedar mengerjai dirinya yang kali ini malah menjadi panik sendiri memikirkan suaminya.



"Sudah duduk di sini saja, kita nikmati udara segar ini dengan kumpulan anggur yang sudah sangat pantas untuk dinikmati, bukankah tadi kamu bilang kamu sangat menyukai tempat ini? terlebih lagi dengan anggur yang bisa kamu makan sepuasnya sampai perutmu itu membuncit," mata Ipul membesar ketika mengatakan hal barusan mengulang semua yang Zara katakan seraya matanya tertuju pada perut wanita itu.



Zara memeluk perutnya lalu menggeleng sangat cepat, "aku mencabut semua yang tadi aku katakan, aku ingin pulang," lirih Zara dengan tatapan sendu.

__ADS_1



Ipul mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkan tangannya di depan wajah Zara, seperti memperingatkan wanita itu yang kini malah semakin menarik tangannya.



"Maafkan aku karena sudah membohongimu, maaf," kata Zara sadar diri bahwa Ipul marah padanya karena sudah berbohong.



"Aku ingin pulang, tolong antar aku," mohon Zara dan kali ini menunjukkan wajah yang memelas.



Ipul membuang wajahnya tidak suka jika sudah melihat Zara seperti ini, dia tidak akan pernah tega.



"Aku akan memesankan tiket, kamu bisa pulang sendiri," kata Ipul kemudian.



Zara menggeleng, "tidak bisa! aku tidak bisa pulang sendiri," tolak Zara.




Zara menunduk membungkam mulutnya cukup lama.



"Kenapa?" tanya Ipul.



"Aku takut Davi marah."



"Astaga ZARAAAAAAA, kamu berani kabur dan membuat heboh tapi masih takut dimarahi oleh suamimu sendiri? kamu yakin dengan perkataan mu barusan?" tanya Ipul seakan tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar.

__ADS_1



Zara? takut pulang sendiri? takut suaminya marah? oh rasanya setelah kabur dua Minggu tanpa kabar membuat Ipul meragukan apakah yang tadi Zara bicarakan itu keluar dari mulutnya atau hanya sebuah bualan karena kekenyangan makan anggur.



Zara menggigiti bibirnya dengan suara Ipul yang cukup keras di telinganya.



"Jika aku ikut denganmu apa kamu tidak takut suamimu itu akan aku buat babak belur karena berselingkuh? apa kamu tidak takut tidak bisa melihat wajah tampannya selama satu Minggu penuh?" tanya Ipul.



"Itu lebih baik setidaknya pukulan mu bisa mengalihkannya untuk tidak memarahi ku bukan?"


Pikiran Zara benar-benar sangat konyol, rela suaminya di pukul agar ia bisa selamat dari Omelan suaminya itu, membuat Ipul berdecak heran.


Ipul mengurut keningnya lalu berkata, "oke, kalau begitu jangan halangi aku."


Dan Zara mengangguk setuju dengan wajah polosnya.


"Setidaknya aku bisa melampiaskan kekesalan yang dulu aku rasakan," kata Ipul kemudian melangkah seraya menarik Zara, "kita bersiap sekarang juga, rasanya aku sudah tidak sabar."



Tidak tahu kenapa kali ini malah Ipul yang lebih bersemangat, sepertinya dia merasa buncahan kesenangan yang datang tiba-tiba.



"Mereka menghubungimu tapi nomor mu tidak pernah aktif," kata Ipul sambil mereka berjalan.



"Aku sengaja mematikannya," sahut Zara dengan senyum simpul.



Ipul menggeleng kepalanya, nyatanya temannya itu sudah sangat merencanakan kepergiannya.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2