
Zara sudah berdiri di halaman apartemen yang ia dan suaminya tinggali, rasanya ini pertama kalinya setelah menikah ia keluar seorang diri tanpa di temani oleh sang suami, meski sebelum menikah ia sudah cukup mengenal negara ini namun entah kenapa tetap terasa asing baginya.
Wanita itu merasakan hembusan angin sore yang menerpa kulitnya, beruntung sore ini tidak terlalu banyak orang yang berlalu-lalang di sekitaran apartemen tentu sedikit membantunya mengatasi rasa takut yang tidak bisa dipungkiri mulai merasukinya kala ia baru saja melangkahkan sebelah kakinya dari pintu apartemen.
Tetap saja ada gejolak kecil ketakutan yang bisa saja mendadak jadi besar tanpa bisa ia kendalikan.
Tak perlu menunggu lama akhirnya wanita yang Zara tunggu pun menampakkan batang hidungnya, kedua wanita itu langsung berpelukan sangat erat seolah tengah melampiaskan kerinduan karena semenjak Zara menikah dan memutuskan untuk berhenti menjadi pramugari profesi yang sebenarnya sejak dulu wanita itu impikan mereka tak lagi bertemu, hanya bertukar kabar dan cerita lewat pesan ataupun panggilan telepon.
"Maaf sudah merepotkan," Zara melepaskan pelukan lalu berbicara sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, meminta maaf dengan sangat tulus karena ia tahu seharusnya saat ini Titi bersenang-senang dengan teman-temannya yang lain, namun sejak kemarin wanita itu kini malah sibuk membantunya merekomendasikan psikolog pun sampai harus kembali ia repotkan untuk menemaninya.
"Tidak perlu seperti ini, aku ini sudah seperti Kakak dan juga temanmu," celetuk Titi tak suka Zara malah meminta maaf padanya.
"Aku sudah mengganggu Mbak, bukankah seharusnya sekarang Mbak berjalan-jalan dengan yang lainnya," kata Zara.
"Aku sudah sering berjalan-jalan di negara ini, jadi rasanya sudah cukup bosan," sahut Titi dengan mata yang mengerling berusaha mencairkan suasana meski ia tahu keadaan Zara sudah tidak mungkin bisa membuat wanita itu menjadi ceria seperti dulu apabila semua yang wanita itu alami belum juga menghilang dari pikirannya.
Zara menghembuskan napas dari mulutnya yang terasa hangat berbanding terbalik dengan cuaca Australia yang sedang berada di musim dingin sejak dua hari yang lalu.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar melarang suamimu untuk mengantar?" Titi sepertinya masih sangat penasaran karena yang ia lihat selama ini adalah Davi yang begitu mencintai Zara, jadi akan terasa sangat tidak mungkin jika pria itu membiarkan wanita yang dia cintai berjuang sendiri untuk bisa kembali menjadi orang normal seperti sedia kala.
Untuk kedua kalinya Zara menghembuskan napas yang kali ini terlihat lebih panjang sebelum menggerakkan bibirnya mengucapkan kalimat-kalimat yang memang sudah ia ucapkan saat mereka berbicara di telepon.
"Aku tidak mau menyusahkannya, aku tidak mau membebaninya, dia sudah cukup lelah dengan pekerjaan dan aku yang seperti ini, yang terkadang tidak bisa mengontrol apapun yang ada di pikiranku, aku bahkan mencurigainya berselingkuh," Zara tersenyum sinis mengingat betapa kalutnya ia kala melihat suaminya itu berbicara akrab dengan Claire.
"Bukankah aku sangat keterlaluan? Davi sudah begitu baik padaku tapi apa yang aku lakukan? aku menuduhnya selingkuh, pikiran tak masuk akal itu datang begitu saja hanya karena Davi mengabaikan aku dan sibuk dengan rekan bisnisnya," sambung Zara dengan perasaan nyeri dan juga menyesal.
Titi tidak mampu berkata apapun lagi mendengar penuturan demi penuturan yang Zara keluhkan, Zara yang ia kenal sangat ceria berubah drastis bahkan sudah seperti bukan Zara yang beberapa tahun menjadi juniornya di penerbangan.
"Haaaaaahhhh," Titi menghangatkan kedua tangannya yang terasa begitu dingin sekaligus berniat untuk mengalihkan pembicaraan agar Zara tidak lagi membicarakannya karena hanya akan membuat Zara semakin menyesal terhadap sang suami.
Tentu Titi tidak akan mengajak Zara menaiki bus karena tentu akan banyak orang apalagi pria, lebih baik menghindari sesuatu yang akan membuat Zara takut daripada menyesal setelahnya.
Tak berapa lama akhirnya mereka sampai di tempat praktek sang psikolog yang rencananya hari ini akan langsung mengadakan konseling untuk Zara.
"Aku masuk dulu Mbak," pamit Zara pada Titi yang di minta untuk menunggu di ruang tunggu tak jauh dari ruangan yang dimasuki oleh Zara.
__ADS_1
"Iya, percayalah bahwa setelah ini kamu akan jauh lebih baik," Titi memberi semangat seraya mengangkat tangannya.
Zara mengumbar senyuman dari wajahnya yang memang tidak lagi berseri, terlihat jauh lebih pucat dan kuyu karena beban pikiran di tambah wanita itu juga tidak memoleskan bedak ataupun memaki lipstik untuk mewarnai bibirnya yang kini berwarna pink pucat.
Zara membuka pintu dan kedua matanya langsung menangkap seorang wanita dengan wajah yang begitu ramah tengah duduk di kursi balik meja kerja dengan papan sebuah papan nama sang psikolog yang kini memberikan senyuman untuk Zara, wanita yang sudah menghubunginya dan membuat janji.
"Silahkan duduk," kata Aleyara sang psikolog yang masih terlihat muda itu dengan begitu sopan.
Wajah Aleyara yang begitu ramah memang sangat di perlukan untuk profesi seperti dirinya yang berhubungan dengan orang-orang dengan masalah kejiwaan atau trauma seperti yang tengah Zara alami saat ini.
Zara pun duduk tepat berhadapan dengan Aleyara yang kini menanyakan nama dan juga tempat tinggalnya dengan gaya berkenalan layaknya seorang teman baru, terkesan sangat santai sebelum mereka memulai sesi selanjutnya.
Saat ini Zara benar-benar merasa relaks karena ia merasa bertemu dengan psikolog yang tepat untuk dirinya dan berharap usahanya ini berhasil agar tidak lagi mengabaikan kebutuhan biologis sang suami hanya karena bayangan pemerkosaan itu selalu menghantuinya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*