Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 94


__ADS_3

"Buatkan aku makanan ya, aku lapar." Davi yang memilih untuk tidak lagi melanjutkan kemesraan mereka meminta Zara untuk membuatkan makanan saja.


"Tapi kan kita.." Zara tak menyelesaikan perkataannya hanya melirik pada tubuh bagian atasnya yang sudah berantakan karena ulah sang suami, tentu tanpa menyelesaikannya Davi sudah pasti mengerti maksud perkataan istrinya itu.


"Nanti malam aja, aku lapar sekarang." sahut Davi kembali memakai kaos oblong berwarna hitam sedangkan kemeja warna abu dia biarkan masih menutupi tubuh sang istri yang kini tengah mengerucutkan bibirnya.


"Tadi kan sudah makan." kata Zara, memang sebelum berangkat kan mereka sempat makan lebih dulu, sungguh terasa sangat tidak masuk akal jika sekarang suaminya sudah kembali lapar.


Davi tak menjawab hanya kini sibuk merapihkan pakaian Zara yang tadi dia acak-acak.


Dan akhirnya dengan mulut yang masih di majukan Zara pun mengikuti sang suami yang berjalan keluar dari ruangan itu.


"Memangnya di sini ada bahan masakan?" tanya Zara.


"Ada stok mie instan yang aku siapkan untuk Pak Rahmat, kamu buatkan itu aja." seru Davi tanpa menghentikan langkahnya yang kini menuju ke luar rumah dan mencari penjaga rumah yang ternyata sedang sibuk memotong rumput di dekat tempat sampah.


"Pak." panggil Davi seraya melongokkan sebagain tubuhnya dari pagar besi.


Pak Rahmat mendongak melihat sang pemanggil namanya. "Iya Mas." sahut lelaki yang sebagian kepalanya itu sudah di tumbuhi oleh rambut berwarna putih.


"Sini sebentar." panggil Davi lalu ketika Pak Rahmat berdiri, Davi pun berjalan menuju pot bunga yang tadi terjatuh membuat Pak Rahmat mengikutinya.


"Tadi Pak Rahmat lihat ada orang masuk nggak?" tanya Davi sambil berjalan.


"Orang masuk? kayaknya nggak deh Mas." jawab Pak Rahmat setelah berpikir dan merasa dirinya tidak melihat siapapun di sekitar rumah yang dia jaga sekarang ini.

__ADS_1


Davi berhenti di dekat jendela dengan tatapan yang sungguh merasa aneh.


"Ini pot tadi tiba-tiba jatuh, nggak mungkin karena angin." tunjuk Davi pada pot yang sebelumnya membuat dia dan Zara sangat terkejut.


Pak Rahmat tampak diam memikirkan kenapa Pot itu bisa jatuh dari teras yang cukup lebar jika bukan karena tersenggol sesuatu.


"Kucing mungkin Mas." tebak lelaki itu karena kemungkinan besar memang binatang itulah biang keladinya.


Davi terdiam mendengar ucapan Pak Rahmat lalu menoleh ke sebelah tembok yang tidak terlalu tinggi yang membatasi rumah itu dengan rumah di sebelahnya.


"Rumah sebelah ada orangnya nggak Pak?" tanya Davi kemudian menatap ke rumah yang bisa dia lihat dari tembok pembatas tanpa kesulitan karena postur tubuhnya yang tinggi.


"Kosong Mas, sudah lama banget, lihat saja tuh rumputnya udah tinggi-tinggi banget." jawab Pak Rahmat memberitahukan pada sang pemilik rumah yang sudah berbaik hati memberikannya pekerjaan sekaligus tempat tinggal di tengah dia yang sulit sekali mendapat pekerjaan saat usianya sudah tak lagi muda.



"Kalau tembok ini saya tinggikan lagi nggak apa-apa kali ya Pak, soalnya ngeri juga rumah kosong begitu takut ada ular." kata Davi meminta pendapat lelaki yang sejak tadi setia mendengarkannya.



Sungguh saat ini dia memang benar merasakan ada sesuatu yang janggal, namun entah apa itu Davi sendiri pun tidak bisa menjelaskannya, sebab dia tidak melihat langsung apa dan kenapa pot di depan jendelanya bisa jatuh, dia hanya bisa menduga-duga dan mewaspadai segala kemungkinan, karena pekerjaannya yang ada di negara lain dan Zara yang masih ingin bekerja membuat mereka mungkin akan tinggal terpisah untuk sementara waktu.



"Ya nggak apa-apa toh Mas, di tinggikan saja." jawab Pak Rahmat.

__ADS_1


"Nanti biar Bapak yang cari tukangnya." lanjut Pak Rahmat.


Davi mengangguk setuju. "Ya udah Pak Rahmat lanjutin aja yang lagi di kerjain." ujar Davi seraya membersihkan pecahan pot serta tanah dan tanaman yang berserakan di lantai dekat jendela.



"Iya Mas." sahut lelaki itu lalu beranjak pergi.


****


Di sebuah rumah minimalis yang tampak sepi terdengar suara sesorang dari dalam kamar mandi, suara yang terdengar sangat aneh seperti orang yang sedang berhubungan intim, namun hanya satu suara saja yaitu suara seorang laki-laki.


Terus mendesis menahan gejolak yang akan segera meledak ketika dia membayangkan bagaimana sempurnanya tubuh wanita yang begitu dia sukai.


"Tubuhmu sangat sempurna sayang, aku sangat menyukainya." serunya seorang diri dengan tangan yang terus bergerak.


Meracau tak jelas dan semakin mengeluarkan perkataan-perkataan yang makin membuatnya tak terkendali, memancing hasratnya untuk bisa segera melayang menikmati puncak yang sejak tadi dia inginkan.


Tak lama dia pun mengerang panjang manakala dia sudah mencapai kepuasan yang teramat sangat, sungguh perilaku yang sangat aneh dan terkesan gila bukan? hanya dengan membayangkan seseorang namun bisa sebegitu dahsyatnya kepuasan yang membuatnya lemas.



"Kamu sungguh luar biasa Zara." memuji wanita yang bahkan tidak ada bersamanya.


****

__ADS_1


__ADS_2