Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 157


__ADS_3

Sorot mata Zara begitu tajam kala berhadapan dengan Aleyara, seorang psikolog yang sangat dia percaya dan menjadikannya sebagai teman baik.


"Maafkan apa yang sudah aku lakukan."


Aleyara memulai pembicaraan, nyatanya dia meminta Zara bertemu adalah untuk membicarakan tentang semua yang telah terjadi, meminta maaf lebih dulu sebelum dia mengatakan hal yang lainnya.


Sekalipun Zara menganggap semua ini terjadi karena dirinya tapi tetap saja dia wanita dan seorang istri yang tentu tidak akan siap bahkan rela mengetahui suaminya tidur dengan wanita selain dirinya.


Rasa sakit tetap menjadi yang paling utama yang saat ini dia rasakan terlebih lagi sekarang pun dia harus berhadapan dengan wanita yang sudah membiarkan tubuhnya di sentuh oleh pria beristri.


"Aku tidak pernah mau dengan sengaja melakukan hal itu, tidak pernah mau dengan sengaja mengkhianati kamu," aku Aleyara menatap lurus pada kedua mata Zara yang berusaha menampilkan ketegaran guna menutupi luka yang menggores hati.


Zara mengangkat sudut bibirnya menunjukkan kesinisan yang selama ini bahkan tidak pernah dia lakukan kepada siapapun, "tapi kenyataannya kamu melakukannya dan mengkhianati aku! tidakkah kamu memakai otakmu sebelum melakukan hal menjijikkan itu?! tidakkah kamu mengingat bahwa itu adalah SUAMIKU!" suara Zara sedikit meninggi, tentu karena dia ingin menunjukkan haknya sebagai seorang istri terhadap wanita yang bahkan bukan siapa-siapa, hanya sekedar psikolog yang dia jadikan teman, tapi sepertinya mulai dari beberapa hari yang lalu semua itu berakhir, status seorang teman terlebih lagi sebagai psikolog pribadi untuknya sudah tidak ada lagi! semua berakhir dengan sangat buruk!


"Aku tidak pernah menyangka," Zara berucap dengan ketidak percayaan atas apa yang telah terjadi.



"Tidak pernah sedikitpun aku menyangka bahwa kamu bisa tidur dengan suamiku!" desis Zara begitu sinis tapi masih bisa mengendalikan gejolak di dalam hatinya, rasa gejolak ingin melampiaskan kemarahan menunjukkan bahwa betapa dia sangat kecewa.


__ADS_1


"Wanita mana yang tidak akan terenyuh mendengar keluhan seorang pria dengan paras yang rupawan seperti Davi? dan aku hanyut dengan cepat hingga sampai saat inipun aku merasa hatiku terombang-ambing karena tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi, maaf," ulas Aleyara dengan begitu enteng dan gamblang, sepertinya dia ingin menunjukkan kalau saat ini dia menyimpan perasaan terhadap suami dari mantan teman sekaligus mantan pasiennya.



Mata Zara memicing dengan sekejap mendengar pernyataan dari wanita di depannya, dia bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti dengan semua maksud yang Aleyara utarakan.



"Apa kamu gila?! mungkin jika wanita lain yang mengatakan ini masih bisa aku terima, tapi kamu! kamu seorang wanita terpelajar bahkan pendidikan mu jauh di atas ku, tapi kamu dengan lancarnya mengatakan hal itu di depan istri dari pria yang sudah menghabiskan malam denganmu! kamu seorang psikolog dan aku adalah seorang wanita yang datang padamu untuk bisa sembuh dari trauma besar yang terus menghantui hidupku! dimana otak dan kepintaran mu itu!?" sentak Zara menyayangkan apa yang sudah terjadi, meski dia mengakui semua ini terjadi juga ada andil dirinya yang pada saat itu tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, tapi rasanya ini tidaklah adil mengingat dia yang berusaha untuk bisa sembuh dari segala kenangan buruk yang sudah terjadi.



"Lalu sekarang kamu ingin mengembalikan trauma ku lagi? ingin aku menjadi benar-benar gila? wanita jahat kamu!" tuding Zara menunjuk wajah Aleyara yang sampai saat ini terus menatapnya.




"Tapi aku mencintainya."


__ADS_1


Pernyataan Aleyara membuat kaki Zara yang baru satu langkah pun terhenti, terdiam mematung sebelum akhirnya berbalik lalu mengambil segelas jus milik Aleyara dan..



Byuurrr..


Menyiramkan jus dingin itu tepat pada wajah Aleyara yang kini basah hingga rambutnya.


"Katakan padanya sendiri, jangan mengatakan itu padaku!" peringatan Zara sebelum dia akhirnya kembali melangkah menjauh meninggalkan Aleyara yang membeku sesaat dan beberapa menit kemudian mulai menghapus wajahnya di tengah perhatian orang yang ada di tempat itu.



Bukankah Aleyara masih sangat beruntung karena dia memesan jus, bagaimana jika dia memesan kopi panas? bukankah wajahnya akan melepuh.



Zara menyusuri jalan setapak berusaha mencari tempat untuk dia menenangkan dirinya, tidak pernah dia berpikir akan melakukan hal seperti tadi, menyiramkan segelas minuman pada wanita yang mengaku mencintai suaminya, sungguh itu hanya refleksnya sebagai seorang istri yang marah, apa Aleyara merasa tidak cukup sudah mengkhianatinya, dan sekarang masih ingin memghancurkannya dengan mengatakan mencintai suaminya.



Langit sudah mulai gelap ketika Zara duduk di sebuah bangku di tepi jalan menatap kosong ke arah depan dengan air mata yang menetes.

__ADS_1


Saat ini dia belum ingin kembali ke apartemen bahkan dia dengan sengaja mematikan handphonenya agar Davi tidak bisa menghubungi, biarkanlah dia menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali melihat wajah pria yang sudah mengkhianatinya namun masih tidak tergeser dari hatinya.


\*\*\*\*\*


__ADS_2