Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 39


__ADS_3

Zara berjalan menuju kantin tempat biasa ia menghabiskan waktunya untuk sekedar menghasilkan uang.


Yah walaupun tidak besar namun uang itu sangat bermanfaat untuk seorang gadis seperti Zara yang sudah tidak memiliki orang tua.


"Lesu amat Zat?" sapa mbak Mayang.


"Belum sarapan yah?" tebak wanita yang biasa Zara panggil Mbak itu.


"Udah Mbak." Zara menjawab pelan dan dengan nada yang tidak seperti Zara yang biasanya ceria.


"Terus kenapa wajahnya kayak kurang makan gitu?" seloroh Mayang memprotes wajah Zara yang tidak bersemangat akhir-akhir ini.


Zara menggeleng pelan enggan mengatakan kondisinya saat ini kepada Mayang.


"Zara ke belakang ya Mbak." ucap Zara yang memilih untuk mengerjakan tugasnya guna menghindari pertanyaan demi pertanyaan yang pasti masih akan dilontarkan oleh wanita yang mengelola kantin sekolah itu.


"Ya sudah." sahut Mayang seraya memperhatikan Zara yang menghilang masuk ke tempat cuci piring dengan banyaknya perabotan kotor yang harus gadis itu bersihkan.


"Mbak." baru saja Mayang memutar badannya sudah terdengar suara dari seorang pemuda yang membuat ia kembali menghadap depan dimana sumber suara itu muncul.


"Kenapa Pul?" Mayang mengerutkan keningnya bertanya pada Saipul.


"Zara sudah datang?" menanyakan sahabatnya yang sudah menghindarinya sekian hari itu.


"Tuh di belakang." Mayang menunjuk dengan dagunya ke tempat Zara berada.


"Lagi berantem ya." tebak Mayang.


"Hah?" Ipul merasa bingung harus menjawab apa dengan pernyataan dari wanita di depannya.


Sebab Ipul juga tidak tahu kondisi mereka saat ini seperti apa sebenarnya.


"Mbak lihat wajah Zara kusut banget kayak lagi ada masalah, nggak biasanya kan Zara kayak gitu." kata Mayang yang bicara sangat pelan karena tidak ingin Zara mendengar percakapannya dengan Saipul.


Mendengar hal itu ekspresi Ipul menjadi semakin khawatir karena takut Davi menyakiti Zara karena pastinya sepupunya itu sudah melihat rekaman yang waktu itu di kirim oleh Dira karena saat Ipul hapus rupanya Dira sudah mengirim rekaman itu kepada Kakak sepupunya.


"Aku ke belakang ya Mbak." ijin Ipul pada Mayang.

__ADS_1


"Ya sudah sana lihat teman kamu, takutnya dia lagi ada masalah." Mayang memperbolehkan Ipul untuk masuk ke belakang kantinnya dimana Zara berada sekarang.


Ipul pun bergegas menuju dapur yang bersebelahan dengan tempat cuci piring.


"Za." seru Ipul ketik mendapati Zara tengah berdiri melamun dengan tangan yang memegang piring.


Gadis itu hanya terdiam tanpa melakukan tugasnya dengan wajah yang tampak sangat sedih.


Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi dengan Zara, berbagai pikiran kini berkecamuk di dalam kepala pemuda yang sangat manis jika tengah tersenyum itu apalagi Zara yang tidak mendengar saat dipanggil.


Ipul mendekati Zara dan memegang bahunya.


"Za." sentuhan Ipul yang disertai dengan suaranya akhirnya menyadarkan Zara dari lamunannya yang sudah jelas pikirannya itu sedang berada dimana sekarang ini.


Zara tergagap sampai piring yang ada di tangannya terlepas untungnya Ipul sigap menangkap hingga piring itu tidak jatuh.


Zara mencoba untuk menghapus setitik air mata yang sempat turun tadi.


"Kenapa?" tanya Ipul seraya menahan tangan Zara.


"Lu masih marah sama gue, soal kejadian di gudang?" Ipul mulai menanyakan perasaan Zara.


"Terus kenapa lu terus menghindar dari gue? gue nggak nyaman lu berubah kayak gini Za." ungkap Ipul bahkan dia tidak sadar bahwa dulu juga dia pernah terus menghindar dari sahabatnya itu.


"Kenapa lu kayak gini? gue nggak suka Za nggak suka." ujar Ipul tegas.


"Gue nggak bisa balas perasaan lu Pul." akhirnya Zara mengatakan apa yang ia rasakan dan mengapa ia menghindar dari pemuda itu.


Ipul mengernyitkan keningnya.


"Gue bilang itu bukan berarti gue minta lu balas perasan gue Za, gue butuh itu. cukup lu tahu bagaimana gue terhadap elu." ungkap Ipul meyakinkan Zara bahwa dia baik-baik saja meskipun Zara tidak bisa membalas perasaan hang dia miliki untuk gadis itu.


"Maafin gue Pul." lirih Zara dengan mata yang berbinar dipenuhi air mata.


"Gue yang seharusnya minta maaf sama elu karena perasaan gue malah bikin kita jadi kayak orang asing." tutur Ipul seakan menyesali perasaannya sendiri.


"Bisa nggak kita kayak dulu lagi?" tanya Ipul dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


Zara mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan Ipul.


Melihat anggukan kepala dari Zara yang artinya IYA raut wajah Ipul menjadi sangat bahagia dengan senyuman manisnya.


Zara tersenyum membalas senyuman dari Ipul namu sahabatnya itu bisa melihat ada sesuatu yang masih mengganjal pada gadis di depannya sekarang.


"Lu ada masalah?" Ipul mulai mengorek apa yang terjadi pada Zara.


"Nggak." bohong Zara, namun seorang Ipul yang sudah mengenal Zara rupanya tidak mudah untuk dibohongi, pemuda itu terus menekan Zara untuk jujur padanya.


"Jangan bohong Za, gue nggak suka." tukas Ipul dengan mata memicing penuh kecurigaan.


Zara menarik napas panjang, sadar bahwa ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya itu.


"Ada hubungannya sama Davi?" Ipul mulai menebak siapa yang sudah membuat Zara menjadi murung seperti ini.


Zara yang mengunci mulutnya malah membuat Ipul semakin yakin bahwa benar Davi lah yang menjadi tertuduh sekarang ini.


"ZA!" Ipul berseru keras sambil memegang bahu Zara.


"Davi mutusin gue Pul." Zara akhirnya berkata lirih mengadukan tentang yang diucapkan oleh Davi semalam.


"Tapi tenang aja, gue udah menghadiahi dia sama ranting pohon kok." lanjut Zara seperti menenangkan Saipul yang dari ekspresinya saja sudah terlihat marah kepada kakak sepupunya itu.


Zara mencoba untuk tersenyum dan semakin banyak berkata.


"Gue juga udah bilang kok kalau gue nggak mau putus sama dia." tutur Zara sambil tersenyum namun dari matanya terlihat bahwa gadis itu merasakan kesedihan yang ia sembunyikan.


"Za." ucap Ipul pelan.


"Gue sayang sama dia Pul, gue sayang." kata Zara dengan suara bergetar dan akhirnya tangisnya yang sejak tadi ia tahan pun pecah juga.


"Gue nggak tahu kenapa gue bisa sesayang ini sama sepupu lu itu padahal dia.." Zara tidak melanjutkan perkataannya malah semakin menangis membuat Ipul menarik tubuh Zara dan membawanya ke dalam pelukan.


Ipul mendekap tubuh Zara dengan sangat erat berusaha berharap itu akan membuat Zara tenang, namun tidak, Zara bukan semakin tenang tapi malah makin menangis mengeluarkan isakannya.


Rahang Ipul mengeras merasa tidak terima Davi membuat Zara menangis seperti ini.

__ADS_1


Sungguh kali ini ubun-ubun Ipul terasa sangat panas dan ingin mengeluarkan rasa panas itu dari dalam kepalanya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2