Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 105


__ADS_3

Davi yang baru saja sampai langsung bersemangat mencari keberadaan istrinya yang kata sang Mamah ada di dalam kamar.


Ya pagi-pagi sekali Davi sudah mendarat di Jakarta tentunya dia memang mengambil penerbangan malam hari seperti yang sudah dia katakan pada sang istri sebelumnya.


"Kenapa tidak menyambut suamimu sayang," seru Davi yang menerobos masuk ketika tahu pintu kamar tidak di kunci, langsung naik ke atas tempat tidur saat melihat istrinya yang nyatanya sudah bangun dan tengah duduk di tengah kasur yang empuk itu.


"Bagaimana Lisa?" malah menanyakan wanita yang berniat mengikat suaminya dengan kehamilan yang tidak di perbuat oleh sang suami.


"Mereka akan menikah lusa," sahut Davi seraya memeluk hangat tubuh sang istri. "Aku kangen banget sama kamu," kata pria itu yang memang itulah kenyataannya, dia sangat merindukan wanita yang menjadi istrinya itu.


Zara mengulas senyum sambil mengelus wajah tampan sang suami yang sepertinya mengantuk. "Tidur dulu Mas," kata Zara tenang.


Raut wajah Davi terlihat begitu senang mendengar kata Mas yang keluar dari bibir mengagumkan istrinya, bibir yang selalu membuatnya lupa akan semua hal jika sudah mulai menyentuh benda tak bertulang itu.


"Kenapa diam aja sih Yang?" tanya Davi ketika di dalam mobil Zara mendadak menjadi seorang pendiam, sungguh serasa yang duduk di sampingnya sekarang bukanlah istrinya, bukan Zarania Permata yang biasanya sangat bawel. beberapa hari dia pergi kenapa istrinya sudah berubah menjadi orang lain? Davi yang tengah membawa mobil berulang kali menoleh pada Zara yang menunduk sambil meremas tangan.


"Kenapa sih Za?" sepertinya Davi mulai tak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang apa yang terjadi selama dia pergi.


Zara malah makin menundukkan kepalanya tenggelam dalam rasa bersalah yang akan menghantui jika ia tak mengatakan pada suaminya apa yang telah terjadi.

__ADS_1


"Apa Mamah sudah menunjukkan perannya sebagai Ibu mertua?" malah menuduh Mamahnya yang bahkan tidak tahu menahu apapun pada sang menantu.


Zara mengangkat wajahnya lalu menggeleng cepat, kenapa malah Ibu mertuanya yang bahkan sudah sangat baik padanya menjadi tertuduh.


"Terus apa? waktu aku pergi kamu masih baik-baik aja malah bawel banget minta aku buat cepat pulang, tapi sekarang pas aku pulang malah jadi kayak gini," protes Davi sambil terus menjalankan mobil menuju rumah mereka.


"Aku mau Resign," ucap Zara pelan.


Davi yang mendengar pun seakan tak percaya, bisa gitu istrinya dengan sukarela berhenti bekerja padahal kemarin-kemarin sangat ngotot untuk tetap bekerja dan baru akan berhenti 3 bulan lagi.


"Kita omongin di rumah aja," kata Davi kemudian, dia yang sebenarnya sangat senang Zara berhenti bekerja karena itu artinya Zara akan senantiasa mengikutinya kemanapun dia pergi, tapi tak dipungkiri ada sesuatu yang terasa janggal dalam hatinya dan harus dia ketahui apa penyebabnya.


Mobil segera masuk begitu pagar besi di buka oleh Pak Rahmat turun dari mobil Zara gegas masuk ke dalam rumah sedangkan Davi mengobrol sejenak pada penjaga rumah seraya memeriksa kondisi tembok samping yang sudah selesai di tinggikan serta tadi juga Davi sudah melihat pagar yang berkarat sudah di ganti dengan pagar yang baru sesuai dengan yang sudah dia perintahkan.




Derap langkah Davi terhenti kala dia merasakan HP di dalam saku celananya bergetar, mengeluarkan benda itu lalu melihat ada satu motif pesan berupa video di layar HP, tanpa curiga dia membuka video itu, menunggu unduhan selesai seraya kembali pada tujuannya untuk menaiki anak tangga.

__ADS_1



Sedang di dalam kamar Zara tengah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang sudah terjadi, menghembuskan nafas yang terasa sangat berat.



"Sayang aku mau kopi," seru Davi dari lantai bawah, rupanya pria itu tak jadi naik ke lantai atas dan memilih untuk menuju ke ruang kerjanya.


Zara yang tengah bersiap dengan segala kemarahan yang nantinya akan dia terima terjengkit kaget mendengar teriakan sang suami, dengan kaki yang bagaikan tak bertulang ia keluar dari kamar berniat membuatkan kopi untuk suaminya itu.


Menuangkan satu sendok teh kopi serta dua sendok teh gula ke dalam gelas lalu menyeduhnya dengan air panas yang baru saja dia masak, kopi yang mengepul itu sudah siap dan kini ia membawanya pada sang suami yang tengah menunggu.



"Mas," panggilnya lalu membuka pintu, di kursi kerja Davi tengah duduk dengan HP di tangannya, pria itu tampak menunduk namun terlihat bahwa rahang pria itu tengah mengetat sempurna gerakan dadanya juga sangat cepat menandakan bahwa pria itu tengah mengambil nafas dengan cepat, bagaikan seorang yang baru saja berlarian di lapangan luas.



Zara meletakkan kopi ke atas meja, lalu mata mereka saling menatap, Davi menatapnya dengan sangat aneh, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Aneh, benar-benar aneh hingga Zara terdiam kaku tak bergerak sama sekali meski iapun masih tak berniat memutus tatapan mereka.


\*\*\*\*


__ADS_2