
Di dalam kamarnya Saipul tengah melihat rekaman perkelahian Zara yang beredar di grup WhatsApp sekolahnya yang tentu saja membuat ramai grup yang biasanya sepi itu.
Puluhan chat masuk dengan cepat mengomentari perkelahian antara dua orang wanita yang saling menjambak rambut di tengah keriuhan sorak-sorai orang-orang yang mengelilingi mereka.
Ipul menggelengkan kepalanya melihat tingkah Zara yang sampai bisa melakukan tindakan konyol seperti itu hanya karena seorang Davi.
Ya Daviandra sang Kakak sepupunya sendirilah yang membuat Zara tak lagi mendengarkan dirinya bahkan dia pun harus terpaksa menjauhi gadis itu hanya agar gadis itu sadar bahwa dirinyalah yang ia butuhkan, bukan Davi yang hanya mempermainkannya semata.
"Saipuuul." terdengar suara Mamahnya yang memanggil dia dari lantai bawah.
"Iya Mah sebentar." sahut Ipul seraya menyimpan HPnya dan turun menghampiri wanita yang sudah menunggunya diujung tangga bawah.
"Kenapa Mah?" tanya Ipul ketika melihat sang Mamah.
"Sini sebentar, ada yang mau ditanyakan sama Papah kamu." mengajak sang anak menuju rumah keluarga di mana Papahnya yang bernama Irman tengah menunggunya, seperti ada hal yang sangat penting dan ingin disampaikan pria dewasa itu.
Ipul mengikuti langkah sang Mamah menuju Papahnya dan ketika Mamahnya duduk di samping sang Papah Ipul memilih untuk duduk di bawah yang beralaskan karpet tebal menghadap kedua orang tuanya itu.
"Wajah kamu kenapa sih? dari pulang sekolah kusut banget." ucap Riska sang Mamah.
"Panggil Ipul cuma mau tanyain itu?" wajah Saipul malah makin tambah kusut mendapat pertanyaan dari sang Mamah.
"Bukan, kamu sensi banget sih hari ini." senyum Riska ketika mendapati wajah anak satu-satunya itu cemberut.
"Papah tuh mau ngomong sama kamu." ucap Riska lagi seraya melirik suaminya yang sejak tadi hanya mendengarkan saja istrinya meledek sang anak.
"Kenapa Pah?" kini tatapan Ipul beralih kepada sang Papah.
__ADS_1
"Barusan Om Arman telepon." ucap Irman, ya Arman dan Irman memang saudara kembar dan itu menurun pada Adiknya Davi yang juga kembar, sedangkan Ipul hanya anak tunggal karena setelah Ipul lahir rahim sang Mamah mengalami infeksi yang akhirnya berujung pada larangan dokter untuk mempunyai anak lagi.
Ipul mendesah panjang karena sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya, jika Om nya itu sudah menghubungi Papahnya dan sang Papah sampai memanggilnya seperti ini, sudah jelas masalahnya kalau bukan tentang sang Kakak sepupunya itu.
Ya tebakan Ipul tidak pernah salah, Papahnya pasti akan menanyakan tentang Davi kepadanya.
"Soal Bang Davi?" tebak Ipul yang memang terbiasa memanggil Davi Abang.
"Om Arman khawatir Davi menjadi semakin tak terkendali jika terus dibiarkan bermain dengan teman-temannya." sahut Irman lugas mengatakan apa yang menjadi ke khawatiran Kakaknya itu.
"Terus Ipul mesti ngapain? kan Ipul juga sudah nggak pernah main sama Bang Davi Pah." ungkap Ipul.
"Papah tahu sendiri kan, Bang Davi udah nggak pernah mau ngobrol sama Ipul, jangankan ngobrol ketemu aja dia malah pura-pura nggak kenal." cetus Ipul tentang Davi sekarang ini yang sudah sangat berubah drastis selama beberapa tahun ini.
Irman menarik napas mendengar aduan sang anak tentang hubungan antara dua sepupu itu.
Ipul tampak malas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang Mamah karena itu artinya dia harus menyebut nama Zara yang memang menjadi kekasih Davi saat ini.
"Punya nggak Pul?" ulang sang Mamah seraya memberikan tatapan meminta pertanyaannya di jawab.
"Nggak tahu." bohong Ipul.
Mendengar jawaban Ipul membuat Riska memicingkan mata karena ia tidak percaya dengan jawaban anaknya sendiri, ia sangat yakin Ipul tahu tentang Davi, ya karena pergaulan anak sekolah kan hanya sekitar itu-itu saja. pikir Riska yang makin mendesak Ipul.
"Bohong dosa loh." gertak sang Mamah.
Ipul mendengus mendapat ancaman dari Mamahnya itu dan akhirnya mau tidak mau dia menjawab pertanyaan yang membuat Mamahnya itu begitu penasaran.
__ADS_1
"Iya punya." menjawab dengan sangat malas.
"Nah kan." sahut Riska.
"Memangnya kenapa sih Mah, sibuk banget nanyain Davi punya pacar atau nggak." tanya Irman yang sejak tadi menjadi pendengar.
"Kamu kenal nggak siapa ceweknya?" malah kembali bertanya pada sang anak dan mengabaikan pertanyaan dari suaminya.
"Kenaal." menjawab dengan begitu malasnya.
"Siapa?" Riska malah makin dibuat penasaran.
Entah apa yang sekarang ada di dalam kepala Riska hingga wanita itu terus saja menanyakan siapa wanita yang sedang dekat dengan Davi saat ini, satu yang pasti ada sebuah rencana yang sedang dipikirkan oleh Riska.
"Zara." Ipul menjawab pelan.
"Hah? Zara? Zarania?" Riska bertanya dengan kekejutan yang sungguh tak terkira.
Gadis yang ia sangat kenal sebagai teman dari anaknya karena tak jarang gadis itu datang berkunjung ke rumahnya, gadis periang yang membuat Riska bahkan menyayangi gadis itu seperti anaknya sendiri, terlebih lagi karena dia memang tidak ada anak lagi kecuali Saipul.
Ipul mengangguk lemah.
"Yang bener kamu?!" tanya Riska dengan rasa terkejut yang tidak bisa di sembunyikan lagi dari wajahnya.
"Iihh, Mamah nih kadang-kadang emang ngeselin susah banget percayanya sama Anak sendiri." keluh Ipul.
"Bukan nggak percaya Saipul, cuma Mamah kaget karena Mamah pikir kamu dan Zara.." Riska tidak meneruskan perkataannya begitu melihat ekspresi Saipul yang makin berubah tak enak dilihat.
__ADS_1
***************