Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 117


__ADS_3

"Sebaiknya kalian pikirkan semuanya dengan kepal dingin, bicarakan baik-baik," kata Arman kepada sang anak yang duduk di tepi ranjang sambil menangkup wajahnya, tidak memberikan jawaban apapun.


"Kalau begitu Ayah dan Mama harus pulang sekarang," sambung Arman.


Pria itu keluar dari dalam kamar lalu melangkah pelan meniti anak tangga, melangkah satu persatu dengan gerakan lambat sambil matanya melihat pada sang istri yang juga melakukan hal sama seperti yang dia lakukan tadi.


Menasehati sang menantu dengan suara yang lembut, sebisa mungkin untuk tidak memberikan tekanan yang malah akan menambah beban pikiran wanita yang di matanya sudah tak pernah lagi menunjukkan binar kebahagiaan.


Semuanya seakan sudah hancur tak bersisa setelah kejadian beberapa waktu lalu.


Terlihat jelas bagaimana menantunya sangat tersiksa, karena jangankan Zara yang mengalaminya, dirinya saja yang ikut merasakan sakit hati yang luar biasa meski tidak dia perlihatkan.


"Ma, kita pulang sekarang," ajak Arman.


Andini melihat padanya lalu kembali melihat pada sang menantu, raut wajahnya memperlihatkan bahwa ia tidak tega meninggalkan menantunya yang tengah menangis seperti ini.


Nalurinya sebagai seorang Ibu memang sangat besar, tak sanggup membayangkan jika Zara dan anaknya harus berpisah, terlebih lagi dalam keadaan yang seperti ini.


Wanita ini memang sangat menyayangi Zara bahkan saat pertama kali mereka bertemu, sungguh baginya Zara adalah gadis yang ceria dan juga menyenangkan, selalu menunjukkan senyum dan wajah yang penuh semangat.

__ADS_1



Andini mendesah berat seraya menepis buliran air mata yang memaksa untuk keluar padahal dia sudah berusaha untuk menahannya, agar sang menantu tidak bertambah sedih karena melihatnya meneteskan air mata.



"Davi nya dimana?" tanya Andini karena dia tidak mungkin meninggalkan sang menantu dudyk sendirian di ruang tamu rumah itu.



"Di atas, sebentar lagi dia turun," jawab Arman seraya menoleh ke lantai atas begitu mendengar suara pintu yang di buka.


Andini mengikuti pandangan sang suami lalu mengangguk ketika melihat putranya keluar dengan wajah yang sama seperti ketika masuk kamar tadi.



Tapi di sisi lain wanita yang dia cintai malah terus meminta untuk berpisah tak bisa terus bertahan setelah semua yang terjadi, trauma serta ketakutan akibat kejadian mengerikan itu seperti terus membekas di dalam diri Zarania, seorang pramugari yang dulu sangat ceria dalam sekejap berubah menjadi Zara yang selalu menangis.


__ADS_1


"Mama dan Papa akan pulang, Mama mohon sama kamu pikirkan semuanya baik-baik. Mama tidak ingin kalian berpisah," kata Andini ketika Davi mengantarkan kedua orang tuanya sampai ke pintu rumah.



"Davi melakukan ini untuk Zara Mah, Davi tidak mau Zara terus tertekan karena harus bersama Davi, padahal Mama dan Papa pun tau bagaimana Davi sangat mencintai Zara dan bersedia menerima apapun yang akan terjadi nanti," jawab Davi dengan suara yang terdengar begitu berat.



"Lebih baik kita pulang sekarang, biarkan mereka berbicara dan memikirkan semuanya tanpa ada yang mengganggu," timpal Arman mengelus lengan sang istri yang tengah memegang bahu sang anak.



Andini perlahan menurunkannya tangannya dan beranjak menuju mobil berwarna hitam yang terparkir di halaman rumah masa kecil Zara yang dulu menyimpan semua kenangan indah tentang mendiang Mamanya.


Namun sekarang rumah itu pula yang menjadi sebuah mimpi buruk bagi wanita malang itu.


Davi menunggu sampai mobil yang dikendarai oleh orang tuanya pergi barulah setelah itu dia masuk ke dalam serta mengunci pintu.


Langkah pria itu terhenti kala tidak mendapati istrinya di ruang tamu, padahal tadi saat mengantar orang tuanya sang istri berada di tempat itu duduk dengan wajah dan juga tatapan mata yang kosong.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2