
Davi menghentikan motornya di sebuah lapangan basket tempat biasa dia latihan.
Lapangan basket yang hampir sepi dan hanya ada sekitar 3 orang saja di sana karena memang langit yang sudah mulai menggelap.
Zara dengan sadar dirinya bergerak turun dari motor sang kekasih, begitupun dengan Davi yang membuka helm dan meletakkannya dengan kasar di atas tangki motornya, terlihat sekali ada kemarahan yang terpancar dari wajahnya dengan rahang yang mengeras.
Perbuatan Davi itu tentu membuat Zara tersentak kaget hingga kedua bahunya bergerak naik.
"Kamu kenapa?" tanya Zara yang memang tidak mengetahui bahwa Davi mendapat kiriman video dari saudara tirinya tentang yang terjadi antara ia dan Ipul.
Davi mendengus seraya tersenyum miring sepertinya mengejek Zara dan mengira bahwa Zara tengah berpura-pura polos dan tak mengerti apapun.
Tanpa berkata apa-apa pemuda itupun lantas memegang tangan Zara dengan erat dan menariknya dengan kasar menuju ke bangku penonton yang berada di bagian atas.
Zara pasrah mengikuti kemana Davi membawanya bahkan ketika kekasihnya itu dengan kasar mendorong tubuhnya untuk duduk hingga tubuhnya terduduk dengan menimbulkan suara yang kencang.
"Jelasin ini apa?!" Davi mengeluarkan HPnya dari saku dan menunjukkan pada Zara apa yang ada di dalam rekaman yang dia terima.
Zara terlihat masih tidak mengerti dengan yang di maksud oleh Davi, wajahnya terlihat begitu bingung.
Davi yang kesal lalu memutar rekaman itu, baru setelah itu Zara yang tersentak kaget menutup mulutnya dengan kedua tangan merasa tidak menyangka ada orang yang merekam peristiwa di gudang sekolah saat ia tidak sengaja jatuh menimpa tubuh Ipul.
"Kenapa diam!?" Davi berucap dengan suara dingin ketika Zara hanya diam dengan wajah terkejutnya melihat rekaman dirinya sendiri.
Zara menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan Dav." seru Zara dengan suara pelan.
"Memangnya kamu tahu apa yang sekarang ada di dalam pikiran ku? hingga kamu bisa berbicara seperti itu." Davi berkata sengit mengejek omongan Zara.
"Lihat lebih jelas apa yang kalian lakukan selanjutnya." Davi berkata tajam seraya terus mengarahkan layar HPnya pada tatapan gadis yang sudah mengeluarkan keringat dinginnya.
"Itu tidak sengaja Dav, Ipul jatuh dan itu semua terjadi begitu saja." bohong Zara, ia tidak mengatakan bahwa Ipul sengaja menciumnya karena ia tidak mau Ipul akan terkena masalah, ia juga tidak ingin hubungan kedua sepupu itu semakin memanas karenanya.
Davi tertawa mengejek mendengar penjelasan dari Zara, sungguh demi apapun ia tidak akan percaya semua yang dikatakan oleh gadis yang kini duduk di dalam kungkungannya.
Wajah Davi yang begitu dekat dengannya membuat Zara seolah tidak dibiarkan untuk bernapas terlebih lagi ketika pemuda itu memberikan sorot mata yang sangat tajam kepadanya membungkukkan badan seraya menopangkan kedua tangannya di samping kiri kanan dirinya.
"Berapa banyak lelaki yang sudah merasakan ini?" pertanyaan yang terdengar menyakitkan keluar dari mulut Davi dengan tangannya yang menyentuh bibir Zara.
Tentu saja pertanyaan itu membuat Zara membelalak kaget, ia sangat tidak menduga bahwa Davi bisa dengan entengnya melontarkan pertanyaan macam itu seolah menganggap ia adalah gadis yang sudah banyak di sentuh oleh lelaki.
"Kenapa memang? tidak usah munafik Zara, aku sudah banyak mengenal gadis seperti kamu ini." ucap Davi seraya tersenyum sinis dan penuh penghinaan.
"Aku tidak seperti yang kamu katakan Dav." kata Zara lirih.
"Aku tidak percaya." ketus Davi seraya menghembuskan napasnya yang hangat ke wajah Zara.
Zara semakin bingung ketika wajah pemuda yang ia sayangi itu semakin mendekati wajahnya.
Namun ketika Zara mencoba untuk memalingkan wajahnya tangan Davi mencengkeram tengkuknya lalu dengan cepat mengarahkan bibirnya pada bibir Zara.
__ADS_1
Mata Zara membuka lebar kala merasakan dingin dan lembab nya bibir Davi menyentuh bibirnya bukan sekedar menyentuh saja namun Davi juga sudah mulai menggerakkannya bahkan terasa kasar dan penuh paksaan.
Zara mencoba untuk menghindar tapi tenaganya kalah apalagi kini tangan Davi ikut bergerak ke tubuh bagian atasnya memaksa untuk membuka kancing baju sekolah yang ia pakai.
Davi semakin beringas terhadap tubuh Zara dan kali ini wajahnya sudah mendarat di dada Zara yang sebagian kancing bajunya sudah terbuka.
"Hentikan Davi, aku mohon." suara Zara sudah terdengar getir dengan tangis yang mulai terdengar.
Davi bukannya menghentikan perbuatannya itu dia malah semakin brutal menyentuh Zara dan tangannya mulai berani turun ke area bawah.
Merasakan tangan Davi sudah mulai menyelinap ke bawah membuat Zara menangis histeris di tempat yang sudah sepi dan gelap itu.
Tangisan histeris yang merasuki telinga Davi membuat pemuda itu seolah baru sadar dari ketidak warasan dirinya yang hampir saja melakukan perbuatan tidak pantas pada Zara.
Davi diam membatu dengan posisi bersujud di antara kaki Zara, matanya memandang gadis yang kini bercucuran air mata.
"Maaf." ujar Davi seraya merapikan kembali pakaian Zara yang tak karuan karena perbuatannya.
Zara masih terus menangis tersedu tidak menyangka dengan uang dilakukan oleh Davi kepada dirinya.
Setelah merapikan pakaian Zara Davi mengelus kepala Zara menempelkan kening mereka berdua dengan mata terpejam.
**************
Maaf karena lama tidak up sibuk sama novel sebelah di tambah lagi adik saya nikahan.
__ADS_1
Mudah-mudah bisa lancar lagi up nya..
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏