Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 165


__ADS_3

Langit mulai menggelap saat Ipul melajukan mobilnya untuk pulang ke apartemen yang dia huni, apartemen yang tidak terlalu besar yang dia sewa dengan hanya satu kamar tidur saja di dalamnya dengan ruangan lainnya, meski begitu apartemen itu tetap tempat yang nyaman baginya selama dia berada di negara ini.


"Bukankah ada sesuatu yang tidak benar?" gumamnya melanjutkan kebimbangan yang sudah sekian hari mengganggu perasaannya.


Sambil menyetir sebelah tangannya kini menahan keningnya yang terasa berdenyut entah sejak kapan.


Ipul melemparkan semua yang dia bawa, dari kunci mobil tas serta sepatu yang dia copot tergesa kini sudah ada di pojok ruangan dekat vas bunga besar dari keramik.


Apartemen pria itu tampak begitu lengang dengan sebagian lampu yang sengaja tidak dia nyalakan bukan untuk berhemat tapi lebih karena penghuninya yang lebih menyukai suasana temaram seperti ini, seorang bujang yang hidup jauh dari keluarga dan kadang lebih senang duduk menyendiri di sofa ruang tamu menikmati pemandangan malam di kota itu dengan lampu yang tidak menyala hanya hanya akan menampilkan siluet tubuhnya sedang duduk memikirkan dunia yang bahkan tidak memikirkan dirinya.


Tangan Ipul memutar-mutar benda tipis di tangannya yang setiap kali dia pergunakan untuk berhubungan dengan keluarganya di Indonesia atau teman-teman di perusahaan tempat dia bekerja.


Ada segelumit rasa ingin menghubungi seseorang tapi akhirnya dia cukup menahan diri untuk tidak menghubunginya mengingat ini sudah cukup larut dan dia tau benar bahwa di jam seperti ini orang itu tentu sudah tidur.


Keningnya berulang kali mengernyit menandakan dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, rasa penasaran sungguh menghantuinya, rasa penasaran yang sudah sangat dia tahan untuk tidak dia tanyakan.


"Apa dia bohong?" bermonolog.


"Dia hanya mengatakan ingin liburan dan Abang mengijinkannya, lalu kenapa sekarang ada kabar seperti ini?"


Sungguh Ipul tidak bisa mengerti kejadian rumit apa yang sedang dia hadapi, awalnya dia merasa sangat senang dan tenang bahkan dia sampai lupa untuk menghubungi keluarganya, tapi setelah mendengar semua kabar dari orang tuanya Ipul pun jadi bertanya-tanya ada apa sebenarnya?

__ADS_1


Tarikan nafas terdengar keras kala Ipul belum juga menemukan jawaban, rasa penasarannya tidak akan bisa dia jawab sendiri sebelum dia menemuinya.


"Aku akan menanyainya besok," finalnya kemudian.


Itu lebih baik ketimbang harus menyimpan semua pertanyaannya sendiri.


****


"Aku turut bersedih," ucap Lugo yang kini berbicara dengan Davi melalui sambungan telepon.


Pria itu yang tadinya menunggu kabar menyenangkan dari sahabatnya malah sangat terkejut dengan berita yang dia dapatkan, sungguh dia tidak pernah menyangka istri dari sahabatnya itu malah menjadi salah satu korban dari pesawat yang mengalami kecelakaan di lautan.


Itu sangat menyakitkan dan Lugo pun tahu itu, seberapa dalam kesakitan yang Davi rasakan hingga sejak tadi Davi masih tidak banyak bicara padanya.


Pria itu memutuskan untuk kembali ke Australia memilih menyibukkan diri daripada harus terus meratapi kepergian istrinya, meskipun dia tahu dengan datang ke Australia dan tinggal kembali di apartemen akan kembali mengusik ingatannya tentang Zara, tidak masalah sebab sampai kapanpun Zara tidak akan pernah dia lupakan.


Tentu dia tidak mau melupakan dia hanya ingin sedikit mengurangi kesedihannya saja dengan melakukan kesibukan, bergulat dengan pekerjaan di perusahaan salah satunya.


"Itu terlalu cepat, kamu bisa kembali kapanpun kamu mau tapi tidak secepat itu," jawab Lugo sedikit keberatan.


Davi tersenyum kecut menatap pepohonan di dekat danau tempat dia dulu sering melakukan balap liar.

__ADS_1


Menarik napas karena danau ini adalah salah satu tempat yang menjadi kenangan antara dirinya dan Zara.


"Terlalu lama di negara ini malah membuat aku menjadi tidak waras," sahutnya menatap lurus dan tersenyum pedih kala memorinya mengingatkan dia tentang Zara yang pernah berkelahi dengan mantan pacarnya di tempat itu.


Lugo menghembuskan napas panjang serta berat, "baiklah jika menurutmu itu yang terbaik," katanya menyerah.


Sebagai seorang sahabat dia tentu inginkan Davi menata hatinya lebih dulu sebelum kembali berkutat dengan kesibukan dunia, tentunya Lugo merasa Davi akan menjadi sulit berkonsentrasi nantinya.


Tak ada jawaban dari Davi, hanya hembusan napasnya yang masih terdengar sangat berat dan tidak stabil tentu ada goncangan dalam diri pria ini tentang kenyataan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Kabari aku jika ada hal apapun itu, sekarang aku harus menyelesaikan berkas untuk rapat besok," ujar Lugo mengakhiri pembicaraan ketika Davi mengiyakan.



Saat ini di Australia tentu sudah sangat larut, dan Lugo masih menyempatkan diri untuk menghubunginya di tengah kesibukan pria itu.



Davi memegang handphonenya erat mengatupkan mulutnya lalu memejamkan kedua mata mulai kembali menyelami kekalutan hatinya yang semakin hari malah semakin terasa menyesakkan.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2