
"Kamu dari mana Mas?" untuk kedua kalinya Zara kembali bertanya namun pertanyaannya seakan hanya sebuah angin lalu bagi pria yang kini sudah berada di atas tubuhnya menenggelamkan wajah pada ceruk lehernya memberikan hembusan nafas hangat yang menggetarkan sensitifitas seorang wanita.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut pria di atas tubuhnya, hanya dengusan nafas yang tertahan, Zara dapat merasakan nafas serta sentuhan benda kenyal yang mulai menyentuh lehernya ia memejamkan mata merasakan setiap sentuhan dengan tangannya yang merangkul leher sang pria.
Tak ada yang Zara pikirkan selain bahwa mungkin suaminya sudah tak lagi marah padanya, bukankah dengan perlakuan yang pria itu lakukan menunjukkan hal itu? wanita mana yang tidak akan ikut terbuai setelahnya dengan sentuhan dari pria yang dia cintai hingga semakin memberikan keleluasaan pada sang pria agar bisa melakukan apa yang pria itu inginkan.
Mulai menghayati setiap sentuhan sampai hidungnya baru menyadari wangi sang suami yang sangat berbeda, aroma parfum yang begitu maskulin menusuk hidungnya membuat dahi mengerut mulai mengingat bahwa selama mengenal Davi rasanya hidungnya tak pernah di suguhkan oleh wangi parfum maskulin seperti ini, suaminya lebih menyukai aroma parfum yang lembut dan sangat Zara sukai.
Jantung Zara mulai berdegup kencang dengan nafas yang tertahan kala tangannya bergerak turun menyentuh jaket pria di atasnya, kembali berpikir bahwa tadi ketika pergi sang suami memakai kemeja, tangannya bergerak ke bagian depan guna memastikan apa yang pria itu kenakan.
Bergerak lambat di tubuh sang pria memastikan adalah kancing yang tersentuh, namun wajah Zara menjadi sangat kaku kala tangannya tak menyentuh benda-benda bulat kecil itu di pakaian si pria.
Di tengah kebingungan dan ketakutannya tangannya itu tak sengaja menyentuh bagian kepala si pria berniat untuk menjauhkan dirinya, menghentikan apa yang tengah pria itu lakukan tapi tangannya malah merasakan bahwa pria itu memakai minyak rambut, sangat terasa rambut sang pria basah.
"Ini bukan Davi, Davi tidak pernah memakai minyak rambut," batin Zara dengan nafas yang sudah tidak beraturan tepat saat itu HP di atas meja berdering membuat Zara menoleh dan baru akan menjulurkan tangannya namun pria di atas tubuhnya malah menahan dan memegang erat tangannya tidak membiarkan ia mengambil HP.
Semua yang ada pada pria itu menunjukkan bahwa dia adalah orang lain, bukan suaminya membuat Zara berusaha untuk mendorong keras sang pria.
__ADS_1
"Kenapa Za?" akhirnya sang pria mengeluarkan suaranya.
"Kamu benar-benar bukan Davi!" pekik Zara seraya berusaha untuk beranjak dari tempat tidur namun pria misterius itu malah lebih cepat menahan gerakannya memegang kedua kakinya menahan agar tidak kemanapun.
"Siapa kamu!" seru Zara dengan suara yang meninggi, sungguh tak ada penerangan apapun membuat Zara seolah menjadi buta karena hanya ada kegelapan di depan matanya tapi meski begitu dia sangat tahu bahwa dirinya berada dalam kondisi yang bahaya, dia bersama dengan pria yang tidak dia kenal di dalam kamar.
Terdengar tarikan nafas yang begitu berat, tarikan nafas seperti orang yang sangat kecewa karena sudah dilupakan oleh wanita yang dia sukai selama ini. "Kamu benar-benar sudah melupakan aku Za?" Tanya pria yang kini mulai kembali mendekat di saat Zara sudah berusaha untuk menjauh hingga punggungnya sudah tertahan oleh sandaran tempat tidur, diam di tempat karena sudah tidak bisa bergerak mundur.
Zara mencoba mengingat suara di depannya namun ia sungguh tidak ingat apapun, suara pria di depannya ini sangat tidak familiar di indera pendengarannya, Zara merasa tidak pernah mendengar jenis suara dan tentunya pemilik suara yang tengah membuatnya dalam keadaan menakutkan seperti ini.
Sudah tidak mau memikirkan siapa pria gila di depannya ini membuat Zara akhirnya memutuskan untuk berteriak meminta pertolongan dari siapapun yang ada terutama Pak Rahmat yang berjaga di luar, tanpa Zara tahu bahwa penjaga rumahnya itu sedang tidak ada.
"Berhenti berteriak Za! Atau aku akan melakukan tindakan gila lainnya!" ancam si pria untuk menghentikan teriakan Zara.
Zara tidak peduli karena yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah menyelamatkan diri dari pria yang tidak dia kenal, kakinya terus memberontak dengan tangan yang sudah menggenggam erat gelas kaca, berniat untuk menghantam kepala pria gila di depannya.
"Sejak dulu aku selalu menahan diri, sampai kesabaranku habis, aku sangat tidak rela melihat pria lain menyentuh tubuhmu yang seharusnya hanya milikku," pria itu mulai mengatakan isi hatinya.
__ADS_1
Mata Zara melebar lalu dengan cepat memukul dahi pria itu dengan gelas, gelas pecah seketika dengan pria itu yang bergerak kebelakang serta geraman dari mulutnya yang merasakan sakit di dahinya serta cairan yang perlahan keluar, dia tahu itu adalah darah.
"Abian, jangan seperti ini Abian," kata Zara panik, yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah nama Abian meskipun kemarin saat mereka bertemu Abian meminta maaf padanya, mengatakan tidak akan berusaha untuk mendekati Zara lagi karena sadar bahwa Zara sudah memiliki suami, tapi bukankah itu hanya kamuflase saja? agar Zara percaya padanya, meskipun suara pria di depannya ini berbeda dengan suara Abian, tapi tetap saja hanya Abian lah satu-satunya yang akan ia jadikan tersangka.
Zara tentu tidak mau menuduh pria ini adalah Ipul karena Zara sangat mengenal suara Ipul juga wangi dari temannya itu, meskipun terakhir kali Ipul melakukan tindakan keterlaluan padanya, tapi bukankah Ipul sudah berjanji bahwa akan melupakan semua perasaan yang pria itu punya memilih move on darinya.
Namun sesaat kemudian tudingan Zara termentahkan dengan tanggapan pria di depannya.
"Abian?" pria itu tertawa sinis. "Bukankah kamu sangat cantik Za, aku tidak perhan salah dalam mencintai kamu bertahun-tahun dan kamu malah menambahkan lagi saingan untukku!"
Suasana semakin memanas kala Zara mendengar pria itu melanjutkan perkataannya, semua pengakuannya yang mencintainya selama ini dan Zara juga sadar bahwa pria itu juga bukanlah Abian, bukan! sebab pria itu mengatakan bahwa Zara dulu menyukainya sedangkan pada Abian dari awal hingga saat inipun Zara tidak sekalipun menaruh perasaan pada Abian.
"Siapa kamu!?" sentak Zara marah karena ia belum juga mengetahui siapa pria gila yang menguntitnya selama ini.
Bukannya menjawab pria itu malah tertawa meremehkan, meremehkan wanita yang tengah bergetar ketakutan menghadapi dirinya.
"Aku akan mengingatkanmu!" seru pria itu setelah mengusap darah dari dahinya dan kembali menindih Zara dengan cepat, sangat cepat hingga Zara tak sempat untuk menghindar, tentu tak ada penerangan membuatnya benar-benar seperto orang yang buta.
__ADS_1
Wanita itu berusaha menendang, memukul, mencakar pria gila di dekatnya itu, melakukan apapun untuk menolong dirinya sendiri dengan segala bujukan agar pria itu mau menghentikan perbuatan bejat sang pria meskipun bujukannya itu malah berakhir dan berubah menjadi makian dan segala hinaan serta ancaman.
****