
Andini mengajak Zara untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, rumah yang dulu sangat sering Zara datangi hanya untuk menemui Davi.
Zara terpaku menjadi bingung tak tahu harus bagaimana, ingin menolak juga rasanya tak mungkin karena ini sudah sangat malam tentu ia sudah sangat tidak mungkin akan menemukan rumah kost, memang banyak hotel tapi Zara merasa sayang jika uangnya tabungannya untuk sekolah guna mencapai cita-citanya terpakai hanya untuk menginap satu malam saja di hotel yang pastinya harganya setengah dari biaya kost satu bulan.
Tanpa persetujuan Zara pria separuh baya itu sudah membawa tas milik Zara masuk ke dalam rumah hingga gadis itu pun ikut melangkah masuk.
"Kamu tidur di kamar atas aja ya." ujar Andini yang hanya di angguki oleh Zara.
Zara mengira bahwa Andini akan membawanya ke kamar lain, tapi ternyata sekarang ia sudah berada di dalam kamar yang dulu sempat ia masuki ketika sedang bermain petak umpet dengan kedua gadis kembar yang sekarang mungkin sudah tidur.
"Ini kamar Davi." kata Andini.
Zara tersenyum tipis tidak tahu harus mengatakan apa sebab pada dasarnya ia sudah bisa melupakan pemuda itu tapi sekarang malah terjebak di dalam rumah bahkan kamarnya.
"Ya sudah kamu istirahat saja sekarang." pinta Andini yang lagi-lagi dengan suara lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya Tante, terimakasih." Zara mengangguk sopan.
"Tidak usah sungkan sayang, anggap Tante ini Mamah kamu sendiri ya." ujar Andini tulus karena ia tahu bahwa Zara sudah tidak memiliki orang tua lagi, setidaknya itulah yang diceritakan oleh Ipul kepadanya tentang siapa Zara dan bagaimana keseharian gadis yang sudah mengambil hatinya itu sejak pertama bertemu.
Wanita itu pun keluar dari dalam kamar membiarkan Zara seorang diri terdiam memandangi seluruh kamar yang tampak rapi, menandakan bahwa tempat itu di bersihkan setiap hari meskipun tidak ada yang menempatinya.
Dengan terpaksa Zara menaiki ranjang yang pernah yang tentunya dulu sering ditempati oleh Davi.
Zara memejamkan matanya mencoba untuk cepat tertidur namun rupanya ia tetap tidak bisa pulas, ia malah bergerak ke sana sini memutar tubuhnya, seperti merasa tidak nyaman berada di ranjang itu.
"Aaahhh." Zara berseru seraya kembali duduk.
Gadis itu mengacak-acak rambut panjangnya hingga sangat berantakan menutupi sebagian wajah dan matanya.
Semalaman Zara malah tidak tidur sama sekali, dan ketika sudah pagi pun ia segera turun dari ranjang dan berlari ke dalam kamar mandi untuk sekedar membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Harus cepat pergi dari rumah ini." ucap Zara ketika mulai membasahi wajahnya.
Zara keluar dari kamar mandi dan menuju tasnya untuk mengambil sisir serta untuk merapikan rambutnya.
Ia duduk di tepi ranjang seraya menyisir dengan matanya yang berkeliling melihat setiap sudut kamar hingga akhirnya kedua matanya terhenti pada sebuah bingkai foto yang ada di atas meja di dekat jendela.
Gadis itu beranjak dari duduknya guna melihat foto yang ada di meja.
Zara pun terdiam mematung saat matanya menangkap sesosok wajah yang dulu selalu ia kejar namun nyatanya hati pemuda itu tetap tidak terbuka untuk dirinya.
Seolah Hati pemuda itu tertutup dengan gembok besar yang kuncinya entah di buang kemana, karena dulu Zara begitu kesulitan untuk memasuki hati sang pemuda.
Zara menyudahi melihat foto Davi yang terlihat sangat manis dengan senyum yang tipis.
Ia pun dengan susah payah menurunkan kedua tas besarnya melewati tangga untuk sampai di lantai bawah.
"Loh Zara kok sudah bangun." Andini yang sedang berjalan melewati tangga tampak terkejut melihat Zara sudah bangun.
"Zara mau langsung ke tempat kost aja Tante." sahut Zara.
"Memangnya sudah dapat?" Andini mengerutkan keningnya.
"Sudah Tante, semalam Zara sudah tanya-tanya sama teman Zara." jawab gadis itu seraya melangkah turun.
"Ooh begitu, ya sudah kita sarapan dulu kalau begitu." ajak Andini yang mendapat tolakan dari gadis di depannya.
"Maaf Tante, Zara harus pergi sekarang juga soalnya takut yang punya kost keburu berangkat kerja." bohong Zara sebab ia merasa tidak enak jika semakin lama berada di rumah itu.
Andini menarik napas panjang.
"Ya sudah kalau begitu, tapi janjinya kamu akan datang lagi ke rumah ini." pinta Andini dengan wajah tak rela melihat Zara yang sudah lama tidak ia lihat harus kembali pergi.
__ADS_1
Zara mengangguk sekilas lalu melangkah keluar.
"Kak Zaraa." terdengar seruan kencang yang memanggil Zara dari belakang.
Zara menoleh dan tersenyum kala melihat seorang gadis yang dulu sering bermain bersamanya tengah berlari menujunya.
"Ini Anaya atau Inaya?" Zara rupanya masih tetap tidak bisa membedakan kedua gadis kembar itu.
"Inaya Kak." jawab gadis kecil yang sekarang berusia 9 tahun itu dan rambutnya di ikat tinggi.
"Oh ini Inaya." ucap Zara mengelus kepala Inaya yang sudah terlihat lebih tinggi dari satu tahun yang lalu.
"Iya itu Inaya Zar, kalau Anaya jam segini mah belum bangun." timpal Andini menyebutkan kebiasaan anak kembarnya yang lebih tua.
"Ayo Kak kita main." Inaya malah mengajak Zara bermain.
"Yah Kak Zara nggak bisa, soalnya sekarang Kakak harus pergi." sahut Zara menolak ajakan Inaya.
"Yaah." mulut Inaya mengerucut ngambek.
"Maaf ya." tutur Zara dengan wajah menyesal.
"Tante Zara pamit ya, terimakasih sudah mengijinkan Zara menginap di rumah Tante." kata Zara dengan sopan pada Andini.
"Iya, kamu hati-hati di jalan. main ke sini lagi ya." Andini mengingatkan.
Untuk sekian kalinya Zara pun hanya mengangguk karena ia tahu ia tidak akan mungkin lagi mendatangi rumah ini lagi.
Gadis itu melenggang keluar menjauhi rumah besar yang semalam menjadi tempatnya berlindung.
****
__ADS_1