Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 97


__ADS_3

Sejak pagi Davi sudah sangat sibuk dengan beberapa orang tukang yang akan meninggikan tembok yang membatasi rumahnya dengan rumah kosong di sebelahnya berjaga-jaga dari segala apapun yang sudah membuatnya curiga.


"Sayang." dari dalam rumah muncul sang istri dengan pakaian yang sudah sangat rapi juga tas kecil yang di selempangkan di bahunya.


"Berangkat sekarang?" tanya Davi yang tau istrinya itu akan kemana sebab semalam sang istri sudah meminta ijin padanya terlebih dulu.


"Iya, nanti Ipul jemput." angguk Zara.


"Ya sudah." kata Davi lalu kembali memfokuskan matanya pada pekerja yang tengah sibuk dengan di bantu oleh pak Rahmat yang juga mondar-mandir membawa cangkul untuk mengaduk pasir dan semen.


"Sayang." panggil Zara lagi ketika ia merasa suaminya malah mementingkan tembok ketimbang dirinya.


"Hm." Hanya sekedar gumaman yang Davi keluarkan dan tentunya membuat Zara makin keki.


"Iishh." gemas Zara lalu ketika mendengar suara klakson dari mobil Ipul Zara pun menoleh pada mobil hitam di luar pagar.


"Aku berangkat." ucap Zara dengan nada ketus tapi tangan Davi langsung menarik tangannya hingga langkah wanita itu terhenti.


Dengan sangat romantis Davi mengecup kening Zara membuat kekesalan Zara hilang dalam sekejap dan berganti dengan senyuman.


Davi menggandeng tangan sang istri mengantarnya sampai ke tempat mobil Adik sepupunya berada.


"Titip istri gue." kata Davi pada Ipul yang hanya mengangkat jempolnya saja dari kaca mobil yang dia buka.


"Muach muach muach." Zara memberikan ciuman jauh pada sang suami ketika sudah berada di dalam mobil dengan wajah yang sangat ceria.


"Udah nggak ada laki Lo." semprot Ipul kesal karena tingkah laku sang teman yang sudah lama tidak dia jumpai.


"Biarin." sahut Zara dengan mata yang melirik sebal pada lelaki yang sikapnya bahkan tidak pernah berubah terhadapnya sedari dulu, selalu baik meskipun ia tidak bisa membalas perasaan yang pernah lelaki itu beri padanya, namun ia merasa beruntung karena tidak menerima perasaan sang teman, karena bisa saja pertemanan mereka mungkin akan rusak setelahnya.

__ADS_1


"Dari dulu sampai sekarang tetap aja bucin nggak sembuh-sembuh." cibir Ipul sambil mulai menjalankan mobilnya meninggalkan Davi dengan kesibukannya pada tembok rumah yang akan ditinggikan.


"Bucin itu keahlian gue Ipul." seru Zara seolah masa Bodo dengan tanggapan temannya itu yang pasti akan makin mengejeknya, karena memang itulah kenyataannya sejak dulu hingga sekarang ia tetap mencintai Davi bahkan sepertinya semakin bertambah setelah resmi menjadi istri lelaki itu.


Ipul mendengus sampai cuping hidungnya terlihat kembang kempis mendengar pernyataan wanita di sampingnya, hingga akhirnya obrolan mereka pun berubah pada topik masa remaja mereka dan tentang kehidupan mereka setelah sekian lama tidak bertemu.


****


Davi menghampiri Pak Rahmat yang sedang berbicara dengan seorang lelaki yang di lihat dari wajahnya memiliki usia yang tidak beda dengannya.


"Oh kenalin ini Mas keponakan saya, Rangga." Pak Rahmat memperkenalkan sang keponakan yang berada di depannya ketika Davi datang.


Davi tersenyum ramah pada lelaki itu yang juga melakukan hal yang sama dengannya.


"Nanti pagarnya juga kita ganti aja pak sama yang tinggi." kata Davi pada Pak Rahmat dan keponakannya yang bertugas menjadi mandor dua orang pekerja yang sedang sibuk dengan segala peralatan dan bahan bangunan yang baru saja datang setelah Davi pesan satu jam yang lalu.


Davi mengangguk seraya mengikuti Pak Rahmat yang berjalan ke arah pagar guna menunjukkan bagian mana saja yang sudah mulai keropos.


Apa yang di perlukan pun kemudian segera Davi pesan kembali agar pengerjaan itu bisa selesai hari dengan cepat dan kalau bisa hari ini selesai.


Saat tengah mengobrol dengan Pak Rahmat dan orang yang mengantarkan pesanannya HP di dalam saku celana pendek Davi bergetar berulang kali meminta untuk segera di jawab, Davi pun meninggalkan Pak Rahmat ke dalam rumah.


Nama Lugo terpampang di layar HPnya yang langsung dia jawab karena pastinya ini tentang urusan kantor yang dia tinggalkan.


Selain Robert, Lugo juga bekerja di kantor milik Davi dan Ayahnya, seharusnya setelah kejadian Lisa, Davi memecat Robert, akan tetapi Davi tidak melakukan itu karena dia merasa Robert sudah sangat membantunya selama ini, lagian dia juga tidak mau mencampur adukkan pekerjaan dengan urusan pribadi, kalaupun Robert tau diri juga lelaki itu akan berinisiatif untuk mengundurkan diri sendiri, tetapi sepertinya tidak, karena sampai saat inipun Davi tidak menerima surat pengunduran diri darinya.


"Lu harus kembali ke sini Dav." tanpa permisi atau basa-basi Lugo sudah mengatakan maksudnya menghubungi sang teman.


"Apa ada masalah?" tanya Davi tak mengerti kenapa Lugo yang sudah tau kapan dia baru akan kembali ke Australia mendadak meneleponnya dan memintanya untuk segera datang ke sana.

__ADS_1


"Robert membuat ulah." Lugo berkata cepat.


Davi mengurut keningnya, sudah pusing dengan orang aneh yang selalu mengusiknya dan Zara malah kini di tambah dengan laporan dari temannya tentang Robert.


"Apa lagi yang dia lakukan sekarang?" Davi sepertinya sudah sangat hafal dengan kelakuan dari temannya itu.


"Lisa hamil, tapi Robert malah menghilang entah kemana." seru Lugo tentang apa yang terjadi.


"Lisa hamil, dan itu tidak ada hubungannya dengan gue Lugo." kesal Davi mendengar nama mantan kekasihnya yang gila itu.


"Tapi sejak kemarin orang tuanya datang dan mencari elu Dav, gue sudah berusaha meyakinkan mereka bahwa elu sudah tidak berhubungan dengan Lisa, tapi mereka tidak mau mengerti." tutur Lugo, jelas sekali lelaki itu sangat panik terdengar dari nada bicaranya.


Kerutan di dahi Davi makin terlihat jelas mendengar keterangan yang di berikan oleh Lugo, bagaimana bisa Lisa hamil dengan Robert tapi malah dirinya yang di cari, namun sangat beruntung karena selama berhubungan dengan Lisa tak pernah sekalipun Davi memberikan alamat rumah orang tuanya, jika tidak mungkin saja orang tua Lisa sudah mencarinya di sini.



"Kak Reno dan Kak Valleri bukankah tau apa yang sebenarnya terjadi." ucap Davi tentang Kakak dan Kakak ipar dari Lisa itu.



"Mereka juga sudah berusaha untuk menerangkan semuanya tapi orang tua itu tidak mau mendengarkan sama sekali, yang mereka tau lu lah sebagai orang yang harus bertanggung jawab." ungkap Lugo cemas.


"Gila!" maki Davi emosi.


"Lu harus segera selesaikan ini sebelum mereka mencari lu ke Indonesia." Lugo yang tau kebenarannya juga tidak bisa membantu apapun, dia hanya meminta Davi untuk datang dan membantunya mencari Robert yang kabur entah kemana agar jangan sampai keluarga Davi mengetahui hal gila semacam ini, apa lagi Lugo tau Davi sudah menikah dengan Zara, akan jadi malapetaka nantinya jika Lisa dan orang tuanya malah menuntut Davi bertanggung jawab perbuatan yang tidak dia lakukan.


Akhirnya dengan berat hati Davi pun mengiyakan permintaan Lugo, dengan berat hati juga dia harus meninggalkan istrinya dan menitipkannya pada orang tuanya juga Ipul untuk menjaga Zara.


****

__ADS_1


__ADS_2