
Zara cemas, dia sendiri pun lupa sudah sejak kapan tidak datang bulan, dia yang sangat sibuk dengan ketakutan dan rasa traumanya hingga tidak menyadari sudah hampir melewati dua bulan dia tidak lagi kedatangan tamu bulanan, bahkan Davi pun tidak sadar pada perubahan dari sang istri yang beberapa hari belakangan sering meminta di belikan makanan menjelang tengah malam.
Kecemasan langsung saja menyerang sekujur tubuh Zara yang mendadak menjadi sangat dingin, "itu tidak akan terjadi," gumam Zara seraya mengambil tissu dari dashboard mobil lalu membersihkan bekas muntahan yang tadi dia keluarkan.
"Sejak kapan?" suara Davi menghentikan gerakan tangan Zara, jelas pertanyaan apa yang kini sedang Davi lontarkan untuk wanita di sampingnya itu, mengingat mereka belum pernah berhubungan ketika tiba di Australia dan sampai hari ini, dan itu artinya sudah cukup lama Davi tidak mendapatkan haknya sebagai seorang suami, rela menahan naluri ke lelakiannya karena tidak mau membuat Zara kembali mengingat pemerkosaan itu.
Bukan, bukan karena Davi tidak mau menerima kehamilan Zara, semua ini sudah dia pikirkan jauh ketika menolak permintaan Zara untuk bercerai, dia akan membuktikan perkataannya yang akan menerima kehamilan Zara jika seandainya wanita itu hamil akibat perkosaan yang istrinya alami, itu hanya pertanyaan spontan yang keluar dari mulutnya ketika dugaan semakin terlihat nyata.
Tetap dia akan menerima anak itu seandainya memang benar bukan darah dagingnya.
"Aku tidak tau!" kata Zara bingung karena kenyataannya dia memang lupa sejak kapan dia tidak lagi datang bulan, apa sejak sebelum kejadian itu atau setelahnya, sungguh Zara benar-benar tidak ingat!
"Aku sungguh tidak ingat," Zara memegang kepalanya yang sakit karena tidak bisa mengingat hal sepenting itu di saat seperti ini, dan ketika Zara menunduk ia baru menyadari jika perutnya terlihat sedikit menonjol.
Davi turut serta melihat apa yang saat ini Zara lihat, dalam sekejap Davi mengutuki dirinya sendiri yang bahkan tidak memperhatikan perubahan pada bentuk tubuh istrinya itu, demi tuhan semenjak mengalami trauma tubuh Zara memang terlihat lebih kurus sehingga itulah yang membuat dia pun tidak sadar atas perubahan di beberapa bagian tubuh istrinya itu.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin hamil kan?" suara Zara terdengar begitu berat mempertanyakan kemungkinan yang sangat dia takutkan.
Davi bergerak menarik tubuh Zara ke dalam pelukannya lalu berkata berusaha untuk memberikan ketenangan, "kalau hamil memangnya kenapa? dia anak kita dan kita akan membesarkannya," kata Davi.
"Tidak mau, aku tidak mau hamil!" seru Zara marah, jelas dia tidak ingin mengandung anak dari laki-laki bajingan yang sudah memperkosanya, dulu membayangkannya saja Zara sudah sangat histeris lalu sekarang semua yang dia bayangkan itu malah akan menjadi kenyataan.
Hingga akhirnya Zara merasa sudah percuma untuk berusaha sembuh dari trauma yang dia alami jika akhirnya harus ada lagi kenyataan pahit yang akan mengguncang kejiwaannya.
"Suuut, jangan berkata apapun lagi," tutur Davi mengusap bahu Zara.
Ketika sampai di apartemen Zara langsung berlari masuk ke dalam kamar meninggalkan Davi yang berusaha mengikutinya, saat ini pria itu tentu tidak akan membiarkan Zara untuk sendirian sekalipun sejak tadi dia merasakan getaran dari handphone yang berada di sakunya menandakan ada sebuah pesan yang masuk.
"Jangan seperti ini Za," Davi masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya yang duduk di sudut tempat tidur memeluk kedua kakinya.
"Lalu aku harus bagaimana jika kenyataan aku hamil!?" sentak Zara tak senang dengan perkataan Davi, dia merasa Davi malah bersikap sangat tenang seolah semua yang dia takutkan bukanlah hal yang besar.
__ADS_1
Davi duduk di depan Zara dan memberikan tatapan yang Zara nilai sudah jauh berbeda di bandingkan yang dulu, tatapan pria itu seperti tak lagi hangat dan tidak ada lagi kasih sayang terhadapnya, apakah mungkin Davi sudah benar-benar jenuh dengannya? kalau jenuh lalu kenapa pria itu masih terus menunjukkan sikap sebagai seorang suami yang begitu peduli pada istrinya? bagaimana bisa pria itu berpura-pura?
Davi tidak menjawab pertanyaan yang Zara ajukan, pria itu hanya diam tak bergerak menatap sang wanita yang wajahnya sudah banjir oleh air mata.
"Apa kamu sudah tidak memiliki cinta untuk aku lagi?" spontan Zara menanyakan hal yang membuat Davi tersentak kaget terlihat jelas dari raut wajah yang pria itu tunjukkan saat ini.
"Jangan bertanya hal yang tidak mungkin!" sanggah Davi, tentu saja sampai saat ini dia masih sangat mencintai wanita di depannya ini, hanya saja entah kenapa beberapa Minggu ini dia merasa sedikit jenuh, merasa lelah dan dilema ketika dia menyadari sudah terlalu lama tidak bisa menyentuh wanita yang dia cintai itu.
"Lebih baik kamu istirahat Za, ini sudah larut malam kita akan bicara lagi besok," perintah Davi yang tangannya kini menarik tubuh Zara menjadi tiduran, membenarkan bantal agar membuat kepala istrinya itu nyaman.
Zara memiringkan tubuhnya membelakangi Davi yang kini memasangkan selimut padanya, tetesan air mata Zara makin banyak kala Davi keluar dari dalam kamar meninggalkan dirinya sendiri sambil mengeluarkan handphone dari dalam saku dan Zara melihat itu semua.
Pintu di tutup dengan rapat setelah lampu kamar di matikan, Zara tidak tidur malah sekarang wanita itu duduk di atas ranjang lalu perlahan menurunkan kakinya satu persatu, menahan langkahnya agar tidak bersuara lalu menuju pintu, sungguh dia tidak berniat untuk mengintip apa yang Davi lakukan hanya saja dia tidak mau ada kebohongan yang Davi lakukan di belakangnya.
Dengan gerakan sangat hati-hati Zara menurunkan handel pintu agar tidak menimbulkan suara dia tidak melihat Davi di ruang tengah membuat Zara pun berjalan mengendap-endap menuju ruang kerja sang suami, sekarang ini jantungnya seperti tengah berlomba di tengah masalah yang terus menerus menghimpit dirinya.
__ADS_1
******