
Sudah berada di kantor malah membuat Davi semakin tidak tenang, pria itu terus saja melihat jam bulat yang menempel di dinding lalu seperti tidak puas dia juga melihat pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Davi tidak bisa fokus, konsentrasinya buyar tak bisa menyatu dengan pekerjaan yang sejak tadi sudah terjajar rapi di atas meja kerjanya.
Semua pekerjaan itu tidak menarik untuk di kerjakan, pikirannya sedang berpetualang memikirkan berbagai kemungkinan seandainya Zara mengetahui apa yang sudah dia lakukan.
"Oh tuhan, ampunilah aku," Davi mengurut pangkal hidungnya jelas memikirkan dosa yang sudah dia lakukan bersama dengan wanita lain saat istrinya sedang berjuang untuk bisa sembuh dari traumanya.
Lugo kini hanya menjadi saksi tanpa bisa berbuat apa-apa untuk membantu temannya, sungguh diapun marah ketika mengetahui Davi tidur dengan psikolog istrinya, bagaimana bisa? itu yang muncul di dalam kepala Lugo ketika Davi akhirnya memberitahu siapa wanita itu.
"Semua berawal saat aku akan menjemput Zara dari tempat wanita itu, tapi ternyata Zara sudah pulang dengan taksi tepat saat aku sampai," ucap Davi yang sepertinya sudah tidak mau lagi menyebut nama Aleyara, dia menganggap wanita itu menjadi malapetaka baginya.
Lugo terdiam menanti apa yang selanjutnya akan Davi ceritakan, dia terus mendengarkan meski sebenarnya dia merasa sangat miris menerka apa yang akan terjadi pada rumah tangga temannya itu jika suatu saat pengkhianatan yang tak di sengaja itu terungkap bukan dari mulut suaminya.
Davi memejamkan mata mengingat awal mula bagaimana dia bisa sampai berakhir di sofa ruang praktek Aleyara, berdua dengannya tanpa memakai pakaian.
"Aku sudah akan pulang menyusul Zara, tapi wanita itu mengatakan ada sesuatu yang ingin dia sampaikan, tentu tentang Zara dan semua hal yang menyangkut Zara sangat penting bagiku sehingga aku pun mengiyakan," kembali terdiam menghela napas, mengumpulkan semua ketenangan untuk bisa melanjutkan semua yang telah terjadi.
"Salahku karena aku sempat mengeluhkan sikap Zara yang sering kali membuat aku lelah, sehingga kami menjadi sangat dekat dan akhirnya.." Davi tak kuasa lagi meneruskan hatinya terasa sakit karena telah menjadi lelaki bejat yang tidur dengan wanita lain dan yang lebih menyakitkan adalah wanita itu psikolog istrinya sendiri.
Wanita yang seharusnya membantu untuk kesembuhan istrinya akan tetapi malah tidur dengannya, suami dari pasien sang psikolog.
Tangan Lugo terkepal, jelas dia marah tapi tidak bisa melampiaskannya dengan memukuli wajah sahabatnya sendiri sehingga hanya mengepal erat sampai otot serta urat di tangannya terlihat jelas.
__ADS_1
"Apa kamu tidak berpikir bahwa Zara malah akan kembali depresi karena perbuatan mu?!"
Celetukan Lugo langsung mengena di hati Davi hingga membuatnya terdiam bagaikan patung dengan napas yang memburu, "tidak, aku tidak akan membiarkannya!" tutur Davi dengan rahang yang mengeras.
Sebagai seorang suami dia tidak mau melihat istrinya gila seperti yang barusan Lugo katakan, semua kesalahannya tidak benar jika Zara sampai harus menanggungnya, tapi bagaimana perasaannya jika tau suaminya tidur dengan psikolog nya sendiri? bukankah itu sudah sangat cukup untuk menghancurkan hatinya dan juga kehidupannya.
Zara membuka pintu begitu mendengar suara bel yang di tekan, sangat tergesa karena dia tau siapa yang sedang berada di balik pintu sana.
"Halo, selamat datang," serunya dengan wajah yang sangat sumringah memasang senyum indah di lekuk bibirnya yang kecil menyambut senang wanita keturunan Australia yang sudah dia anggap sebagai teman dekatnya itu.
"Halo," sahut wanita dengan rambut kecoklatan seraya melewati pintu untuk masuk ke dalam ketika Zara mempersilahkan.
"Bagaimana keadaanmu? kehamilan mu juga sudah cukup besar," tanya Aleyara dan tangannya mengusap perut Zara yang sangat terlihat karena wanita itu memakai blouse yang sedikit ketat.
"Bagus," Aleyara mengangkat jempolnya.
"Ini semua berkat bantuan mu,"
"Oh tidak sepenuhnya karena aku, bersyukurlah karena kamu memiliki suami yang.." Aleyara menahan kalimatnya membuat Zara mengernyit.
"Baik, suami yang baik," lanjut Aleyara seraya mengumbar senyum.
Begitupun yang Zara lakukan, dia mengulas senyum karena dia memang patut bersyukur karena Tuhan menjadikan Davi sebagai suaminya, pria itu sudah sangat sabar menghadapinya.
__ADS_1
"Mau minum apa? aku akan buatkan," tawar Zara ketika Aleyara sudah duduk.
"Apa saja," sahut Aleyara.
"Kalau begitu akan aku buatkan dulu, tunggulah di sini dan buat dirimu nyaman."
"Hei, aku seorang psikolog, aku tentu akan nyaman dimana pun aku berada!" seru Aleyara yang membuat Zara tertawa.
Profesinya sebagai seorang psikolog memang menuntutnya untuk bisa selalu nyaman dan bisa menempatkan diri di manapun dan dalam hal apapun, terutama jika sudah berurusan dengan para kliennya dan segala permasalahan tentang kejiwaan.
Zara sibuk membuat minuman di dapur ketika Aleyara beranjak dari duduknya menuju sebuah meja yang di atasnya banyak sekali foto-foto Davi dan juga Zara, mengambil satu bingkai yang hanya foto Davi seorang lalu menatapnya.
"Itu saat dia masih SMA," beritahu Zara yang membuat Aleyara gegas meletakkan kembali bingkai berwarna putih ke tempatnya.
"Dulu dia terlihat tidak menyukaiku atau mungkin juga sangat membenciku, tapi entah kenapa aku malah terus mengejarnya, mengejarnya dan mengejarnya sampai akhirnya aku menyerah dan kami lama tidak bertemu, sekalinya bertemu malah dia yang balik mengejar," cerita Zara mengenang tentang bagaimana kisah percintaannya bersama dengan Davi, seraya memberikan secangkir minuman yang dia buat kepada Aleyara.
"Kamu pasti sangat mencintainya," ujar Aleyara dengan suara rendah.
"Sangat, aku sangat mencintainya bahkan setelah kejadian buruk itu aku merasa sangat tidak pantas untuknya, aku selalu berpikir dia suami yang baik dan sudah selayaknya mendapatkan wanita yang lebih daripada aku," Zara mengambil salah satu bingkai yang menunjukan wajahnya bersama dengan Davi, tersenyum bahagia menatap kamera saat mereka baru saja sah menjadi suami istri.
"Mungkin aku akan benar-benar gila jika kehilangannya," kalimat Zara terdengar serius namun wanita itu mengatakannya sambil tersenyum seraya mengusap kaca pada bingkai itu seolah tidak boleh ada secuil debu pun yang menempel.
Aleyara tidak bersuara, jantungnya terasa sangat berdebar, bagaimana bisa sebuah kesalahan malah membuatnya jatuh cinta pada pria yang jelas tidak mencintainya, dan kini dia harus mendengar pernyataan Zara seolah itu adalah sinyal pemberitahuan agar dia segera menjauh dari Davi.
__ADS_1
****