Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 98


__ADS_3

Zara dan Saipul sudah masuk ke dalam sebuah cafe lalu ketika mata mereka sudah melihat orang yang memang mereka ingin temui sudah duduk dengan memasang wajah yang sangat kesal, keduanya pun langsung berjalan beriringan menuju orang itu.


"Kalian yang ingin bertemu gue, tapi kenapa justru gua yang harus kalian buat menunggu!" kata wanita itu dengan sangat sinisnya.


"Bawel lu." Ipul mendengus kesal mendengar ocehan Dira, ya Dira yang kini mereka temui adalah Dira saudara tiri dari Zara, Dira yang sama yang dulu sangat sering mencari ribut dengan Zara, Dira yang dulu selalu mengatai Zara dengan kata-kata pedas dan juga menyakitkan, dan kini kedua wanita itu kembali di pertemukan setelah sekian lamanya tidak berjumpa.


Dira mendelik sebal ke arah Ipul, lelaki yang sejak dulu selalu setia menemani Zara, selalu membela Zara juga menghiburnya, jelas Dira merasa kesal dan iri karena sejak dulu tidak ada satu lelaki pun yang memberikan perhatian padanya seperti perhatian Ipul pada Zara sedangkan lelaki yang dulu menjadi kekasihnya hanya memanfaatkan tubuhnya saja, rasa iri itulah yang semakin membuatnya makin menjadi saja membenci Zara, mantan saudara tirinya.


"Masih aja lu betah banget deket-deket sama dia Pul." cibir Dira seraya melirik sinis pada Zara yang sudah duduk di depannya.


"Memangnya gue kenapa?!" Zara tampak sangat tak terima dengan ucapan Dira yang seolah dirinya adalah manusia menjijikkan yang tidak pantas berteman dengan siapapun.


"Nggak usah di dengerin Za, Lu tau sendiri kan mulutnya nih cewek kayak apa jahatnya kalau udah ngomong, nggak sadar diri." Ipul menenangkan Zara yang dari raut wajahnya sudah sangat tidak bersahabat, ya terang saja Zara makin emosi dengan segala ucapan Dira yang seenaknya dengan lidah yang amat berbisanya itu.


"Mending selesaikan aja apa yang lu mau, nggak usah lama-lama di sini." kata Ipul pada Zara karena sebenarnya diapun sangat kesal pada wanita bermulut jahat di depannya itu, yah kalau bukan karena Zara yang minta di temani, sungguh dia bersumpah tidak akan pernah mau bertemu ataupun sampai berbicara dengan Dira yang sedari dulu memang sudah sangat menyebalkan.


Dan tanpa basa-basi pun Zara langsung mengatakan maksudnya meminta untuk bertemu dengan Dira, sebab di Jakarta hanya Dira lah yang bisa dia temui karena Dewi Ibu dari Dira tinggal di luar kota, Zara pun enggan jika harus repot-repot menemui wanita jahat itu karena dia juga sangat yakin bahwa apa yang ingin ia pinta ada pada Dira, mantan saudara tirinya, ya hanya mantan saudara tiri. Zara sudah tidak Sudi lagi menganggapnya apapun meski hanya sekedar saudara tiri.


"Kembalikan sebagian uang penjualan rumah." tutur Zara yang membuat Dira mendelik tak menyangka, bagaimana bisa Zara meminta sebagian uang penjualan rumah.


"Siapa lu minta tuh uang rumah! enak aja!" tolak Dira yang langsung meradang tak terima.


Ipul hanya memutar bola matanya saja, meski dia tidak ingin ikut campur namun terlihat jelas kalau dirinya teramat muak dengan wanita tak beretika yang tengah mengoceh itu.


"Gue hanya minta kelebihan uang yang Davi berikan sama elu dan juga Ibu lu itu!" sahut Zara yang sejak Davi mengatakan bahwa suaminya itu membeli rumahnya dengan harga yang sangat tinggi membuat Zara bertekad untuk meminta uang itu, ia sangat tidak terima Davi mengeluarkan uang banyak untuk rumah yang sebenarnya adalah miliknya.


Ya rumah milik mendiang Mamahnya yang jatuh ke tangan Dira dan Ibunya karena perbuatan sang Ayah yang sudah sangat jahatnya mewariskan rumah itu pada kedua perempuan jahat itu.


Zara merasa sudah cukup mengalah karena membiarkan rumah itu dikuasai dua iblis betina itu, namun saat ia mengetahui Davi membeli dengan harga yang mahal membuat ia tidak terima.

__ADS_1


"Heh, itu uang Davi bukan uang elu! nggak bakal gue kasih." sentak Dira. "Lagian siapa elu sampai berani minta uang itu, Davi nya juga biasa aja kok waktu Mamah gue kasih harga." terang Dira yang memang tidak tau bahwa Zara dan Davi sudah menikah.


Zara menarik napas panjang dengan hidung mancungnya yang terlihat sedikit mengembang karena menahan emosi.


"Gue istrinya dan gue nggak terima uang suami gue dinikmatin sama manusia macam elu, manusia sialan yang tak tau diri." Zara berkata pedas membuat Ipul melonjak kaget, rasanya baru kali ini dia mendengar secara langsung Zara mengeluarkan kata seperti itu pada orang lain.


Ipul terlihat begitu syok ketika Zara makin mengeluarkan kata-kata yang tak biasa dari bibirnya berwarna merah muda itu.


"Elu nikah sama Davi? hahaha." Dira malah tertawa sinis karena tidak percaya dengan pengakuan Zara. "Nggak bakal Davi mau sama cewek bar-bar kayak elu gini Zara. inget nggak video lu waktu berantem sama mantan pacarnya itu? mana ada laki-laki yang mau nikahin cewek gila Zara." Dira makin mengejek mengingatkan kejadian yang sudah berlalu, kejadian dimana Zara memang saling menjambak dengan mantan pacar suaminya. kejadian sewaktu mereka masih duduk di bangku SMA kejadian yang sampai sekarang pun masih membuat Zara tertawa sendiri kala mengingatnya.


"Seleranya Abang sepupu gue emang cewek gila, bukan cewek yang macam ondel-ondel kayak elu." Ipul berniat membela Zara namun malah mendapat delikan mata yang teramat seram nan menegangkan.


"Lu belain gue apa mau ngatain gue Pul?!" Zara berkata pelan dengan penekanan.


Ipul malah cengengesan tak jelas seraya menggaruk kepalanya.



"Nggak usah ketawa lu! balikan uang suami gue atau gue bakal tuntut elu dan Ibu lu itu!" ancam Zara akhirnya karena sudah mulai tak sabar.



"Lu mau nuntut gue? emang bisa?" Dira tampak meremehkan meski hatinya juga sedikit ketar-ketir.



"Bisa. PENIPUAN, lu tau pasal penipuan kan?" Zara merasa sangat di atas angin ketika melihat wajah Dira yang berubah menjadi pucat apalagi ketika Dira kini pasrah dan berkata mau mengembalikan sebagian uang milik Davi.


__ADS_1


"Emang lu beneran mau nuntut dia Za?" tanya Ipul kala mereka sudah berada di dalam mobil ,bersiap untuk pulang setelah berhasil mendapatkan apa yang Zara mau.


Zara menggeleng tenang dengan senyum yang terus melebar di bibirnya, senyum kemenangan karena berhasil mendapatkan yang ia mau, ya meskipun tetap saja ia mendapatkan rumahnya sendiri dengan cara membelinya, tapi itu tidak masalah baginya sebab dari dulu dia memang sudah berniat untuk membeli rumahnya itu.


"Penipuan ada di pasal berapa sih?" tanya Zara dengan wajah yang sangat polos.



Dan pertanyaan Zara itu sukses membuat Ipul menginjak rem mendadak. "Lu ngoceh mau nuntut penipuan tapi lu nggak tau ada di pasal berapa?!" tutur Ipul dengan gelengan tak percaya.



Zara mengedikkan bahunya santai seraya nyengir tanpa berdosa.


"Gue kan pramugari bukan polisi." cerocos Zara.


Ipul membuang napas kasar. "Lu cocok Za sama Abang." timpal Ipul.



"Iya dong, sama."



"Sama-sama nggak jelas." Ipul menyela perkataan Zara membuat teman baiknya itupun memukul bahu Ipul dengan sangat kencang.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2