Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 44


__ADS_3

Waktu ternyata berlalu dengan begitu cepat Davi pun sudah lulus dari sekolahnya dan sekarang hanya tinggal menunggu berkas-berkasnya selesai dan waktu keberangkatannya pun akan semakin dekat jika semua keperluannya terpenuhi.


"2 minggu lagi kamu akan berangkat Dav." ucap Ayahnya saat mereka tengah makan malam bersama.


"Iya Yah Davi sudah tahu." seru Davi menjawab perkataan sang Ayah.


Sedang Andini yang seperti masih kesal dengan kelakuan anaknya itu terlihat begitu enggan untuk berbicara dengannya.


Memang wanita itu marah saat Davi memutuskan Zara apalagi setelah Zara yang sejak kemarin mencari anaknya itu namun sang anak malah tidak mau menemui Zara, sungguh sangat membuat Andini kesal.


Davi tidak berani menyapa Mamahnya sendiri bahkan. bagaimana Davi berani menyapa jika baru melihat saja wajah Andini sudah begitu menyeramkan.


"Bagaimana Zara? apa kamu sudah memberitahukan dirinya bahwa kamu akan berkuliah di luar negeri." pertanyaan Arman selanjutnya sungguh membuat Davi terkejut namun lain halnya dengan sang Mamah, wajah wanita itu justru terlihat begitu puas mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya.


Lalu Andini yang merasa ini kesempatan untuk kembali memarahi anaknya itu langsung menyambar saja bagaikan Sambaran petir di siang bolong.


"Gimana mau kasih tahu, orang tiap Zara Dateng aja dia nggak mau temuin." Andini berkata sinis dengan lirikan mata yang menakutkan, bagaikan seekor elang yang tengah memantau mangsanya dan saat ada kesempatan akan langsung menerkam.


Laporan Andini sontak membelalakkan kedua mata Arman dan menghentikan kunyahan di dalam mulutnya.


"Maksudnya gimana?" tanya Arman kepada sang istri.


"Zara di putusin Yah sama nih anak kamu yang ngeselin." kata Andini lebih jelas.


"Davi?" Arman menuntut penjelasan dari anaknya langsung dengan mata yang menajam bagaikan sebuah pisau yang baru saja di asah.


Menghadapi situasi seperti itu membuat Davi menjadi sebongkah batu yang hanya diam saja di tempatnya duduk hingga hanya terlihat gerakan perutnya saja yang mengambil napas demi napas.


"Tuh dia diam aja kan nggak berani jawab." cibir Andini melihat sang anak diam membisu.


"Davi nggak suka Zara Yah." akhirnya menyahut dengan alasan yang k

__ADS_1


dulu juga dia katakan kepada sang Mamah saat wanita itu bertanya.


"Kalau nggak suka kenapa kamu pacarin. jangan suka mempermainkan perasaan perempuan Davi, kedua Adik kamu perempuan apa kamu mau jika nanti Adik kamu mengalami hal yang sama dengan Zara?" Arman berkata biasa namun perkataannya itu sungguh mengena di hati Davi.


Davi merenung mendengar perkataan demi perkataan yang diucapkan oleh sang Ayah.


"Nah denger tuh Ayah kamu ngomong!" untuk sekian kalinya Andini menyerang anak lelakinya sendiri yang memang menurut Andini sudah sangat salah dalam memperlakukan Zara.


Kalau tidak suka buat apa dijadikan kekasih? pertanyaan inilah yang terus memenuhi batin seorang wanita yang tentunya akan merasakan kesedihan yang sama seperti halnya Zara jika sampai bertemu dengan lelaki seperti anaknya itu.


"Jangan sampai suatu saat nanti kamu menyesal dengan kelakuan kamu sendiri." kata Arman selanjutnya, perkataan yang juga sama yang pernah dikatakan oleh Andini meski kata-katanya berbeda namun memiliki arti yang sama.


Penyesalan yang suatu saat akan muncul jika Davi terus bersikap tak adil terhadap Zara.


"Bicara dengannya baik-baik, kamu seorang lelaki bagaimana bisa kamu terus bersembunyi setiap kali Zara datang." tukas Arman.


"Iya, udah kayak buronan aja, ngumpet Mulu." sindir Andini sadis.


Wajah Davi merengut mendapatkan sindiran dari Mamahnya itu.


Dan seminggu sebelum Davi berangkat, Zara masih saja berusaha untuk bertemu dengan pemuda itu namun hasilnya ia malah bermain dengan kedua Adik kembar dari Davi.


"Kak Zara kalah." seru Inaya kegirangan karena berhasil menemukan Zara yang tengah bersembunyi di belakang sofa dan ditemukan oleh Inaya yang saat itu mendapat bagian untuk mencari Anaya dan Zara yang bersembunyi.


Zara yang sedang berjongkok terpaksa keluar dengan wajah yang dibuat cemberut, seolah ia kesal karena Inaya dengan mudah menemukannya.


"Sekarang tinggal cari Kak Anaya." seru Inaya yang kini berlari mencari Kakak kembarnya.


"Wah ada Zara rupanya." suara Andini yang baru saja masuk langsung memenuhi ruang tamu.


Saat Zara datang memang wanita itu tidak ada, di rumah hanya ada si kembar yang tadi sedang ditemani oleh pembantu di rumah itu.

__ADS_1


"Iya Tante." sahut Zara sopan.


"Udah ketemu Davi?" tanya Andini yang kedua tangannya menenteng dua kantong berisi keperluan dapur yang baru ia beli di supermarket.


Zara menggeleng. "Kata Inaya Davi belum pulang Tante." kata Zara memberitahu.


"Oh iya tadi sih dia bilangnya mau ngurus surat-surat di sekolahnya. ya sudah tunggu aja sebentar lagi juga pulang." ucap Andini dengan sangat ramah.


"Iya Tante ini juga lagi main sama si kembar." sahut Zara.


"Hore sekarang giliran Kak Zara yang jaga." suara Inaya memekik kencang seraya berlari ke ruang tamu.


"Ya sudah kalian lanjut aja mainnya." ucap Andini seraya tertawa senang karena kedua anaknya punya teman bermain.


Kali ini gantian Zara yang harus mencari kedua anak kembar itu di sekitar rumah.


"Ini Anaya bukan yah?" Zara tampak kebingungan saat menemukan salah satu dari si kembar yang tengah bersembunyi di kolong meja.


Gadis di depan Zara hanya diam saja sambil memasang senyum tak jelas membuat Zara harus berpikir siapa yang ia temukan sekarang ini.


"Itu Inaya." suara Andini membuat gadis di depan Zara mendengus kesal karena Mamahnya memberitahukan siapa dirinya kepada Zara.


"Mamah mah di kasih tahu." kesal Inaya.


"UPS maaf, kamu nggak janjian dulu sih sama Mamah." tutur Andini dengan wajah di buat menyesal serayq berlalu.


"Nah Inaya ketemu." Zara tertawa melihat wajah Inaya yang merengut karena setelah ini dirinya harus kembali berjaga mencari orang yang bersembunyi.


"Kak Naya di atas Kak." Inaya malah membocorkan dimana Kakak kembarnya itu bersembunyi pada Zara yang tengah menoleh ke sana sini mencari kembarannya.


Tanpa bicara lagi Zara pun langsung berlari menuju lantai atas untuk menemukan Anaya.

__ADS_1


Zara memeriksa setiap sudut di lantai atas sampai akhirnya ia menemukan ada satu pintu kamar yang terbuka, Zara menyangka Anaya pasti bersembunyi di dalam sana ia pun masuk begitu saja ke dalam kamar itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2