
Davi yang baru turun dari mobil langsung berlari menghampiri Ipul begitu melihat sepupunya itu juga baru saja sampai di rumah bersama Hanna, Davi menyerang Ipul dan melayangkan tinjunya dengan sangat kencang membuat Hanna yang berada di samping Ipul pun berteriak histeris menyaksikan kekasihnya di serang tiba-tiba oleh Davi.
"Tantee, Om," seru Hanna memanggil orang tua Ipul sambil berusaha untuk melerai dua orang pria yang kini tengah saling berhadapan.
"Kenapa Hanna?!" tanya Riska yang begitu panik mendengar teriakan sang calon menantu.
Begitu matanya melihat Davi yang tengah mencengkeram kerah baju Ipul sontak wanita itupun berlari menuju mereka mencoba untuk memisahkan.
"Paaaaahhhh!" teriaknya kencang memanggil sang suami yang entah sedang apa di dalam rumah sana hingga tak mendengar kegaduhan di teras rumah.
"Lu munafik Pul!" kata Davi tajam dengan mata yang menyorotkan luka dan kecewa.
Ipul mengernyit mendengar penuturan Davi tidak bisa menjawab ataupun mengelak karena Ipul berpikir bahwa Zara pasti sudah mengatakan apa yang telah dia lakukan pada wanita itu.
"Kenapa lu nggak pernah bilang sama gue kalau lu masih suka sama Zara!?"
Pernyataan Ipul membuat Hanna yang tengah berdiri tak jauh dari mereka memasang telinganya dengan baik, mendengarkan apa yang di katakan dua orang pria yang sedang terlibat keributan itu, tentu ia tak salah mendengar bukan? Ipul masih suka sama Zara? iya Hanna cukup mengerti Zara mana yang sekarang sedang di bicarakan oleh Davi pada calon tunangannya itu, Zara yang belum lama ini menikah dengan Davi.
"KENAPA?!" suara Davi begitu kencangnya di malam yang sangat tenang itu kala Ipul tak mampu untuk membuka mulutnya guna menjawab pertanyaan sang sepupu.
__ADS_1
"Kenapa kalian ini?" Irman yang baru keluar tampak begitu terkejut dengan pemandangan di depannya, dua orang yang mempunyai ikatan darah tengah saling mencengkeram erat dengan tatapan marah yang begitu terlihat dari mata keponakannya.
"Maaf Bang," kata maaf keluar dari mulut Ipul bukan membuat Davi tenang melainkan malah semakin emosi, bukan itu yang Davi ingin dengar!.
Dia tidak perlu kata maaf sebab karena dia tengah merasakan kecewa yang teramat dalam, Adik sepupu yang dia percayai dengan tega menusuknya dari belakang mendekati istrinya dan melakukan tindakan menjijikkan, berciuman dengan istrinya di rumahnya sendiri.
Gila! Davi sungguh tidak percaya Ipul bisa melakukan tindakan memalukan seperti itu.
Davi melepaskan cengkeramannya di kerah baju Ipul lalu kembali melayangkan pukulannya di wajah sang sepupu membuat semua yang ada di situ berteriak histeris.
Irman pun berusaha untuk menghentikan Davi dari Ipul yang hanya diam saja tak mau membalas, cukup menyadari apa yang sudah dia perbuat adalah kesalahan yang sudah sepantasnya mendapatkan kemurkaan seorang suami yang istrinya sudah dengan lancang dia sentuh.
"Davi marah Om, Davi kecewa sama Ipul, seandainya dari awal dia bilang sama Davi kalau dia masih suka sama Zara, Davi bakal ngalah Davi nggak akan nikahin Zara! tapi sekarang saat Zara sudah jadi istri Davi, Ipul malah tega tusuk Davi!" kata Davi pada Irman mengatakan apa yang dia rasakan, kekecewaannya pada sang Adik sepupu sungguh membuat hatinya sakit.
"Memangnya apa yang Ipul lakukan?!" kali ini Riska mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada dua sepupu itu.
Davi mengeluarkan HPnya menyalakan benda itu kembali lalu memutar rekaman kejadian di dalam kamar rumahnya, menunjukkan rekaman itu pada mereka semua.
Irman mengambil HP Davi lalu melihat bagaimana Ipul dan Zara berduaan di dalam kamar, berciuman lalu rekaman mati tak ada lanjutan apapun.
__ADS_1
"Pul?" Riska menatap wajah anaknya yang sudah mendapat memar karena pukulan yang tadi di berikan oleh Davi, dengan sudut bibir yang juga mengeluarkan darah.
"Maafin Ipul Mah, Pah, Hanna," Ipul menatap Hanna yang sangat tidak percaya dengan apa yang dia saksikan, pria yang beberapa hari ini akan menjadi tunangannya malah berciuman dengan wanita lain dan yang lebih parahnya adalah istri dari Abang sepupunya sendiri.
"Bisa-bisanya lu rekam kelakuan gila lu itu, sengaja lu lakuin itu biar bisa lu kirim ke gue?!" Davi berdecih lalu tertawa sinis.
Ipul menggeleng pelan, "Gue nggak pernah ngerekam apapun Bang!" seru Ipul tak terima dengan tudingan Davi yang sungguh tidak dia lakukan, dia memang tidak merasa merekam perbuatannya itu dia juga tidak akan mungkin membuat Zara menerima kemarahan Davi atas perbuatannya yang memang dirinyalah yang sudah memaksa Zara, Zara sudah menolak bahkan mendorong tubuhnya menjauh namun percuma tenaganya tidak sebanding dengan Ipul hingga akhirnya Zara tak bisa berbuat apa-apa.
Davi memicingkan mata lalu merebut HP dari tangan Irman dan memperhatikan sudut pengambilan gambar.
"Jendela," gumamnya yang di dengar oleh Ipul yang sontak berdiri ikut memperhatikan rekaman di HP itu.
Dalam sekejap rahang Davi mengeras ketika teringat ada orang gila yang setiap saat menguntit istrinya.
"Sialan!" makinya lalu mencoba menghubungi sang istri namun tak juga di angkat membuat dia berlari menuju mobil diikuti oleh Ipul yang meski tidak diberitahu pun sudah bisa menduga bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.
\*\*\*\*
__ADS_1