Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 160


__ADS_3

Davi membenarkan posisi duduknya di dalam pesawat yang sudah berada di ketinggian sejak beberapa jam yang lalu, di dalam pikirannya saat ini bahwa Zara sudah berada di rumah orang tuanya karena sebelum wanita itu pergi Davi sempat berpesan untuk ke rumah orang tuanya saja agar Zara tidak kesepian meski tak ada jawaban namun Davi menganggap bahwa Zara tentu akan mengikuti apa yang dia katakan.


Karena Davi tahu istrinya itu tidak akan pernah mungkin bisa untuk datang kembali ke rumah mereka setelah semua yang terjadi terlebih lagi hanya seorang diri.


Penerbangan yang begitu sangat lama berjam-jam di udara tentunya membuat seorang Davi penat terlihat dari caranya yang langsung bersiap ketika kru pesawat memberitahukan kalau sebentar lagi mereka akan sampai di tujuan.


Pria yang hanya membawa tas hitam di punggungnya itu pun bergabung dengan orang-orang yang juga akan keluar dari pesawat setelah tiba di negara ini.


Davi menghirup sesaat udara yang menjadi tempat kelahirannya, sangat mustahil jika dia tidak merindukan negara ini, sungguh dia sangat rindu hingga akhirnya memilih untuk melangkah tergesa agar bisa segera bertemu dengan istrinya yang dia perkirakan mungkin akan marah padanya karena malah menyusulnya, tetapi biarlah jika memang Zara marah sebab yang terpenting saat ini adalah bisa melihat wajah istrinya itu.


Pandangan Davi sedikit terganggu dengan banyaknya orang di dalam bandara, sebenarnya bukan hal yang aneh karena memang bandara adalah fasilitas umum tentu keramaian orang sudah akan menjadi hal yang lumrah, namun yang terasa sangat tak biasa adalah ketika dia mendapati ada beberapa orang yang sedang menangis meski begitu Davi masih berusaha untuk berpikir positif bahwa itu kesedihan karena akan di tinggal oleh orang yang mereka kasihi untuk pergi ke negara lain, setidaknya itu hal yang paling masuk akal bukan?


Davi kembali melanjutkan derap langkahnya tapi lagi-lagi dia malah mendapati sekumpulan orang yang melakukan hal sama seperti yang tadi dia lihat, menangis! Davi sampai harus menghentikan langkahnya lalu dia serempak menoleh ketika telinganya mendengar ada suara tangis yang begitu histeris.


Apa yang terjadi? bukankah ini bukan suatu hal yang wajar atau biasa? aneh bahkan Davi juga menangkap gurat-gurat kepanikan ketika melihat tiga orang yang berdiri tak jauh darinya.


"Ada apa sebenarnya?" dengungnya seorang diri yang dalam sekejap malah menjadi sangat penasaran.


"Bagaimana mungkin ini terjadi, bagaimana dengan mereka?"


Pertanyaan seorang wanita pada pria di sebelahnya dari tiga orang di depan Davi benar-benar terdengar jelas di telinganya hingga dia merapalkan beberapa kalimat yang dia sendiri pun tidak mengerti.


Rasa penasaran mulai meningkat drastis dan menuntutnya untuk mencari tahu hingga dia menghampiri tiga orang yang tadi pembicaraannya di dengar oleh Davi.


"Ada apa ini, kenapa kalian dan mereka terlihat sangat panik?" tanya Davi pada pria yang sedikit gemuk.


Pria itu menarik napas panjang sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan dari pria yang tidak dia kenal di depannya saat ini.

__ADS_1


"Ada pesawat yang di nyatakan hilang beberapa jam yang lalu," jawab sang pria dengan gusar.


"Pesawat?" ulang Davi tanpa sadar mengulang pertanyaan yang sedikit konyol, karena saat ini dia berada di bandara dengan tranportasi udara atau juga yang sering di sebut burung besi.


"Penerbangan Australia Indonesia."


Deg!


Satu perasaan aneh dengan cepat muncul dan bertengger sangat lama hingga akhirnya Davi memilih berlari untuk mencari petugas yang sedang sibuk memberikan keterangan pada beberapa orang yang terus bertanya tentang kepastian apa yang terjadi.


Tidak ingin percaya begitu saja akan tetapi debaran jantungnya malah memintanya untuk segera mencari tahu, dia sungguh tidak tenang.


"Nomor penerbangan?!" tanya Davi begitu sudah berada di depan sang petugas, bertanya tanpa basa-basi apapun.




"Tidak! itu bukan pesawat yang Zara Naoki, Zara pasti sudah ada di rumah sekarang," ucapnya seraya mengeluarkan handphone yang sejak tadi memang belum dia aktifkan.


Pria itu menampik kebenaran bahwa dia sendiri tahu berapa nomor penerbangan Zara karena dialah yang memesankan tiket untuk istrinya itu.


Dengan segera dia menghubungi nomor handphone sang istri, tarikan nafasnya terdengar kala menunggu teleponnya tersambung namun mulai frustasi kala nomor istrinya tetap tidak mau terhubung.



Tidak aktif!

__ADS_1



Nomor Zara tidak dapat di hubungi membuat tangan Davi pun bergetar tak karuan, meski begitu dia masih menjernihkan pikirannya bahwa sekarang ini mungkin saja Zara sedang tidur karena kelelahan.



"Mamah, Mamah pasti bersama Zara," katanya lalu beralih menghubungi sang Mamah.



"Halo Nak."


Terdengar suara yang begitu lembut menyapa telinganya.


"Mah," suaranya sedikit tercekat.



"Zara jadi datang kan? mamah sudah memasak makanan kesukaannya," tanya wanita yang sebelumnya memang sudah di kabari oleh Davi bahwa Zara akan pulang ke Indonesia dan tinggal di rumahnya.



Pertanyaan dari sang Mama sudah cukup menjelaskan situasi yang terjadi saat ini hingga Davi memilih untuk mematikan handphonenya dan tangannya pun lunglai ke samping tubuhnya, kakinya menjadi sangat lemah seperti tanpa tulang.



"ZARAAAAAAA!!!"

__ADS_1


******


__ADS_2