
"Sudah Mas sudah Davi bisa mati," seru Irman yang tak tega melihat keadaan Davi.
"Aku lebih rela kehilangan anak bajingan seperti dia daripada harus kehilangan menantu dan cucuku!" Seru Arman.
"Biar saja Om, biar Ayah yang memukul Davi sampai mati sekalipun, karena Davi memang pantas mendapatkannya," sahut Davi pada Irman yang kini berusaha memegangi Ayahnya yang sedang kalap dengan emosi.
"Zara kenapa kamu memberikan hukuman yang tidak bisa aku terima, kamu boleh memukul aku atau melakukan apapun tapi tidak dengan pergi meninggalkan aku seperti ini," tutur Davi seolah kepergian Zara adalah hukuman baginya.
Sungguh Davi seolah tidak merasakan sakit apapun manakala darah masih saja terus menetes keluar dari anggota tubuhnya yang terluka.
Mendengar penuturan Davi membuat tangan Arman yang tadi terkepal pun melemas, ada rasa tidak tega sebab bagaimanapun dia tahu Davi sangat terpukul atas nasib istri dan calon anaknya yang masih tidak jelas.
Arman melihat pada saudara kembarnya berbicara melalui tatapan mata yang untungnya Irman bisa mengerti dengan apa yang ada di minta oleh Arman.
Lalu dengan cekatan Irman langsung mengarah pada Davi seraya berkata, "sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang," ajaknya pada sang keponakan.
Irman terus memaksa saat Davi malah menolak ajakannya, "Mama dan Ayahmu sudah sangat terpukul saat ini Davi, jangan menambah lagi beban mereka," bujuknya hingga akhirnya Davi mau mengikutinya.
Dua hari terlewati dan suasana kediaman Arman sekeluarga tetap terasa sangat mencekam, terlebih lagi setelah mereka mendapat kepastian bahwa pesawat yang serpihannya di temukan oleh nelayan memang benar pesawat yang Zara tumpangi, pesawat yang sebenarnya Davi harapkan bisa membawa istrinya pulang ke Indonesia dengan selamat nyatanya malah membawa wanita itu pergi jauh darinya untuk selama-lamanya.
Lebih hancur ketika petugas terkait menunjukkan satu pakaian yang sudah terkoyak kepadanya, dia sangat mengenal pakaian itu, kain berwarna peach itu adalah baju hamil yang sangat sering Zara pakai, wanita itu mungkin memasukkannya ke dalam koper dan saat koper hancur isinya pun menghambur keluar.
Kedua kaki Davi pun semakin lunglai tak berdaya kala mendengar bahwa pesawat hancur ketika menghantam lautan dengan jarak berkilo-kilo meter dan dengan kecepatan yang luar biasa.
__ADS_1
"Mungkin jenazah para korban sudah tidak utuh." teringat jelas apa yang petugas berseragam itu katakan padanya membuat jantungnya benar-benar tercabik tak karuan, sorot mata kesedihan sudah tidak bisa lagi Davi sembunyikan tangannya yang masih di bungkus perban pun dia kepal hingga cairan berwarna merah menembus kain putih yang membungkusnya.
Zara sudah benar-benar meninggalkannya, Zara tidak mau lagi hidup dengannya dan Zara memberikan hukuman yang teramat kejam untuknya.
Di dermaga itu bukan hanya Davi dan Ayahnya, nyatanya ada banyak orang yang merasakan apa yang Davi rasakan, bahkan mereka menangis meraung mendapat sebuah kepastian semenyakitkan ini.
Mereka tidak pernah membayangkan orang yang mereka tunggu kedatangannya untuk melepas rindu malah harus melepas nyawa mereka di tengah lautan terdalam, atau mungkin mereka sudah tidak bernyawa saat pesawat menghantam laut.
"Kita pulang sekarang," ajak Arman pada sang anak, dia mulai khawatir dengan luka di tangan anaknya yang kembali berdarah setidaknya dia harus membawa anaknya ke dokter untuk menjahit kembali luka yang mungkin kembali terbuka.
Arman menatap kain yang tadinya sedikit basah oleh air laut malah jadi basah oleh darah dari tangan sang anak.
Daftar nama-nama penumpang, dan kini baju milik Zara sudah berada di tangan Davi, tapi entah kenapa pria itu masih tidak mau percaya atas semua yang sudah di depan matanya, masih menepis bahwa istri dan calon anaknya sudah meninggalkannya.
__ADS_1
Arman berusaha membawa Davi untuk pergi dari tempat itu, nyatanya membawa anaknya pergi sungguh sangatlah sulit. Davi memberontak layaknya orang gila mengamuk memanggil nama sang istri tidak hingga keramaian di dermaga itu tidak terelakkan lagi.
Dermaga itu kini menjadi tempat keluarga para korban untuk meluapkan semua perasaan sedih yang seakan menancap di jantung mereka, mereka saling berteriak tidak terima seraya memanggil nama orang yang telah ikut hancur dengan pesawat di dasar laut sana.
"Kamu jahat Zara! jahat! kamu tinggalkan aku seperti ini! kenapa Zara!? kenapa!?" Davi berteriakan lalu jatuh terduduk di tempat itu dengan hembusan angin yang menerpa wajah dan membuat rambutnya bergerak terkena angin yang datang dari laut.
"Apa Zara tidak akan sedih jika dia melihat suaminya menjadi begini? apa menurutmu Zara akan bahagia di sana? tidak Davi dia tidak akan senang dengan apa yang kamu lakukan sekarang."
Arman memberikan nasehatnya meski hatinya pun merasakan kesedihan yang sama, namun kehidupan tetaplah harus berjalan masa ini mungkin akan terlewati meski lukanya tetap akan terasa sampai kapanpun, tapi ingatlah akan ada masa bahwa Tuhan menakdirkan ini untuk memberikan jalan yang lebih baik.
\*\*\*\*
__ADS_1