Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 75


__ADS_3

Zara yang sedang membersihkan pecahan kaca dari bingkai yang di lempar oleh Davi mendengar dering HPnya yang ada di atas kasur, wanita itu hanya menoleh sebentar lalu kembali pada benda yang ada di atas lantai seolah tidak mempunyai minat untuk menjawab atau mengetahui siapa yang saat ini tengah ingin berbicara dengannya.


Namun sepertinya orang di seberang sana begitu keras kepalanya ingin berbicara dengan Zara hingga suara dering HP di atas kasur itu tidak kunjung mereda, malah semakin sering bersuara.


Zara menarik napas panjang lalu dengan sangat berat hati menuju tempat di mana HPnya berada saat ini.


"Ipul." gumamnya dengan wajah yang menyiratkan kesedihan.


Saat seperti ini pun Ipul seolah memiliki perasaan tentang kesedihan macam apa yang tengah memenuhi hatinya.


Memang setelah bertemu dengan Davi Zara langsung menghubungi Ipul hingga akhirnya mereka pun saling bertukar nomor telepon agar bisa saling menghubungi satu sama lain.


Zara menjawab panggilan telepon dari temannya itu dengan suara yang terdengar sangat pelan membuat kecurigaan tersendiri bagi Ipul.


"Kalau ada masalah ngomong sama gue Za." seru Ipul dengan suara yang cukup lantang, sebagai seorang teman dia hanya ingin melindungi temannya itu dengan baik agar tidak lagi di sakiti oleh lelaki yang sama.


"Nggak ada Pul, gue baik-baik aja." ucap Zara yang sebelumnya memang mengatakan pada lelaki itu akan bertemu dengan Davi ketika berada di Australia.


"Gue nggak percaya." ujar Ipul dengan suara yang penuh dengan keyakinan.


"Cepat ngomong sama gue, Bang Davi ngapain elu?" malah semakin memaksa Zara untuk berkata.

__ADS_1


"Dia nggak apa-apain gue Pul, beneran." mencoba meyakinkan lelaki di Indonesia sekarang ini, sang teman terbaik yang akan selalu menjadi seperti itu meskipun ia pernah sangat mengecewakan perasaan temannya itu karena tidak bisa membalas perasaan yang telah dinyatakan oleh sang teman.


Namun sepertinya itu memang pilihan yang baik karena terbukti sekarang Ipul sudah memiliki wanita yang sangat mencintainya dan jujur harus Zara akui ia senang melihat temannya itu bahagia dengan wanita bernama Hanna.


"Gue nggak suka ya Za, Lu bohong sama gue. dari suara lu aja gue tau lu lagi nggak baik-baik aja!" omel Ipul menegaskan bahwa dia bisa merasakan yang kini tengah Zara rasakan.


Sontak saja Zara menangis lirih mendengar suara Ipul yang begitu mempedulikan dirinya juga perasaannya, padahal sebagai seorang teman sikap Zara sungguh sangat keterlaluan karena pergi sekian tahun tanpa memberikan kabar apapun kepada temannya sendiri.


"Gue jahat Pul." akhirnya berkata dengan suara yang bercampur dengan tangisan.


Ipul mengernyit bingung mendengar pernyataan Zara barusan.


"Lu jahat apanya si Zaa? lu itu wanita baik, nggak ada lu jahat sama siapapun." kata Ipul mencoba menenangkan wanita yang kini duduk bersandar di kaki ranjang.


"Orang ketiga? maksud lu apa?" kebingungan menyelimuti Ipul karena memang dia tidak pernah tau bahwa selama ini Davi sudah berpacaran dengan wanita lain.


"Bang Davi punya pacar? atau apa?" pertanyaan Ipul malah makin membuat hati Zara sakit mengingat ada wanita yang harus tersingkir karena kehadirannya.


"Iya." sahut Zara pelan masih dengan tangisannya.


Dan jawaban iya dari seorang Zara membuat mata Ipul membelalak lebar karena merasa sangat terkejut dan tidak percaya, Abang sepupunya yang dulu memintanya untuk menjaga Zara malah tega menjalin hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuan dirinya, sungguh Ipul tidak percaya mendengarnya.

__ADS_1


"Nggak mungkin Za, waktu berangkat Abang minta gue buat jagain elu. rasanya nggak mungkin dia malah enak-enakan pacaran di Australia." merasa tidak percaya dengan pemberitahuan Zara.


Zara pun menceritakan apa yang semua Davi katakan padanya, tentang bagaimana perasaan Davi kepada Lisa sesungguhnya.


"Ngaco! kalau nggak suka harusnya tegas nolak bukannya malah di jalanin." Ipul bersungut kesal.


"Gue bakal ngomong sama Abang." kata Ipul akhirnya.


"Nggak Pul, jangan. lu nggak usah ngomong apalagi marah sama dia, ini salah gue. salah karena gue yang tiba-tiba pergi tanpa memberitahu elu hingga membuat Davi berpikir kalau gue memang sudah tidak mau mengingatnya lagi." kata Zara lirih.


"Gue yang salah." ulangnya lagi.


"Zaa." Ipul sangat gemas dengan sikap Zara yang selalu tidak pernah berubah jika sudah menyangkut orang yang dia sayangi membuat Ipul membuang napasnya dengan sangat kencang.


"Kalau dia udah benar-benar nyakitin perasaan lu lagi, kasih tau gue, bakal gue hajar tuh orang nggak peduli kalau dia sepupu gue sendiri." tegas Ipul memberikan peringatan kepada Zara yang menghapus buliran air mata di kedua pipinya.


Zara mengakhiri pembicaraan mereka ketika mendengar suara bel yang berbunyi berulang kali dengan sangat kencangnya tanda bahwa ada orang yang sedang meminta untuk di bukakan pintu.


Zara gegas berjalan keluar kamar dan menyadari bahwa Davi tidak ada di apartemen itu, ia hanya sendiri entah kemana perginya Davi setelah memarahi dirinya.


Dengan langkah ragu wanita yang masih memakai seragam pramugari itu pun menuju pintu berwarna hitam dengan garis putih yang berdiri kokoh di depannya.

__ADS_1


Jantungnya seolah berdebar tak karuan ketika tangannya sudah terulur untuk menggapai gagang pintu dan akan membukanya.


****


__ADS_2