
Di dalam kamar Zara masih saja termenung dengan kejadian yang semakin membuatnya syok, meski Davi sudah berulang kali meyakinkannya bahwa ia tidak bersalah tapi tetap saja sebagai seorang wanita perasaan sesal itu terus mengusiknya membuat ia bahkan tidak sanggup untu memejamkan kedua matanya.
"Za, kamu belum tidur?" suara Davi terdengar khawatir pada wanita yang akan dia nikahi itu ketika dia melihat cahaya lampu dari sela pintu kamar Zara.
Davi langsung saja membuka pintu saat tak mendengar suara Zara. lelaki itu segera masuk ke dalam saat melihat Zara masih duduk di tepi ranjang dengan wajah yang menunduk.
"Kenapa?" tanya Davi lembut.
"Lisa tidak akan apa-apa kan Vi?" suara Zara tertahan di tenggorokannya tak mampu membayangkan jika Lisa sampai terluka parah karenanya, tentu saja ketakutan akan keluarga Lisa yang tidak terima dan akan menuntutnya terus membayang di kepalanya, sekalipun tadi Davi mengatakan padanya bahwa Kakak Lisa memaklumi apa yang dilakukan Zara adalah untuk membela diri, tapi bukankah itu baru Kakaknya saja? bagaimana dengan kedua orang tua Lisa jika mengetahui anaknya terluka? bukankah sebagai orang tua, mereka tidak akan terima begitu saja anaknya dilukai oleh orang lain.
"Tidak akan terjadi apapun sama dia Za, dan kamu tidak perlu jadi seperti ini, tenanglah karena aku akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi nanti." tutur Davi berusaha menenangkan sand wanita yang dia tau tengah merasa bersalah dan takut.
Davi merengkuh tubuh Zara dan memberikan kecupan hangat di puncak kepala sang wanita yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang Davi dengan sangat erat.
"Sekarang istirahat ya, besok kan kamu harus melayani aku di pesawat, aku tidak ingin dilayani oleh pramugari yang wajahnya pucat dan terus cemberut seperti ini." ejek Davi seraya menangkup kedua pipi Zara dengan tangannya.
Wajah kecil Zara bahkan hampir hilang sepenuhnya karena kedua tangan lelaki yang kini mengukir senyum di bibirnya yang membuat Zara tersenyum tipis karenanya.
"Iya." kata Zara dengan anggukan kepala dan untuk sekian kalinya Davi pun kembali mencium keningnya.
"Yaudah cepat naik." ujar Davi ketika melihat Zara masih tetap duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
Zara pun menggeser tubuhnya ke tengah ranajang diiringi oleh tatapan mata Davi yang kini berdiri memperhatikannya dengan mata yang lembut.
Sebelum beranjak keluar dari kamar Zara, Davi terlebih dulu memakaikannya selimut lalu mematikan lampu kamar agar Zara bisa tidur nyenyak tanpa gangguan sinar lampu yang akan membuat silau.
Pagi-pagi sekali kedua orang itu sudah berada di dalam bandara.
"Aku tinggal ya." kata Zara pada Davi ketika melihat teman-teman jiga pilot dan co-pilot sudah datang dan menatap padanya.
"Aku nggak boleh kenalan sama pilot kamu?" tanya Davi dengan senyum meledeknya.
Zara menggeleng cepat lalu tanpa berkata segera berjalan menyusul ttemannya yang sudah berjalan lebih dulu seraya melambaikan tangan pada Davi yang tersenyum senang karena Zara sudah kembali tersenyum setelah semalam wajahnya terlihat murung.
Tak lama pun Davi bergegas masuk ke dalam pesawat dan terus saja menunjukkan senyum menggodanya kala melihat Zara tengah membantu penumpang bisnis lainnya menaikkan tas di kabin pesawat yang ada di atas, tampak kesusahan hingga pakaian Zara terangkat dan kulit pinggangnya yang putih pun terlihat membuat mata Davi membulat sempurna dan tanpa di minta lelaki itu langsung mendekat kepada Zara lalu mengambil ta dari tangan wanita itu dan menempatkannya di atas membuat Zara tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Davi kembali duduk di tempatnya dengan mata tajam bagaikan seekor Elang yang terus mengawasi setiap gerak Zara yang memang sangat cantik dengan riasan yang semakin menambah kecantikan yang wanita itu miliki, kecantikan yang juga harus membuat Davi terus waspada pada setiap pria manapun.
"Kenapa pakaiannya sangat ketat!" batin Davi seperti tidak terima dengan pakaian yang sedang di pakai oleh Zara sangat memperlihatkan lekukan tubuh wanita tercintanya itu.
Davi sepertinya telah lupa bahwa selama ini setiap naik pesawat pakaian sang pramugari memanglah seperti itu, tidak akan ada yang memakai daster longgar atau pakaian besar sejenisnya.
Dengan senyum yang sangat manis Zara berjalan anggun menuju Davi setelah sebelumnya melayani penumpang di kelas bisnis itu.
__ADS_1
"Nggak usah senyum-senyum." ucap Davi kesal dan masih tidak terima dengan kejadian yang tadi.
Melihat kekasihnya yang tampak marah membuat Zara hanya bisa menyunggingkan senyum tertahan seraya menghampiri pria itu dengan mendorong meja yang di atasnya terdapat minuman.
"Mau minum apa sayang." tanya Zara yang terdengar berbisik kala mengucapkan kata sayang agar tidak ada yang mendengarnya.
"Yang kencang ngomongnya." Davi malah meminta Zara untuk bersuara kencang saat menyebut kata sayang dan tentu saja itu mendapat gelengan kepala dengan sangat cepat dari wanitanya.
"Ya udah aku nggak mau apapun kalau begitu." kata Davi seraya melipat tangannya di dada.
"Jangan membuat pekerjaan aku jadi lebih sulit sayang." ucap Zara dengan wajah memohon.
Davi mendesah lalu menunjuk teh yang langsung di berikan oleh Zara dengan senang hati dan kembali menawarkan minuman pada penumpang yang lain.
Sekitar satu jam kemudian Davi beranjak dari tempat duduknya untuk ke toilet dan berpapasan dengan Zara lalu tanpa berkata apapun Davi dengan seenaknya mengecup bibir Zara dengan cepat dan seperti tidak terjadi apapun lelaki itu pun santai masuk ke dalam toilet tanpa menghiraukan wajah Zara yang memanas dan jantung yang berdebar cepat karena ulahnya beruntung tidak ada seorangpun yang melihat aksi Davi karena saat di belakang hanya ada Zara yang baru selesai menyimpan gelas bekas pakai.
Pesawat masih terus mengudara dengan tenangnya membawa penumpang ketujuan dengan aman serta nyaman terlihat dari para penumpang yang tampak memejamkan mata termasuk Davi setelah tadi kelakuannya sungguh membuat Zara amat terkejut.
****
__ADS_1