Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 42


__ADS_3

"Za, Lu dimana?" tanya Ipul ketika menelepon Zara malam hari setelah dia puas melayangkan kepalan tangannya kepada sang Kakak sepupunya.


"Di rumah, kenapa?" suara Zara terdengar pelan sudah bisa di pastikan ia masih memikirkan tentang Davi dan semua yang ia ucapkan kepada pemuda itu, tentang ancamannya terhadap Davi.


Ia sekarang merasa konyol sendiri kenapa bisa-bisanya ia berkata seperti itu pada lelaki yang tidak menaruh perasaan kepadanya.


Jelas Davi akan tenang saja jika sampai melanggar yang diucapkan oleh Zara, tinggal Zara lah yang nantinya harus membuktikan perkataannya itu sekalipun akan sangat berat baginya. semoga rasa sayang ini tidak akan bertambah pada pemuda itu. Zara terus membatin sendiri bahkan ketika Ipul mengoceh ia mengabaikannya.


"Za, woi Lu dengerin gue ngomong nggak sih?" teriak Ipul yang suaranya pun langsung membuat telinga Zara berdengung.


"Denger Pul denger." seru Zara tak kalah kencang.


"Gue ngomong apa barusan?" pancing Ipul mengetes Zara yang katanya mendengarkan omongannya sejak tadi.


Hening, karena Zara sekarang malah menggaruk kepalanya mencoba mencari tahu apa yang tadi dikatakan oleh Ipul.


"Nah nggak dengerin kan lu!" sentak Ipul emosi.


"Sorry, hehe." kata Zara dengan tawa memaksa.


"Ck." Ipul berdecak lalu mengulang kembali diomongkan olehnya tadi.


"Gue jemput lu, lu tunggu di depan sekarang, gue males kalau mesti manggilin dulu karena yang keluar bukannya elu malah si Dira atau nggak Ibu tiri lu." Ipul mengatakan kekesalannya selama ini jika mendatangi rumah Zara, karena akan di sambut oleh kedua wanita yang terkadang mulutnya amat tajam jika sudah berbicara apalagi kedua orang itu sangat sering menjelekkan Zara saat dia datang.


"Mau kemana?" tanya Zara yang malam ini memang sangat enggan untuk keluar rumah.


"Kemana aja yang penting buat lu seneng." sahut Ipul cepat lalu segera mematikan teleponnya bahkan saat Zara baru membuka mulutnya untuk menolak ajakan dari sahabatnya itu, sahabat yang masih bisa bersikap baik padanya, bahkan di saat ia tidak bisa membalas kasih sayang tulus yang sahabatnya itu berikan.


Dengan terpaksa Zara turun dari kasurnya untuk mengganti pakaiannya dengan celana jeans serta sweater berwarna gelap yang menjadi kesayangannya karena itu adalah pemberian dari Ipul ketika ia berulang tahun.


Zara berdiri di depan pagar rumahnya menunggu kedatangan Ipul tentunya setelah tadi di dalam rumah harus menghadapi bermacam pertanyaan yang terkesan menuduh dari dua wanita di dalam rumah.


Pertanyaan pedas yang tidak pernah mereka pikirkan sebelum diucapkan oleh bibir mereka sungguh sudah sangat membuat Zara kebal karena terlalu sering ia mendengarnya.


"Ipul lamaa?" kata Zara ketika motor Ipul berhenti di depannya.


"Isi bensin dulu tadi." sahut Ipul.


"Masa motor gede kehabisan bensin." ledek Zara.


"Yeee emangnya lu pikir motor gede punya pom bensin sendiri di dalam tangki nya!?" kata Ipul seraya menyerahkan helm pada Zara.


"Naik cepet, nanti si cewek bocor keburu nongol." perintah Ipul kepada Zara yang masih berdiri saja di samping motornya.

__ADS_1


"Iya, sabar ih." kata Zara lalu naik ke atas motor besar Ipul.


"Pegangan Za." kali ini menyuruh Zara berpegangan padanya.


"Jalan juga belum, udah di suruh pegangan aja." keluh Zara.


"Ya ini mau jalan, makanya gue suruh pegangan, kalau lu nggak pegangan ya gue nggak bakal jalan." omel Ipul.


"Iya, iya." Zara pun meletakkan tangannya pada bahu Ipul.


"Gue bukan tukang ojek Za." protes Ipul dengan tingkah Zara yang malah memilih berpegangan pada kedua pundaknya.


"Ipul bawel ih lama-lama."


"Ya lagian elu nya aja yang ngeselin, turunin nggak tangan lu!" ketus Ipul.


Akhirnya setelah perdebatan itu Zara pun memindahkan tangannya pada pinggang Ipul memegangnya meski tidak mendekapnya namun hal itu membuat Ipul bergegas menjalankan motornya apalagi ketika pintu rumah Zara yang dibuka.


"Zaraa, awas kamu sampai pulang malam yaa. Tante kunci pintunya." teriak Dewi yang tidak di dengar oleh Zara karena Ipul sudah melajukan motornya dengan sangat kencang.


************


Ipul menarik napas lega ketika mereka sudah berhenti di sebuah taman yang banyak di kunjungi oleh pasangan muda di saat malam hari.


"Biar bikin lu nggak sumpek lagi, supaya otak lu juga bisa berbunga-bunga karena disini banyak bunga yang lagi mekar."


"Di pikirnya otak gue lahan kosong yang harus di tanami bunga." gerutu Zara yang membuat Ipul terkekeh.


"Kita duduk di sana yuk." ajak Ipul menunjuk bangku kosong di antara tanaman dengan bunga yang berwarna kuning.


Zara mengikuti saja kemana langkah kaki Ipul berjalan karena memang pemuda itulah yang mengajaknya ke tempat ini.


Zara ikut duduk ketika Ipul duduk di bangku yang terbuat dari besi, mereka duduk berdampingan.


Untuk beberapa saat mereka tak saling bicara karena sibuk menyelami perasaan mereka sendiri, sampai akhirnya terdengar tarikan napas dari Zara.


"Pul."


"Hhm."


"Makasih ya." ucap Zara yang membuat Ipul menatap kearahnya.


"Untuk?" tanya Ipul dengan kening yang mengerut.

__ADS_1


"Karena lu masih mau berteman sama gue bahkan setelah kejadian di gudang itu." ungkap Zara dengan suara yang terdengar berat.


"Za, gue suka dan sayang sama leu itu tulus, gue ungkapin itu bukan berarti gue minta elu untuk membalas perasaan gue, bukan Za bukan." tutur Ipul.


"Bagi gue lu tahu apa yang gue rasain aja itu udah cukup kok, gue sayang sama elu bukan berarti gue harus memiliki elu bukan? lagian konyol aja cuma gara-gara itu lalu kita malah jadi musuhan, kan nggak lucu Za." sambung Ipul mencoba memberi Zara pengertian bahwa dia baik-baik saja.


"Gue ngerasa nggak enak sama elu Pul, lu udah baik banget sama gue selama ini." lirih Zara.


"Terus kalau gue baik memangnya kenapa? gue baik bukan berarti minta elu buat balas kebaikan gue itu Za." wajah Ipul terlihat serius.


"Tapi gue nggak enak, gue ngerasa jahat banget sama elu." sahut Zara.


"Emang lu jahat Za, jahat banget sama gue." kata Ipul meledek Zara.


"Tuh benar kan? lu sendiri bilang kayak gitu." keluh Zara.


"Dih merengut, jelek ah." Ipul mengejek wajah Zara yang seketika berubah mendengar perkataannya.


Zara mendengus mendengar ucapan Ipul yang malah sengaja mengejek dirinya.


"Mau gue kasih tau caranya nggak biar lu nggak ngerasa bersalah sama gue dan gue juga seneng?" tanya Ipul yang wajahnya mendadak serius.


"Apa?" Zara sudah sangat antusias.


"Hehe." Ipul malah tertawa ngeselin membuat Zara makin penasaran.


"Apa Ipuul?" pekik Zara seraya memegang lengan sahabatnya itu.


"Nih." Ipul menunjuk pipinya.


"Pipi lu kenapa?" Zara tidak mengerti.


"Cium lah, masa gitu aja nggak tahu." ujar Ipul dengan alis yang naik turun menggoda gadis yang sekarang matanya mendelik seram karena permintaannya.


"Ipul ngeseliiin." Zara berseru kesal sedangkan Ipul malah tertawa kencang sambil memegangi perutnya.


"Ngeselin banget lu Pul." Zara dengan gemas mencubit pipi Ipul yang tadi di tunjuk oleh pemuda itu.


"Gue minta cium Za bukannya di cubit." seru Ipul merasakan tarikan tangan Zara di pipinya itu.


Zara mengabaikan perkataan Ipul, ia malah semakin kencang mencubit pipi sahabatnya itu bahkan ketika Ipul berteriak kesakitan.


**********

__ADS_1


__ADS_2