
Zara baru selesai mandi dengan handuk yang membungkus rambut basahnya wanita bertubuh ramping dan menakjubkan itu berjalan menuruni tangga setelah tidak menemukan suaminya di dalam kamar.
"Sayaang." serunya dengan langkah kecil menuruni tangga serta kedua mata yang mengitari ruangan di lantai bawah.
"Aku di ruang kerja." sahut Davi yang memang baru saja selesai menghubungi Lugo.
Zara mengulas senyum lalu melenggang anggun menyusul dimana suaminya kini berada. "Lagi apa?" tanya Zara ketika membuka pintu dan tidak tubuhnya belum masuk sempurna ke dalam ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu, sekarang sudah jam 7 malam dan ia yang baru selesai mandi masih dengan hanya memakai handuk yang melilit di tubuh serta membungkus rambut yang basah memamerkan bahunya yang begitu mulus serta kedua paha yang tak kalah membuat siapapun akan berdecak kagum jika melihatnya.
"Kenapa tidak pakai baju!" mata Davi membelalak melihat istrinya bertindak seenaknya keluar dari dalam kamar hanya memakai handuk saja, bagaimana jika ada yang melihatnya? mengingat sejak kemarin ada sesuatu yang sangat tak lazim menghantui setiap apa yang dia dan istrinya lakukan.
Mata Davi bergerak sangat waspada mengingat bisa saja makhluk yang tak jelas itu ada di sekitar mereka saat ini, lalu bergegas menghampiri sang istri dan mendekap tubuh dingin istrinya yang memang habis mandi dengan air dingin di malam hari.
"Masuk kamar." suara Davi terdengar sangat tegas serta dalam, tanpa menunggu istrinya membuka mulut dia pun membawa Zara yang berada di dalam dekapannya untuk masuk ke dalam kamar.
Zara yang tak mengerti apa-apa menatap wajah suaminya begitu dekat dengan wajahnya, senyum mengembang kala mengagumi setiap pahatan sempurna yang terpampang di wajah rupawan lelaki bernama Daviandra Arrayyan itu, ketampanan lelaki yang menjadi suaminya itu tak luntur sejak pertama kali mereka bertemu dulu, saat usia mereka masih belasan dan sekarang makin terlihat sempurna kala usianya sudah menginjak ke 24tahun.
Davi memboyong wanita yang hanya memakai handuk itu masuk ke dalam kamar, mengunci pintu lalu beralih pada jendela, memeriksa daun jendela sebelum menguncinya serta menutupnya dengan gorden.
Setelah itu dia membuang napas dan tatapannya beralih pada Zara yang tengah senyum malu-malu kepadanya.
"Kenapa nggak pakai baju dulu kalau mau keluar kamar?!" sebuah pertanyaan namun dengan wajah yang tampak marah dan tak suka.
Tatapan tajam Davi malah membuat Zara tersenyum menggoda, seraya berjalan mengarah pada Davi, wanita itu menjawab. "Aku mau cerita sesuatu." tutur Zara yang tak mengerti kenapa raut wajah suaminya tampak tidak biasa, terlihat aneh dan seperti tengah ada yang di khawatirkan.
"Aku nggak suka kamu kayak gitu, lain kali sesudah mandi segera pakai baju. jangan keluar kamar atau berjalan-jalan keruangan lain hanya dengan memakai handuk seperti ini." ucap Davi tegas seraya menyentuh keras handuk yang Zara lilitkan di tubuhnya.
Kening Zara mengernyit tak mengerti, kenapa perihal handuk suaminya terlihat begitu marah? kemarahan tercetak jelas di wajah suaminya ketika mereka sudah berjarak sangat dekat, posisi Davi yang bertolak pinggang pun makin membuat seorang Zara bingung. sungguh dulu saat pacaran Davi memang kerap kali marah padanya dan itu sudah biasa dan tidak aneh bagi Zara ketika itu, tapi sekarang, malam ini Davi dewasa menampakkan ketidaksukaan terhadap apa yang ia lakukan, hal sepele menurut Zara, tanpa ia tahu hal sepele itu membuat pikiran suaminya tak tenang.
"Kamu kenapa?" Zara memberanikan diri untuk bertanya, ia takut suaminya ada masalah yang tidak ia ketahui hingga membuat suaminya itu seperti sekarang.
Davi menarik napas kasar lalu menurunkan tangannya dari pinggang. "Aku hanya tidak mau ada yang menikmati tubuhmu ini. kamu hanya untukku Za." kata Davi kemudian.
Suara dan tatapan matanya sungguh teramat dalam pada wanita yang menjadi istrinya itu, wanita yang dia pilih untuk berada di hidupnya seumur hidup, takkan pernah dia biarkan siapapun menyentuhnya, dia harus menjaga miliknya apapun yang terjadi.
"Tapi kan ini di rumah." Zara mencoba memberi pengertian, ia sangat tau tubuhnya hanyalah milik suaminya itu, tentu ia juga tau sang suami takkan rela ada orang yang menikmati tubuhnya meskipun hanya sekedar menatapnya saja, ia bukan orang gila yang akan bertelanjang di depan orang lain, tidak mungkin ia melakukan hal itu.
Rahang Davi mengetat mendengar penuturan Zara, dia tidak mau mengerti sekalipun ini di rumah karena dia tau apa yang tengah terjadi saat ini, bahkan kejadian yang membuat dia menjadi seperti ini pun terjadi di rumah yang mereka tempati sekarang.
"Dengarkan perkataan ku Za, setelah mandi langsung berpakaian!" Davi mengulang pernyataannya dengan sangat tegas.
Perkataan Davi membuat Zara sudah tidak bisa membantah apapun lagi, Davi suaminya tentu yang lelaki itu lakukan untuk kebaikannya juga. "Iya." kata Zara akhirnya dan beralih pada lemari pakaian guna mengambil pakaian tidur yang akan ia pakai.
Davi memperhatikan Zara dengan tatapan sedih, dia juga tidak bermaksud untuk berkata keras pada istrinya, tapi jika tidak begitu istrinya itu tidak akan mau mengerti bukan?.
Selepas berpakaian, memakai baju tidur terusan Zara kembali menghampiri suaminya yang tengah sibuk dengan HPnya, entah melakukan apa yang jelas jari suaminya itu sibuk bergerak di atas layar benda yang menyala di tangannya.
"Aku mau cerita sama kamu." Zara duduk di depan suaminya dengan wajah yang bersinar seiring senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
Melihat senyum dari istrinya membuat Davi tenang karena itu artinya Zara tidak marah padanya setelah perkataan keras yang tadi dia utarakan.
__ADS_1
"Kamu nggak marah sama aku?" tanya Davi menyimpan HPnya di samping bantal lalu mengelus puncak kepala sang istri yang kini bersandar di bahunya.
Zara mendongak beradu pandangan dengan Davi. "Kenapa harus marah, aku tau kamu melakukan itu untuk kebaikan aku." kata Zara seraya memamerkan senyum yang luar biasa menyejukkan.
Davi membalas senyuman sang istri lalu mengecup kening wanita kesayangan serta tercintanya itu. "Katakan, kenapa sejak pulang tadi kamu terlihat sangat bahagia?" tanya Davi yang memang sejak di antar oleh Ipul wajah istrinya itu begitu senang dan antusias.
"Ipul nggak gombal sama kamu kan?" lanjut Davi mengajukan pertanyaan yang membuat Zara mendelik lalu menggigit bahu suaminya yang sangat dekat dengan bibirnya.
"Aduh, sakit sayang." pekik Davi ketika gigi Zara terasa sangat menyetrum kulit bahunya.
"Lagian kalau ngomong sembarangan." cerocos Zara kesal, bisa-bisanya suaminya itu bertanya hal mengesalkan dengan sangat enteng, hubungannya dan Ipul sedari dulu hanya sekedar teman, dan itu akan selamanya meskipun dulu Ipul pernah mengutarakan perasaannya tapi semua cinta yang ia miliki hanya untuk lelaki galak bernama Davi ini, lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya sampai kapanpun tidak akan terganti dengan siapapun.
"Iya maaf." kata Davi menyesal. Zara sudah menjadi istrinya dan Adik sepupunya pun sudah memiliki kekasih, sudah sepatutnya dia tidak cemburu, sekalipun tetap saja ada secuil rasa itu dalam hatinya terlebih lagi ketika tadi Ipul terlihat begitu senang ketika bisa pergi mengantar istrinya itu.
Zara yang tadi memanyunkan bibirnya pun kembali tersenyum simpul lalu matanya mengerjap sempurna. "Kamu tau nggak?" tukas Zara yang tentu saja membuat Davi menggeleng.
"Aku berhasil bikin Dira mengembalikan uang rumah." kata Zara antusias namun berbeda dengan Davi yang menanggapinya dengan biasa saja.
"Terus?" tanya Davi singkat.
"Nanti aku transfer uangnya ke rekening kamu." tutur Zara kemudian.
"Nggak usah, itu uang kamu." larang Davi.
"Nggak usah ngeyel." lanjutnya ketika melihat Zara hendak protes.
"Za." kali ini sepertinya Davi yang ingin mengatakan sesuatu pada istrinya.
"Apa?" Zara menatap Davi.
"Besok aku harus kembali ke Australia." terang Davi dengan mata yang mendadak sendu ketika melihat Zara terdiam mendengar perkataannya.
"Kata kamu masih seminggu lagi." Zara tampak tak terima ketika mengetahui bahwa suaminya itu akan pergi meninggalkan dirinya begitu cepat bahkan ketika mereka baru beberapa hari menikah.
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." jawab Davi enggan berterus terang, namun sepertinya Nuri Zara sebagai seorang istri mengatakan hal lain hingga wanita itupun mulai bertanya dengan sangat serius.
"Bukan tentang pekerjaan." bibir Zara berucap yakin apalagi ketika wajah Davi berubah drastis.
"Lisa hamil." dua kata yang keluar dari mulut Davi membuat mata serta jantung Zara tidak bisa di kontrol, matanya membesar dengan jantung yang bergemuruh kencang.
"Bukan aku Za, amu tidak pernah melakukan apapun terhadapnya." Davi berkata cepat tak mau Zara berpikir bahwa anak yang ada di dalam perut Lisa adalah anaknya.
"Tapi dia hamil." suara Zara bergetar, pikirannya sudah sangat dipenuhi dengan hal yang menyakitkan baginya.
"Itu bukan anakku Za, Aku bersumpah." kata Davi menangkup wajah wanita yang menjadi ratu di dalam hatinya, terus meyakinkan karena memang dia bukanlah lelaki yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Lisa, mantan kekasihnya itu.
"Jika bukan anak kamu lalu kenapa kamu harus pergi ke sana? kenapa kamu harus meninggalkan aku saat kita baru saja menikah?" Zara berkata dengan tangis yang mulai keluar.
__ADS_1
"Aku harus menjelaskan pada orang tuanya juga mencari Robert, dia yang harus bertanggung jawab. jika tidak mereka akan datang ke sini." tutur Davi berusaha memberi pengertian.
"Biarkan mereka datang, aku percaya padamu aku akan membantu kamu." Zara merasa sangat tidak terima jika Davi harus kembali bertemu dengan Lisa juga orang tuanya hanya seorang diri.
Davi menggeleng. "Aku tidak mau mereka datang dan bertemu dengan Ayah serta Mamah, terlebih lagi bertemu Ipul, aku tidak mau hal ini membuat Ipul marah padaku dan malah membuat kita berpisah." Davi berkata tegas.
"Ipul tidak akan melakukan hal itu, sejak dulu Ipul sangat baik padaku dia tidak mungkin membuat kita berpisah, dia juga turut membantu pernikahan kita." kata Zara dengan isakan tangisnya.
"Mengertilah Za, sebagai lelaki dan seorang suami aku tau apa yang di rasakan Ipul terhadap kamu."
"Aku berjanji hanya kamulah satu-satunya wanita yang ada di dalam hatiku, hanya kamu wanita yang aku sentuh, tidak ada wanita lain." lanjut Davi dengan mata yang luar biasa sedih kala melihat istrinya menangis. "Percaya sama aku." katanya lagi membuat Zara akhirnya mengangguk, Davi pun menghapus air mata wanita itu lalu memeluknya dengan erat. "Sebelum berangkat aku akan antar kamu ke rumah Ayah, kamu tinggal di sana dulu selama aku pergi."
"Tapi."
"Jangan membantah, sepertinya aku harus mengatakan sesuatu padamu." kata Davi kemudian.
"Apa?" tanya Zara dengan mata yang merah.
"Janji tidak akan panik ataupun takut?" pinta Davi yang dihadiahi kernyitan di kening oleh Zara.
Tak lama Zara pun mengangguk. Davi menarik napas lalu menceritakan semua kepada Zara, kepada istrinya dan meminta wanita itu untuk tidak panik namun tetap waspada selama dia tidak ada.
"Maksud kamu ada yang tengah mengintai kita? di rumah ini?" tanya Zara terkejut.
"Kamu, orang itu mengintai kamu." kata Davi dengan wajah serius.
"Aku? kenapa aku?" bingung Zara.
"Ada yang diam-diam terobsesi pada kamu." kata Davi, ya Davi berpikir seperti itu karena dua terakhir kali dia berhubungan intim dengan istrinya itu ada suara erangan seperti yang dia lakukan, tidak mungkin bukan jika orang itu menyukai dirinya? hal itu membuat Davi menarik kesimpulan bahwa istrinya lah yang tengah dijadikan imajinasi oleh seorang lelaki gila yang tidak dia ketahui siapa.
Davi memeluk Zara dengan sangat erat karena dia tau wanita itu merasa bergetar ketakutan mengetahui ada orang gila yang kini mengincar dirinya.
"Tinggal di rumah Ayah dan Mamah jangan pernah ke sini seorang diri, aku akan kembali secepatnya." titah Davi tegas yang di angguki oleh sang istri.
****
__ADS_1