
"Kamu harus bisa mengontrol emosi kamu Davi, untuk saat ini kamu harus mengerti keadaan istri kamu, Zara bukan hanya membutuhkan dukungan kamu tapi juga kesabaran kamu sebagai suaminya, terus yakinkan dia bahwa kamu tetap akan bersama dengannya apapun yang terjadi."
Arman menasehati anaknya, karena dia mengerti seperti apa trauma mental yang sedang dialami oleh menantunya itu, dia juga ikut merasakan bagaimana perasaan anak dan menantunya saat ini.
"Ayah yakin kalian pasti bisa melewati semua ini, semua akan segera berlalu apabila kamu mau bersabar untuk meyakinkan Zara. saat ini istrimu sedang sangat tidak stabil hingga terus merasa bersalah dan mengatakan hal yang sebenarnya tidak dia inginkan," jelas Arman panjang lebar ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah menjahit luka di tangan anaknya.
Davi hanya menatap lurus pada jalanan di depan sana meskipun dia mendengarkan apa yang sejak tadi dikatakan oleh Ayahnya namun dia merasa sudah cukup lelah untuk berbicara.
Mobil yang mereka kendarai sudah masuk ke halaman rumah dimana pintunya tertutup keduanya turun dari dalam mobil lalu berjalan menuju rumah.
Ketika Davi membuka pintu dia sudah disuguhi oleh pemandangan yang sangat mengiris hatinya, istrinya tengah menangis di dalam dekapan sang Mama, meski samar namun Davi bisa mendengar apa yang tengah Zara ucapkan.
Kali ini wanita itu kembali menyalahkan dirinya karena luka yang terus saja bertambah di tangan suaminya, wanita itu merasa sebagai penyebab semua luka yang mungkin akan membekas di tangan suaminya itu.
"Semua karena Zara tidak bisa menjaga diri Zara Ma, seandainya Zara.." Zara tak kuasa untuk melanjutkan perkataannya karena tangis yang tak lagi bisa ia bendung.
Davi menarik nafas lalu melangkah mendekati kedua wanita yang sedang berpelukan di sofa.
"Lalu sekarang mau kamu apa?" tanya Davi membuat Zara mengangkat wajahnya dan melihat kedatangannya.
Bibir Zara bergetar dengan matanya yang melihat perban putih di tangan pria yang sangat ia cintai namun saat ini ia tidak ingin menambah luka dari prianya itu.
Sudah cukup luka di hati pria itu, tidak seharusnya ia menambah dengan luka fisik karena harus bertahan bersamanya, Zara merasa Davi akan terus merasakan sakit jika tetap bersama dengannya, apalagi jika nantinya ia hamil akibat perkosaan, bukankah itu akan menambah deretan panjang luka yang Davi terima.
Meski mulutnya mengatakan mau menerima keadaannya tapi Zara yakin di dalam lubuk hati yang paling dalam Davi tidak akan mudah menerimanya.
"Aku harus melakukan apa?" ulang Davi ketika dia sudah berdiri sangat dekat dengan wanita yang kedua matanya tidak pernah mau berhenti untuk mengeluarkan air matanya.
Kedua mata yang sudah tidak lagi bercahaya seperti dulu, kedua mata yang sekarang tidak pernah lagi memandangnya dengan penuh cinta, semua itu seolah sudah tertutup oleh kesedihan yang tak juga mau pergi.
Kesedihan sialan yang sudah membuat rumah tangganya menjadi seperti ini, kesedihan sialan yang datang tanpa diundang, kesedihan sialan yang membuat istrinya menangis siang dan malam tanpa bisa dia tenangkan.
__ADS_1
Davi menatap Zara dengan sangat dalam, menatap wanita yang sampai kapanpun akan ada di hatinya.
Keduanya saling pandang dengan Zara yang mencoba untuk menahan tangisannya sudah benar-benar membuat suaranya menjadi sangat serak, membuat pernafasannya menjadi terganggu karena banyaknya cairan di dalam hidungnya yang berwarna merah.
Andini dan Arman hanya memperhatikan anak mereka tanpa berani untuk berbicara apapun karena merasa itu urusan rumah tangga yang harus dibicarakan tanpa ikut campur orang lain sekalipun itu adalah anak mereka sendiri.
Selama masih tidak ada hal yang berbahaya mereka tidak mau ikut campur, namun ketika sudah semakin parah jelas mereka tidak akan tinggal diam.
Zara menepis air matanya lalu berdiri hingga sekarang mereka saling berhadapan.
Davi menunggu setiap detiknya dengan sangat cemas apa yang Zara inginkan darinya, setiap wanita di depannya itu menarik nafas Davi dapat merasakan dengan sangat jelas kesedihan yang begitu mendalam yang tengah berusaha untuk dikendalikan.
"Ceraikan aku," seru Zara dengan linangan air mata yang kini mengalir dengan deras tanpa kendali.
Ucapan Zara membuat kedua mertuanya tersentak tak percaya, terutama Davi yang kini menatap wanita di depannya tanpa berkedip jantungnya di buat bergemuruh dengan sangat hebat oleh wanita yang begitu dia sayangi itu.
Sekuat tenaga Davi berusaha untuk membuka mulutnya yang seakan mendadak terkunci dengan rapat hingga mengeluarkan sepatah kata pun terasa sangat sulit.
"Cerai? kamu mau kita cerai?" tanya Davi dengan suara yang sangat berat.
"Sebaiknya kalian beristirahat, bicarakan lagi setelah pikiran kalian tenang," Arman mencoba menengahi.
"Kamu mau itu?" tanya Davi lagi meyakinkan apa yang istrinya inginkan.
Dan untuk keduanya Zara mengangguk sebagai jawaban.
"Ayo Davi ikut Ayah." Arman berusaha untuk membawa anaknya pergi namun tak di sangka Davi malah menepis tangannya.
Davi memalingkan sebentar wajahnya dari Zara menyembunyikan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya lalu kembali menatap Zara.
__ADS_1
"Hanya cerai? kenapa tidak meminta nyawaku saja, aku akan dengan senang hati memberikannya padamu!" seru Davi.
Andini dan Arman menegang mendengar semua kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut sang anak, mereka merasa sangat hancur membayangkan bahwa rumah tangga anaknya akan hancur.
Kedua mata Zara bergetar mendengar perkataan dari pria yang sejak pertemuan pertama sudah membuatnya jatuh hati, pria yang sekalipun pernah membuatnya kecewa namun tetap saja ia tidak bisa membuang rasa cinta dan sayangnya begitu saja, dan sekarang demi kebaikan dan kebahagian pria itu Zara harus rela untuk berpisah dengannya ketimbang harus menanggung semua kesedihan bersamanya.
"Aku akan segera mengurus perceraian kita," kata Davi akhirnya yang langsung membuat Andini berteriak histeris, tidak terima dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh putranya.
Di depan kedua orang tuanya Davi memenuhi permintaan Zara untuk bercerai.
Davi berjalan meninggalkan ruang tengah dan menaiki tangga menuju kamar tempat kejadian yang paling pahit itu menimpa istrinya, istrinya yang sebentar lagi hanya akan menjadi mantan istri.
Zara terdiam mematung dengan air mata yang semakin tak mau berhenti dengan kedua tangan yang terkepal.
Arman berlari mengejar Davi sedangkan Andini menangis histeris seraya memanggil putranya meminta untuk tidak menuruti permintaan Zara.
Kejadian menyakitkan itu benar-benar merubah semua keadaan hanya dalam sekejap saja.
__ADS_1
\*\*\*\*