Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 136


__ADS_3

Berbekal Handphone dan bantuan dari Titi, mantan seniornya saat menjadi pramugari dulu, akhirnya Zara berselancar di dalam internet mencari-cari psikolog yang bisa membantunya.


"Bagaimana?" tanya Titi kala Zara meneleponnya.


"Aku sudah mendapatkan nomor telepon dan juga tempatnya praktek," beritahu Zara.


Sejak pagi-pagi sekali wanita itu sudah sibuk dengan handphonenya menelepon Titi yang masih tertidur sangat lelap karena habis menghabiskan malam di tempat hiburan bersama teman-teman pramugarinya yang lain.


"Hmm, baguslah," ucap Titi dengan mata yang tetap ia pejamkan, sepertinya wanita itu masih sangat mengantuk namun ia memaksakan diri untuk menjawab telepon dari mantan anak juniornya itu yang ia tahu kondisinya seperti apa.


Tentu Titi dan juga Reni tau apa yang telah terjadi kepada Zara sebab mereka berdua adalah teman terdekat Zara saat menjadi pramugari dan sampai akhirnya Zara memutuskan untuk tak lagi bergabung dengan mereka membuat mereka bersedih dan merasa sangat kehilangan namun mereka berjanji untuk tetap saling berkomunikasi dan menceritakan semua yang mereka alami.


Bahkan saat pertama kali mengetahui apa yang terjadi pada Zara, Reni sampai menangis sepanjang malam karena ia sangat sakit hati pada orang bejat yang sudah membuat Zara menjadi seperti sekarang.


"Tapi aku membutuhkan bantuan mu Mbak," ucap Zara sedikit ragu karena ia takut apa yang ia minta akan mengganggu Titi karena memang wanita itu hanya akan berada di Australia beberapa hari saja, Zara yakin wanita itu ingin bersenang-senang seperti yang sering mereka lakukan dulu kala singgah sebelum pesawat mereka kembali harus lepas landas membawa penumpang.


"Apa? katakan saja," Titi terkesiap bangun dengan cepat lalu duduk bersandar di tempat tidur yang ia tempati bersama dengan Reni.


"Tolong temani aku," tutur Zara pelan dan samar.


Titi terdiam sejenak seperti tengah berpikir karena ada pertanyaan yang mungkin tidak enak ia tanyakan, tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya, "suamimu, apa dia tidak bisa menemani?" sungguh Titi merasa bingung bukankah saat seperti ini seorang suami lah yang seharusnya mendampingin istrinya yang sedang berada di titik depresi begini karena suami itulah yang lebih tahu tentang istrinya ketimbang orang lain sepertinya yang meskipun cukup mengenal dekat Zara tapi tidak pernah menyaksikan sendiri bagaimana depresi ataupun trauma yang Zara alami mendadak muncul.


"Dia sudah terlalu lelah mengurusi aku, aku tidak mau menyusahkan nya lagi," suara Zara terdengar seperti menahan tangis ketika harus mengingat Davi.


"Tapi.."


"Kalau Mbak tidak bisa, tidak apa-apa aku bisa pergi sendiri," potong Zara tidak membiarkan Titi melanjutkan perkataannya.


"Oke, akan aku temani," kata Titi akhirnya.

__ADS_1


Senior pramugari itu tentu tidak akan membiarkan Zara pergi sendirian di negara yang meskipun tak asing dengannya ini, namun ia tahu di negara ini Zara juga tidak memiliki siapapun kecuali suaminya, terlebih lagi membiarkan Zara bepergian dalam keadaannya yang tidak stabil seperti sekarang.


"Terimakasih Mbak, aku sangat berterimakasih," kata Zara tulus.


"Iya, hubungi aku lagi jika kamu sudah membuat janji dengan psikolog itu," tukas Titi.


Zara mengangguk meski tak terlihat dengan mulutnya yang menggumam.


Davi masuk tepat saat Zara baru saja mematikan handphonenya.



"Nanti sore Aku akan menemui psikolog," kata Zara membuat langkah Davi terhenti.



"Akan aku temani," ucap Davi.




Mata Davi memicing seakan tidak percaya dengan yang dia dengar barusan dari istrinya, bagaimana bisa Zara memilih ditemani oleh orang lain ketimbang dengan dirinya? sungguh Davi tak habis pikir.



Zara yang menyadari Davi tak terima dengan apa yang ia ucapkan pun langsung berkata, "tidak akan terjadi apa-apa denganku, lagipula kemarin aku mendengar masih banyak pekerjaan yang harus Mas selesaikan," tukas Zara.


__ADS_1


Setelah mengatakan itu Zara pun mengambil handuk dan memberikannya pada sang suami yang menatapnya dengan begitu intens, tatapan penuh pertanyaan dan sejenak Davi pun yakin Zara merasa kecewa terhadapnya.



"Mandi lah," kata Zara lembut seraya mendorong tubuh suaminya masuk ke dalam kamar mandi.



Zara menghembuskan napas yang sejak tadi terasa begitu sesak, benar-benar sangat menyesakkan dadanya hingga ia harus memejamkan kedua matanya agar bisa bernapas dengan normal kembali.



Dan saat suaminya berada di dalam kamar mandi Zara mendengar suaminya itu batuk, suara batuk yang tak berhenti membuat Zara bergegas meninggalkan kamar lalu menuju ruang kerja di samping kamar tidur mereka.



Zara masuk dan langsung menuju meja dan mendapati banyak puntung rokok di sana.



Zara mendesah berat meyakini bahwa yang membuat Davi batuk adalah rokok yang bahkan dulu tidak pernah suaminya hisap meski hanya satu batang pun dan saat ini mata Zara malah melihat banyaknya bekas rokok yang berserakan bahkan lebih dari yang ia bayangkan.



Dengan perasaan sedih wanita itupun mengumpulkan bekas rokok di atas meja dan juga yang tadi pagi sempat di remas dan injak oleh sang suami.



Membuangnya ke tempat sampah lalu menyapu ruangan itu dan menyemprotkannya dengan pewangi ruangan agar tidak ada lagi bau rokok yang tersisa.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2