
Davi mengeluarkan motor kesayangannya yang dulu selalu menemaninya kemana pun dia pergi, untungnya meskipun Davi tak ada Ayahnya selalu rutin untuk membawa motor besar itu ke bengkel.
Pemuda yang bahkan belum sempat mandi itupun sangat tergesa keluar rumah menaiki motornya.
Dimana lagi tujuannya saat ini jika bukan untuk mencari Zara yang dengan sengaja memberinya nomor tak terdaftar.
Sungguh Davi merasa sangat bodoh karena langsung percaya begitu saja kepada Zara saat wanita itu mengetikkan sebaris nomor di HPnya tanpa memastikannya lebih dulu.
Terlihat sekali wajah Davi yang menunjukkan ke khawatiran takut Zara menghilang kembali.
Motornya melaju semakin cepat untuk bisa sampai ke rumah wanita yang sekarang mengganggu pikirannya.
Davi menghentikan motornya di depan pagar sebuah rumah yang tampak sangat sepi, tangannya membuka Helm yang dia pakai seraya beranjak turun dari atas motor dan menuju pintu pagar yang tergembok.
Kening Davi mengernyit bingung ketika matanya melihat gembok menggantung di pintu pagar.
Lelaki itu berusaha untuk memanggil berharap ada orang di dalam rumah, tapi sekian lama memanggil ternyata tidak ada satupun orang yang keluar menghampirinya.
Napas Davi mulai tidak beraturan dengan rahang yang mengeras menunjukkan betapa dia kecewa pada Zara, sudah menipunya dengan nomor palsu dan sekarang saat dia datangi wanita itupun tidak ada bahkan rumahnya pun di gembok.
Mata Davi berkeliling mencari orang yang bisa dia tanyai, tapi tak ada hingga matanya menangkap sebuah papan yang terdapat sebuah tulisan yang menggantung di pagar sebelah kiri.
"RUMAH INI DI JUAL" jantung Davi berdebar kencang menerima kenyataan bahwa rumah ini memang kosong bahkan akan di jual.
__ADS_1
Kepala lelaki itu berdenyut sesaat mengetahui Zara sudah tidak tinggal di rumah itu lagi.
Namun sesaat kemudian Davi menghubungi nomor telepon yang ada di papan itu dan berbicara pada seorang wanita yang sudah jelas siapa orangnya.
Ya wanita itu adalah Ibu tiri dari Zara yang kini sudah pindah ke luar kota bersama dengan anaknya satu tahun yang lalu.
"Saya ingin membeli rumah anda." ucap Davi saat berbicara dengan si pemilik rumah yang terdengar sangat bahagia karena akhirnya rumah yang sudah tidak berpenghuni itu.
Setelah mengatur kapan akan melakukan proses jual beli rumah itu Davi pun menyimpan HPnya.
Matanya memandangi rumah yang sebenarnya adalah milik Zara, bangunan itu tampak sudah tidak terawat dengan rumput yang mulai meninggi di halamannya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi Zara." batin Davi seraya kembali teringat saat dulu dia mengantar Zara pulang ataupun menjemputnya.
Davi tahu rumah itu sangat penting bagi Zara, jadi dia berharap rumah ini jugalah yang akan membantunya untuk bisa kembali pada wanita yang sudah sangat dia kecewakan itu.
Di halaman rumahnya sudah terparkir dua mobil yang sudah Davi tahu siapa pemiliknya.
Lelaki yang wajahnya menampakkan frustasi itu masuk lalu menyapa semua orang yang ada di ruang tamu yang memang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
"Davi apa kabar?" tanya Papah dan Mamahnya Ipul bersamaan kala keponakannya itu mencium tangannya.
"Baik Om, Tante." sahutnya dengan mencoba untuk tersenyum.
"Apa kabar Bang?" kali ini Ipul yang bertanya seraya mendekap tubuh lelaki yang menjadi sepupunya itu.
__ADS_1
"Baik." jawab Davi dengan nada lesu.
"Gue tahu dimana Zara sekarang." bisik Ipul yang sontak membuat mata Davi berbinar penasaran.
Davi pun menarik Ipul keluar rumah dan berbicara di samping mobil yang terparkir rapi di halaman.
"Kasih tahu gue sekarang." kata Davi memaksa namun Ipul menggeleng.
"Pul." Davi memelas.
"Setelah makan malam gue kasih tahu elu." tutur Ipul yang membuat Davi menjadi sengit.
"Kenapa harus nunggu makan dulu? kenapa lu nggak ngomong aja sekarang?!" kesal Davi.
"Gue lapar Bang, kasihan pacar gue juga belum makan." ucapan Ipul membuat bola mata Davi berputar jengkel.
Ipul sepertinya memang berniat untuk menguji kesabaran Davi yang tengah kalut memikirkan Zara yang sudah membohonginya.
"Ayolah, kita makan dulu. kata Mamah lu, leu juga belum makan Bang." kata Ipul memaksa.
"Gue nggak selera makan." sahut Davi.
"Kalau gitu gue juga nggak selera buat kasih tahu elu sekarang ini Zara di mana." ujar Ipul dengan wajah yang terlihat sangat santai.
Ancaman Ipul akhirnya bisa membawa Davi untuk mau makan, tentunya setelah pemuda itu membersihkan dirinya terlebih dulu.
__ADS_1
\*\*\*\*