Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 174


__ADS_3

Hari sudah berganti akan tetapi dua anak manusia di dalam kamar belum juga keluar sejak saat kemarin mereka masuk sedangkan Ipul pun sudah pulang ke rumah orang tuanya sejak jam 11 malam.


Andini sudah cemas sedemikian rupa hingga sejak tadi ia berdiri di dekat tangga dengan kedua matanya yang awas terus melihat ke lantai atas, berharap ada pergerakan dari pintu yang sejak kemarin pun tertutup rapat.


"Apa mereka tidak lapar?" tanya Andini sambil meninggalkan tangga menuju pada suami serta kedua anaknya yang sedang makan siang.


Arman mengedikkan bahunya seraya tetap mengunyah menikmati makan siang di hari Minggu yang luar biasa mendung ini, mungkin sebentar lagi akan turun hujan, karena angin pun sudah berhembus sedikit kencang menerbangkan dedaunan yang terlepas dari dahannya.


"Kenapa kamu tidak duduk saja, toh kalau mereka lapar juga akan keluar sendiri kita orang tua tidak usah mencampuri apa yang sedang mereka lakukan," ucap Arman yang sepertinya jauh lebih paham apa yang sedang di lakukan oleh anak menantunya, tidak bertemu selama dua Minggu bukankah waktu yang cukup lumayan bagi pasangan yang saling mencintai?


Arman benar-benar santai dan tenang terlebih sekitar jam 1 pagi pun dia sempat berpapasan dengan Davi yang sedang mengambil banyak roti juga buah serta membuat empat gelas susu lalu membawanya ke kamar mungkin untuk stok? yang jelas Arman mendengar Davi mengatakan itu semua untuk Zara.


Sepertinya Andini tidak menyadari bahwa roti dan buahnya habis hanya menyisakan satu buah apel yang mungkin tidak terbawa oleh Davi.


"Apa kamu tidak takut Davi memarahi Zara? atau melakukan kekerasan."


"Loh, kita mengenal bagaimana Davi dan kamu pun sangat tahu seperti apa anakmu itu jika sudah menyangkut tentang Zara, perkataan mu seolah kamu ini tidak mengenal anakmu sendiri," tukas Arman tak habis pikir pada istrinya ini.


Di saat suami istri itu sedang beradu argumen dua anak kembarnya malah saling berdiskusi membicarakan sebuah hal yang membuat mereka memucat.


"Apa Abang menyakiti Kak Zara?" bisik Anaya pada saudari kembarnya.


"Kamu yakin sama pendengaran kamu?" tanya Inaya yang saat bangun pagi mendengarkan sebuah cerita dari Anaya dan sekarang malah mendapati Mamanya begitu khawatir dan mengatakan hal-hal yang membuat pikiran mereka juga ikut panik.


Anaya mengangguk cepat pertanda bahwa pendengarannya masih sangat bagus untuk mendengar suara dari dalam kamar sang Abang yang bersebelahan dengan kamar mereka.


"Sepertinya kita harus kasih tahu Mama dan Ayah," usul Inaya dengan wajah cukup yakin.


"Tapi nanti Abang dipukulin lagi sama Ayah gimana?" Anaya malah menjadi ragu mengingat ia menyaksikan bagaimana Abangnya dipukuli oleh sang Ayah beberapa waktu lalu, terlebih lagi kemarin pun ia melihat Abangnya lagi-lagi mendapatkan pukulan dan kali ini oleh Kakak sepupu mereka, jika sekarang mereka mengadu apa tidak akan semakin bonyok wajah tampan Abang mereka?


"Nggak usah mikirin Abang karena sekarang yang harus kita pikirin Kak Zara ada Dede bayi dalam perutnya, apa kamu tega sama calon keponakan kita itu?!" Inaya mulai gemas dan makin mengompori kembarannya.


Tentu keduanya sudah beranjak remaja dan mengerti apa yang harus didahulukan dalam keadaan darurat seperti ini.

__ADS_1


Darurat? iya, menurut mereka ini adalah keadaan yang sangat darurat.


Akhirnya Anaya mengangguk setuju pada ucapan sang kembaran.


"Ma, Ayah," panggil Inaya.


Orang tuanya pun menoleh pada mereka menghentikan adu argumen yang ternyata masih terus berlanjut.


Inaya menarik napas lebih dulu sebelum mulai berbicara, sedangkan orang tuanya sudah menunggu apa yang mau ia katakan.


"Tadi malam kata Anaya dia dengar suara Kak Zara," ucap Inaya.


"Suara apa?" Andini dan Arman bertanya bersamaan dengan kerutan di kening mereka.


"Kayak kesakitan gitu Ma.."


"Tuh kan apa aku bilang, ini pasti Davi nyakitin menantuku!" Andini sudah akan berdiri namun Arman menahannya.


Rasanya tidak mungkin mengingat saat berpapasan dengan Davi wajah putranya itu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, malah di balik wajah yang babak belur ada senyum dan mata yang berbinar bahagia, setidaknya itu yang Arman lihat tadi pagi.


"Kamu ini kok malah bilang Ana ngarang Yah!" emosi Andini tak tertahan dengan wajah yang sudah merah.


"Nggak kok Ayah Ana nggak ngarang orang Ana dengar sendiri Kak Zara teriak Aaahh gitu, kayak kesakitan banget, itu jam 12 malam Ana mau tolongin tapi Ana takut sama Abang," adu Anaya yang malah membuat Arman menahan tawanya.


"Dengar?" berkata pada sang istri yang matanya sudah sebulat bola kasti. "menurutmu itu suara kesakitan atau suara yang lain?" lanjut Arman.


Dari ekspresi yang Andini tunjukkan sepertinya istrinya ini mulai bisa mengerti apa yang sedang terjadi di dalam kamar sana, hingga wanita itu pun lantas kembali duduk lalu mengisi piringnya dengan nasi serta lauk pauknya.


Kini Inaya dan Anaya yang justru di buat saling tatap tak mengerti, kenapa orang tuanya itu malah tidak melakukan tindakan apapun? oh dua gadis remaja yang masih sangat polos hingga tidak bisa membedakan suara kesakitan dengan suara lainnya.


Di dalam kamar dua tubuh tertutup selimut mulai menggeliat.


"Tubuhku sakit," keluh Zara seraya menjauhkan tubuh sang suami yang sejak kemarin tidak mau menjauh sedikitpun.

__ADS_1


"Satu kali lagi?"


Suara parau di sebelahnya membuat Zara membelalakkan matanya, tidak percaya dengan ucapan pria yang menjadi suaminya.


Satu kali lagi? astaga! tubuhnya sudah terasa sangat remuk dan perutnya pun mulai berbunyi lagi anak di dalam perut mereka butuh asupan bergizi bukan hanya sekedar roti buah dan juga susu, saat ini ia ingin makan nasi uduk yang sudah lama tidak ia makan.


"Tidak ada! aku lapar!" tolak Zara.


"Sebentar saja setelah itu kita makan, kamu mau makan apa saja akan aku belikan," tawar Davi tak mau menyerah.


"Kamu sudah melakukannya sangat banyak."


"Tapi ingin lagi," ujar Davi dengan senyuman menggoda.


"Jangan senyum seperti itu! tidak tahukah kamu semalaman aku tersiksa, bercinta dengan wajahmu yang begini membuat aku seakan bercinta dengan jambret yang baru saja di hajar massa," celoteh Zara.


"Hah? apa tidak ada yang lebih keren dari jambret yang di hajar massa?" Davi melongo tak terima.


"Kamu ingin aku mengatakan kamu seperti mafia? seperti tokoh dalam novel misalnya," cetus Davi.


Kening Zara mengernyit, "kamu baca novel?"


Davi menggeleng, "tidak, aku melihatnya di handphone mu," akunya dengan senyuman meledek. "jadi bacaan mu se liar itu ya?!"


Belum juga Zara membela diri tapi Davi sudah bergerak dengan sangat cepat.


Srek! memutar tubuh Zara dan membuatnya seperti bayi yang merangkak membelakanginya tanpa berbicara lebih dulu membuat Zara berteriak kencang, suaranya naik ribuan oktaf karena ulah sang suami.


"Daviiiiiiiii!!!!"


Deg!


Empat orang yang berada di ruang makan tersentak kaget dan saling tatap, Arman bertatapan dengan istrinya begitupula dengan Anaya serta Inaya.

__ADS_1


"Cepat habiskan makan kalian, habis ini kita ke rumah Irman," perintah Arman dengan cepat menyuap makanannya.


*******


__ADS_2