
"Sana masuk, langsung istirahat kalau Dira ngoceh jangan di ladenin." Ipul mengingatkan Zara.
"Tergantung tingkat emosi aja Pul." sahut Zara seraya cengengesan tak jelas.
"Ck, ya sudah yang penting jangan sampai mereka lukain elu, kalau ada apa-apa langsung telepon gue." Ipul berkata tegas kepada gadis yang sudah bisa dia terima sekedar sahabat saja atau Adik, tidak lebih dari itu meski berat namun dia harus mulai melupakan cintanya pada Zara.
"Iyaa, Kakak Ipul." sahut Zara dengan suara di buat manja.
"Gue pulang." ujar Ipul lalu pergi dari hadapan Zara.
Zara melangkah masuk dengan menyiapkan jawaban yang pastinya saat ia masuk nanti Dewi akan mulai menginterogasi dirinya tentang dari mana ia mendapatkan uang sehingga bisa mendaftar di sekolah pramugari.
Benar saja ketika Zara membuka pintu dua orang wanita bertampang sadis itu pun sudah berdiri di ruang tamu seraya menyilangkan kedua tangan mereka ke dada persis seperti dua orang preman yang sedang menunggu kedatangan calon korban mereka.
Zara dengan tenang kembali menutup pintu, pintu belum tertutup sepenuhnya namun telinga Zara sudah mendengar suara Ibu tirinya berkata sengit.
"Dari mana kamu dapat uang untuk sekolah pramugari!?" pertanyaan yang sangat ingin tahu terlontar dari Dewi yang menatap Zara dengan sangat tajam.
"Uang Zara lah Tante, nggak mungkin uang Tante kan!?" Zara menjawab enteng.
"Tuh kan Mah, apa Dira bilang." kata Dira yang memang sudah mengadukan semua tentang Zara pada Mamahnya itu.
"Jawab Zara, dapat uang dari mana kamu?!" Dewi mulai meninggikan suaranya.
"Loh kenapa Tante yang ribet sih, nanyain uang dari mana. yang jelas itu bukan uang Tante!" ketus Zara.
"Jangan-jangan dia jadi simpanan Om-Om." Dira mulai melontarkan tuduhan yang membuat Zara mendelikkan matanya tak terima dengan tuduhannya.
"Elu kali tuh yang simpanan Om-Om." Zara membalikkan tuduhan Dira yang sangat kurang ajar itu.
__ADS_1
"Diam kamu Zara jangan kurang ajar!" membentak anak tirinya.
"Anaknya Tante yang duluan kurang ajar, seenaknya ngoceh nuduh orang tanpa bukti, fitnah itu namanya Tante!" Zara berkata marah tak terima malah dirinya yang disalahkan.
"Sekarang mana uangnya." Dewi malah menanyakan uang milik Zara yang membuat Zara mengernyitkan kening.
"Ngapain Tante tanyain uang saya, nggak ada urusan sama Tante."
"Pinta terus Mah, jangan biarin dia sekolah pramugari." Dira menghasut Mamahnya untuk memaksa Zara menyerahkan uang yang di simpan oleh mendiang Mamahnya untuk dirinya.
"Mana uangnya, cepat serahkan sama Tante, kamu nggak usah deh segala sekolah pramugari." ketus Dewi.
"Iya nggak usah lu pake mau jadi pramugari, nggak cocok! lu tuh cocoknya jadi tukang cuci piring di sekolah." perkataan Dira malah semakin membuat Zara tak tahan mendengarnya.
"Mulut lu bisa nggak di saring dulu kalau mau ngomong? jangan kayak orang nggak punya otak!" bentak Zara kencang dengan matanya yang sudah sangat mengancam Dira, jika gadis itu kembali mengoceh tanpa pikir lagi Zara akan langsung menyerang saudara tirinya itu.
Zara yang sudah kehabisan sabar karena sejak tadi di serang oleh dua wanita yang sifatnya seperti penyihir itu mulai melangkah untuk maju, namun tangannya di cekal oleh Dewi.
"Mau ngapain kamu?!" tanya Dewi tegas.
"Kasih pelajaran buat anak Tante!" sabut Zara tegas.
"Ayo sini maju kalau berani." tantang Dira.
Mendengar perkataan Dira Zara pun langsung mendekati Dira dan menarik rambut saudara tirinya itu dengan sangat kencang hingga Dira menjerit meminta tolong pada Mamahnya.
"Lepas Zara." Dewi mencoba untuk melepaskan tangan Zara dari rambut anaknya namun sulit karena cengkeraman Zara sangat kencang.
"Aduuh Mamah sakit." pekik Dira.
__ADS_1
"Nggak usah nantangin gue kalau cuma di Jambak aja langsung teriakan minta tolong." ketus Zara seraya terus menarik rambut Dira.
"Zara lepaskan anak saya!" bentak Dewi seraya menarik kencang rambut Zara, Zara hanya diam tak bergeming seolah tidak merasakan sakit tentunya karena ia sudah sangat sering mengalami hal ini, dan rambutnya juga sudah banyak yang rontok karena perbuatan dua wanita jahat ini.
"Dasar anak kurang ajar." maki Dewi ketika Zara tidak mendengarkan perkataannya.
"Mamah sakit, nanti rambut Dira rontok." mengadu panik pada sang Mamah yang bingung harus berbuat apa.
Akhirnya Dewi mengambil sapu yang ada di dekatnya lalu memukuli tubuh Zara, dari mulai kaki hingga tangannya agar melepaskan tarikan di rambut Dira.
Pukulan yang di lakukan oleh Dewi membuat tangan Zara akhirnya melepaskan jambakannya di rambut Dira.
"Kamu pergi dari rumah ini sekarang juga!" usir Dewi pada Zara yang berdiri menatapnya.
"Ini rumah Mamah Zara, kenapa harus Zara yang pergi." sahut Zara.
"Saya tidak perduli, cepat kamu bereskan barang-barang kamu!" pekik Dewi dengan suara yang menggelegar kencang.
"Baik Zara pergi, tapi ingat suatu saat Zara akan kembali untuk mengambil rumah ini kembali." ancam Zara lalu berlari menuju kamarnya untuk membereskan barang-barang miliknya.
"Kepala Dira sakit Mah." adu Dira kepada Mamahnya.
"Memang kurang ajar tuh anak." maki Dewi yang sangat kesal pada kelakuan Zara.
"Tapi uangnya gimana Mah?" Dira masih saja memikirkan uang milik Zara.
"Udahlah, nggak penting itu Mamah masih bisa bayarin kuliah kamu nanti." Dewi menenangkan Dira yang ternyata maksudnya menyuruh sang Mamah untuk meminta uang milik Zara adalah supaya dia bisa menggunakan uang itu untuk biayanya kuliah, termasuk untuk menggalakan rencana Zara menjadi pramugari. tapi malah gagal dengan rambutnya yang menjadi korban, rontok berserakan di atas lantai.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1