
Saat sarapan Zara harus terpaksa berlari ke kamar mandi ketika merasakan sangat mual, dua sendok nasi yang baru saja masuk kedalam perutnya dengan cepat keluar lagi hingga benar-benar tidak bersisa.
"Aku tidak mau makan lagi Mas, perut aku mual," keluh Zara ketika Davi menyusulnya.
"Kalau begitu makan roti saja lalu minum susu," tukas Davi membantu Zara mengurut tengkuknya, istrinya itu benar-benar harus bersabar dalam menghadapi kehamilannya.
Zara mencuci wajahnya dengan air lalu bergelayut manja di lengan sang suami saat kembali ke meja makan, Davi segera memberikan roti tanpa selai apapun karena semenjak hamil Zara memang tidak menyukai selai apapun, wanita itu mengatakan tidak suka padahal sebelum hamil apapun jenis selai akan dia oleskan pada roti lalu memakannya dengan lahap, tapi sekarang tidak lagi! wanita hamil terkadang memang sangat aneh dan membingungkan.
Meski perlahan tapi sepertinya perut Zara bisa menerima roti yang Zara makan, mengunyah sedikit demi sedikit hingga roti di tangan hanya tersisa potongan kecil saja.
"Minum susunya," Davi memberikan segelas susu hamil pada sang istri, sekarang pria itu melayani istrinya dengan sangat baik setelah memastikan perut Zara terisi barulah Davi melanjutkan makannya.
"Mas," panggil Zara setelah meletakkan gelas susu yang isinya tinggal separuh.
"Hm," menyahut tanpa melihat pada wanita di depannya.
"Nanti sore Aleyara mau kesini."
__ADS_1
Perkataan Zara secara cepat membuat sendok yang baru akan masuk ke dalam mulut Davi terhenti begitu saja di udara, raut wajahnya pun mendadak berubah dengan sangat cepat ada sebuah ekspresi yang tak bisa terbaca jelas oleh wanita di depannya yang terlihat tidak mau memikirkannya lebih jauh.
"Mas," Zara kembali memanggil sang suami yang malah melamun namun suaminya itu tidak menggubrisnya, tetap tak bergeming hingga membuat Zara menggeser kursinya lalu menyentuh lengan sang suami, "Mas!" kali ini bersuara lebih kencang dan usahanya itupun berhasil.
Davi menoleh pada Zara yang mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Boleh kan kalau Aleyara ke sini?" tanya Zara dengan tatapan yang polos dan berharap.
Davi menghembuskan napas yang saat ini seolah berkumpul di dadanya membuatnya sesak yang teramat, "tidak boleh, dia tidak boleh ke sini dan kamu juga tidak boleh bertemu dengannya, mulai saat ini dan seterusnya," terang Davi.
Dalam sekejap apa yang meluncur dari mulut Davi membuatnya tidak bisa mengerti, bingung berkecamuk di dalam hatinya, kenapa suaminya itu malah melarang dia untuk bertemu dengan Aleyara?
Ting!
Davi melepas sendok yang sejak tadi dia pegang hingga berdenting saat menyentuh piring.
"Aku akan mencari psikolog yang lain, aku pernah memberitahumu tentang Devanya kan? dia sudah kembali, dia juga seorang psikolog terbaik di kota ini, aku akan segera menghubunginya dan memintanya datang," Davi mengingatkan tentang Devanya, teman dari Lugo yang sebenarnya akan menangani Zara, tapi saat itu Devanya sedang keluar kota dalam beberapa waktu hingga akhirnya Zara mencari psikolog yang lain dan Aleyara lah psikolog itu.
__ADS_1
"Tidak mau! aku sudah sangat dekat dengan Aleyara, kenapa harus menggantinya?!" tentu Zara akan bersikeras menentang permintaan sang suami.
"Ayolah Za, jangan seperti anak kecil," cetus Davi.
"Anak kecil? kamu ini kenapa sih Mas? aneh tau nggak? nggak ada hujan nggak ada badai tiba-tiba minta aku buat tidak lagi bertemu dengan Aleyara, padahal kamu sendiri pun tau keadaan aku jauh lebih baik setelah bertemu dengannya," sungguh Zara tidak bisa memahami jalan pikiran suaminya ini, pria itu tanpa alasan yang jelas memintanya untuk tidak lagi berkonsultasi dengan Aleyara, Zara benar-benar tidak mengerti!
Davi membuang napasnya lalu memegang tangan wanita di sampingnya yang malah menepis tangannya, tidak suka dengan sikapnya saat ini.
"Jelaskan padaku kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Aleyara?" tanya Zara tanpa memikirkan kecurigaan apapun, pikirannya terasa sangat buntu dan sulit untuk di ajak berteka-teki tentang alasan wajar yang seharusnya Davi katakan padanya.
Mulut Davi terkatup rapat, tanda dia tidak bisa memberikan jawaban apapun pada istrinya, semuanya terasa tertahan di tenggorokannya tak mau keluar.
Zara mendesah lalu berdiri seraya berkata, "tidak ada alasan apapun bukan? jadi untuk apa aku mengikuti permintaanmu selama aku merasa nyaman dengan Aleyara," celetuk Zara yang kemudian berlalu masuk ke dalam kamar meninggalkan sang suami yang bahkan belum menyelesaikan sarapannya.
Mata Davi mengikuti Zara melihat punggung wanita itu sampai menghilang di balik pintu kamar yang di tutup.
"Aku tidak mungkin mengatakannya Za, Aku tidak mau membuatmu terluka," lirih Davi merasakan cemas dan ketakutan yang datang bersamaan padahal kebahagian baru saja mereka rasakan seiring dengan perubahan Zara dan juga hadirnya seorang anak dalam kandungan istrinya.
__ADS_1
*******