
Zara yang baru saja bisa tidur lelap dan tenang selama 20 menit harus tersentak kaget kala mendengar suara seperti sebuah tonjokan dari arah kamar mandi, wanita itu langsung terduduk dan menatap ke arah pintu yang tertutup rapat dan tubuhnya kembali bergerak kala untuk kedua kalinya telinganya menangkap suara yang sama seperti suara yang membuat ia terbangun tadi.
Bugh..
Bugh..
Dan terus berulang berkali-kali membuat ia memejamkan matanya, ia tahu apa yang terjadi di dalam sana dan siapa yang sudah melakukan hal itu.
Suara itu masih tak mau juga berhenti sampai akhirnya Zara terpaksa turun dari tempat tidur, berjalan perlahan dan terhenyak saat kemudian malah mendengar suara suatu benda yang pecah.
Prang!
Air mata Zara mulai kembali keluar saat berusaha memaksa untuk melanjutkan langkah kakinya, jantungnya sudah berdebar sangat keras ketika sampai di depan pintu menempelkan tubuhnya pada pintu dan telinganya pun mendengar samar suara tangisan dari dalam sana.
Ya Tuhan! suaminya menangis di dalam sana, bukankah itu sebuah hal yang begitu menyakitkan bagi seorang istri kala mendapati suaminya menangis, dan ialah penyebab tangisan dari suaminya itu.
Zara bersandar ke arah tembok dan dalam sekejap tubuhnya pun meluruh ke atas lantai membekap mulutnya berusaha agar tangisnya tidak terdengar oleh sang suami yang juga tengah menangis, ia tahu mereka memang tidak baik-baik saja saat ini.
Davi menyadarkan dirinya yang memang tidak boleh dia menjadi seperti ini, dia seorang laki-laki dan seorang suami, istrinya tentu lebih terluka dari dirinya dia harus bisa mendampingi istrinya itu berusaha mengembalikan keceriaan dari wanita yang sangat berarti baginya, dia tidak akan pernah meninggalkan Zara apapun yang terjadi.
Pria itu mencuci wajahnya lalu membasuh tangan yang terluka dari darah yang masih keluar akibat menghancurkan cermin di depannya yang kini sudah tak lagi utuh, pecahannya juga berhamburan di dekat kakinya harus segera membersihkannya karena tidak ingin Zara terluka oleh pecahan cermin itu.
Dia punguti satu persatu benda yang terlihat tajam itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam kamar mandi, setelah semuanya bersih diapun kembali mengguyur tangannya yang masih mengeluarkan darah, tentu saja darah itu akan tetap keluar jika belum di obati dan di pakaikan perban sebab lukanya juga terlihat cukup dalam.
__ADS_1
Davi memperhatikan tangannya lalu menarik nafas, harus segera mengobati luka yang sudah dia buat sendiri sebelum dilihat oleh Zara.
Pria yang tadinya berniat untuk mengobati lukanya itu malah menghentikan langkahnya kala dengan samar telinganya mendengar suara tangisan yang tertahan dari arah luar, tangan yang sudah memegang handel pintu pun menjadi kaku bagaikan sebuah patung, tanpa perlu menajamkan telinganya dia pun membuka pintu sangat yakin bahwa itu adalah suara istrinya.
Istrinya tengah menangis saat ini, begitu tergesa membuka pintu dan terhenti saat mendengar suara tangis yang begitu pelan namun sangat dekat dengannya, gegas menoleh ke samping.
"Za," serunya berjongkok di depan sang istri yang duduk seraya bersandar sambil menutup mulutnya, air mata sudah membanjiri kedua mata wanita itu yang terus menunduk tak melihat padanya.
"Aku bodoh, seharusnya aku terus melawan, bukankah sebaiknya aku mati saja daripada membiarkan pria itu mengotori tubuhku." lirih Zara di tengah tangisan yang menyamarkan suaranya.
"Za!" Davi membentak Zara yang seenaknya berkata ngelantur seperti itu, berkata lebih baik mati.
Sungguh Davi tidak pernah membayangkan seperti apa hidupnya jika kehilangan Zara selamanya, lebih baik seperti ini asalkan Zara masih ada di depan matanya, ketimbang harus menyaksikan jasad istrinya itu di timbun oleh tanah, sungguh dia tidak pernah berpikir hal itu sekalipun. biarlah semua ini menjadi mimpi buruk bagi mereka dan mereka pun nanti akan terbangun dari mimpi buruk itu.
"Jangan pernah sekalipun berkata hal bodoh seperti itu," kata Davi seraya ikut duduk dan memeluk sang istri dengan segala kehangatan yang dia miliki.
"Bagaimana kalau aku hamil?" kali ini Zara mengangkat wajahnya yang sudah terlihat begitu menyedihkan, kacau dan sangat berantakan, menatap pada manik mata sang suami yang juga menatapnya dengan dalam.
"Bagaimana jika aku hamil?" Zara mengulangi pertanyaannya ketika Davi hanya diam tak bersuara, wanita itu merasa membutuhkan jawaban untuk kerisauan sekaligus kecemasan yang sejak semalam ia pikirkan.
__ADS_1
"Aku akan tetap bersamamu, jadi jangan pernah bertanya hal seperti itu, kamu istriku dan jika hamil itupun adalah anakku," sahut Davi tenang seraya menghapus air mata dari wajah istrinya.
Zara menahan tangan Davi dan menatap dengan mata yang begitu sendu.
"Aku memang istrimu, tapi bagaimana jika aku hamil dari pria itu, tentu ini bukan anakmu, aku tidak yakin kamu akan mau menerimanya!" seru Zara keras di pagi hari itu.
"Berhenti berbicara lagi, sebaiknya kamu istirahat sekarang. tidurlah karena semalaman kamu tidak tidur," kata Davi seraya beranjak bangun lalu bersiap untuk mengangkat tubuh istrinya, namun Zara menghentikan ia melihat tangan suaminya yang terluka darah juga masih keluar sedari tadi dan mengenai baju yang ia pakai.
"Aku akan mengobatinya," tutur Davi dengan tanpa ekspresi kesakitan padahal luka di tangannya itu setidaknya perlu beberapa jahitan.
Pria itu mengangkat tubuh wanitanya dan membawa ke tempat tidur, dengan telaten memakaikan selimut dan menepuk pipi halus Zara yang tampak pucat lalu setelahnya keluar dari kamar.
Zara menatap punggung sang suami yang mulai menghilang di balik pintu, punggung seorang pria yang hatinya saat ini tengah terluka atas apa yang terjadi, membuat ia lagi-lagi harus menangis sampai dadanya merasa sangat sesak.
__ADS_1
****